Skip to main content

Sarkas

Mungkin memang saya yang terlalu baik, saya yang bodoh, saya yang terlalu naif, dan saya yang selalu berpikir optimis. Semua ucapan orang yang memperingatkan agar selalu hati-hati... Saya abaikan. Saya mau tidak mau menerima semua resiko walaupun kini saya tahu rasanya.

Dunia itu kejam dan saya seharusnya tahu. Saya seharusnya mendengar setiap rambu yang ditujukan kepada saya.

Rasanya?

Marah. Sedih. Merasa bodoh. Semua menjadi satu.

Saya kini tahu seperti apa diri anda yang sesungguhnya. Anda.... bukan hanya seorang, tapi kumpulan orang yang sejenis. Hah, ternyata, wajah kalian pun bukan hanya dua. Namun terbagi menjadi seratus. Kalian dengan eloknya berganti wajah pada setiap orang. Ternyata, mulut manis kalian tidak semanis yang selama ini saya dengar. Mulut kalian memang manis di depan saya, tapi pahit di belakang saya. Ternyata, kalian bahkan kejam antar sesama kalian. Sangat tidak manusiawi.

Lalu,
Apakah saya masih pantas menyebut kalian manusia?

Kalian senang menyerang orang lain tetapi ironisnya, kalian juga berpura-pura menjadi yang diserang. Ditambah, orang-orang pun memercayai wajah malaikat dibalik sifat iblis yang kalian miliki.

Saya kini sadar.

Saya kini tahu.

Kalau semakin saya dewasa maka dunia akan semakin kejam.

Apalagi dengan makhluk-makhluk seperti kalian.

Yang semakin menguasai dunia.

Saya di sini sangat berterima kasih, berkat kalian saya menyadari kesalahan saya untuk percaya bahwa kalian mempunyai kesempatan kedua. Berkat kalian, saya tahu harus lebih berhati-hati kepada siapa saya berbicara.

Terima kasih, air mata yang sudah terbuang sia-sia karena kalian semua sudah menyadarkan saya.

Semoga Tuhan segera memberi hidayah-Nya kepada kalian semua, semoga aniaya yang kalian lakukan terhadap para korban segera dimaafkan. Saya hanya bisa mendoakan kalian semua.

Satu lagi....
Semoga wajah kalian bisa menyatu dan mulut kalian mampu menjadi manis.

Salam sayang,
Nita.

Ps: Saya menunggu kalian untuk menusuk saya dari depan.

Comments

Popular posts from this blog

(Different) Twins

Dear Nadia, I never thought that I can befriend with you. It's nice having a good friend, a dear good friend, that's an introvert version of my self. You're the INTP and I'm the ENTP, so I'm feeling like you know me better than anyone else. As I said earlier to you, maybe we're like twins. It's just the one tiny different that makes us different, and I'm glad with it. Honestly, before I met or knew you, I thought you're an arrogant and selfish woman because you look soooooo quite and you're classy (SERIOUSLY), LOL. Even before our introduction, I always love your sense of fashion... Your sense of fashion is a little bit similar to me. And once again, I think we're twins from different womb, lol. But then things changed and we met. It was a little bit awkward at first but I still remember how we think about the same thing at the same time, and before I knew you're an INTP, I had this feeling that you're like me, something about you r...
((relapse)) Kalo diinget, gue nggak pernah nangisin ini cowo, atau biarin emosi gue luber. Mungkin itu alasannya gue susah move on, ya? Gue kebanyakan menekan emosi gue selama ini, memilih diam, menghilang. Tapi tanggal 27 Agustus 2026 kemarin, tau-tau gue menangis. Bukan yang histeris hingga sesak napas, tapi air matanya keluar begitu aja tanpa henti. Mungkin akan ada kambuh berikutnya. Tapi gue jadi semakin yakin lagi dengan kapasitas diri gue ketika mencintai. Kalo gue bisa mencintai orang lain sedalam itu, maka gue tau, gue juga berhak dicintai orang lain sedalam itu dan gue tau orang itu akan selalu mengusahakan gue sesederhana karena takut kehilangan gue.

OHANA

Haiiiii! This time, I'm too excited to tell you about my OHANA a.k.a Family. Seperti yang kalian udah baca di postingan pertama gue, Sisterhood Last Forever, kalian tahu kalo gue itu anak bontot, anak yang paling kecil, anak bungsu. Di post itu gue udah menceritakan tentang Mba Tita dan Mba Andes. Tapi... rasanya ngga lengkap kalo hanya mereka yang diceritakan. Left - Right: Mba Andes, Mama, Me, Mba Tita di suatu acara pada tahun 2011 Mama gue itu rambutnya selalu aja pendek. Dulu waktu gue masih 5th rambutnya masih panjang sihh, tapi sejak itu juga rambutnya jadi pendek :p Sedangkan Mba Tita dan Mba Andes itu dulunya ngga hijabers. Rambut mereka sebelum pake jilbab itu.... Badai. Angin topan. Wuss. Tsunami. Tapi sejak selesai kuliah dan udah beberapa bulan kerja, kira-kira pas gue kelas 2 SD mereka baru pake jilbab. Gue akan seperti mereka kalo udah sukses. Hehe Left - Right: Me, Mba Andes, Eyangti, Mba Tita, Mama di Lebaran tahun 2012 Di foto yang diata...
Kita memang nggak bisa menyelamatkan orang lain kalau orang itu nggak mau diselamatkan, kan? Sebesar apapun rasa cinta gue ke dia, gue nggak akan bisa memberikan itu semua dan dia nggak akan bisa menerimanya. Karena dia tidak mencintai dirinya sendiri terlebih dahulu. Gue bisa memeluk lukanya, apabila dia sudah berani memeluk lukanya sendiri. Gue bisa memberikannya cinta terbesar yang pernah dia rasakan, apabila dia sudah mampu mencintai dirinya sendiri.
Just when I about to send the message, a sudden realization come to me. Thus, I shall keep my pride. However, My heart can't lie. My brain can't lie. So, with the little prayer, I shall say... A year has passed. May you always find good things in life. Have a blast.