Skip to main content

Teruntuk Mereka


Untuk Bagas dan Sofyan,

***
Aku memang hanya anak kota.
Dibesarkan di antara gedung tak bermuara.
Dikelilingi hiruk pikuk yang membuat sengsara.
Jarang sepi dan dipenuhi suara.


Sulit tatap rembulan di malam.
Hingga sinar jingga matahari terbenam.
Bersua dengan bintang pun tak bisa hingga tenggelam.


Anak gedung, itu kata mereka.
Benar, karena hanya dikelilingi pualam dan kaca.
Katanya, sulit untuk merasa peka.
Dengan kondisi sekitar nun membuat buta.


Aku memang anak kota,
Terlalu dimanja dan ditunjang hidupnya.
Mudah bepergian dan berkelana.
Dan terkadang egois dan pelupa.
Bahwa sebenarnya kita hanyalah manusia.
Seonggok daging bernyawa,
Bukankah itu adalah kita?


Ironis bagaimana hidup itu punya kelas.
Disaat yang satu bekerja, yang lainnya tidur pulas.
Disaat yang satu berdagang, yang lainnya berada di kelas.
Disaat yang satu ingin belajar, yang lainnya merasa malas.


Anak kota mungkin memang penuh dosa.
Hidup menikmati dunia mengangkasa.
Seakan-akan memiliki antariksa.
Acuh padahal sebangsa.
Berucap dengan bisa,
Hingga membuat orang berbusa.
Intinya... menjadi berkuasa.
***


Semoga nanti kita bersua lagi, ya. Kakak mau bantu kamu, kakak mau jadi kakak kamu. Belajar, supaya hidupmu bisa bahagia. Bermimpilah, jangan takut untuk terbangun.

Comments

Popular posts from this blog

(Different) Twins

Dear Nadia, I never thought that I can befriend with you. It's nice having a good friend, a dear good friend, that's an introvert version of my self. You're the INTP and I'm the ENTP, so I'm feeling like you know me better than anyone else. As I said earlier to you, maybe we're like twins. It's just the one tiny different that makes us different, and I'm glad with it. Honestly, before I met or knew you, I thought you're an arrogant and selfish woman because you look soooooo quite and you're classy (SERIOUSLY), LOL. Even before our introduction, I always love your sense of fashion... Your sense of fashion is a little bit similar to me. And once again, I think we're twins from different womb, lol. But then things changed and we met. It was a little bit awkward at first but I still remember how we think about the same thing at the same time, and before I knew you're an INTP, I had this feeling that you're like me, something about you r...
((relapse)) Kalo diinget, gue nggak pernah nangisin ini cowo, atau biarin emosi gue luber. Mungkin itu alasannya gue susah move on, ya? Gue kebanyakan menekan emosi gue selama ini, memilih diam, menghilang. Tapi tanggal 27 Agustus 2026 kemarin, tau-tau gue menangis. Bukan yang histeris hingga sesak napas, tapi air matanya keluar begitu aja tanpa henti. Mungkin akan ada kambuh berikutnya. Tapi gue jadi semakin yakin lagi dengan kapasitas diri gue ketika mencintai. Kalo gue bisa mencintai orang lain sedalam itu, maka gue tau, gue juga berhak dicintai orang lain sedalam itu dan gue tau orang itu akan selalu mengusahakan gue sesederhana karena takut kehilangan gue.

OHANA

Haiiiii! This time, I'm too excited to tell you about my OHANA a.k.a Family. Seperti yang kalian udah baca di postingan pertama gue, Sisterhood Last Forever, kalian tahu kalo gue itu anak bontot, anak yang paling kecil, anak bungsu. Di post itu gue udah menceritakan tentang Mba Tita dan Mba Andes. Tapi... rasanya ngga lengkap kalo hanya mereka yang diceritakan. Left - Right: Mba Andes, Mama, Me, Mba Tita di suatu acara pada tahun 2011 Mama gue itu rambutnya selalu aja pendek. Dulu waktu gue masih 5th rambutnya masih panjang sihh, tapi sejak itu juga rambutnya jadi pendek :p Sedangkan Mba Tita dan Mba Andes itu dulunya ngga hijabers. Rambut mereka sebelum pake jilbab itu.... Badai. Angin topan. Wuss. Tsunami. Tapi sejak selesai kuliah dan udah beberapa bulan kerja, kira-kira pas gue kelas 2 SD mereka baru pake jilbab. Gue akan seperti mereka kalo udah sukses. Hehe Left - Right: Me, Mba Andes, Eyangti, Mba Tita, Mama di Lebaran tahun 2012 Di foto yang diata...
Kita memang nggak bisa menyelamatkan orang lain kalau orang itu nggak mau diselamatkan, kan? Sebesar apapun rasa cinta gue ke dia, gue nggak akan bisa memberikan itu semua dan dia nggak akan bisa menerimanya. Karena dia tidak mencintai dirinya sendiri terlebih dahulu. Gue bisa memeluk lukanya, apabila dia sudah berani memeluk lukanya sendiri. Gue bisa memberikannya cinta terbesar yang pernah dia rasakan, apabila dia sudah mampu mencintai dirinya sendiri.
Just when I about to send the message, a sudden realization come to me. Thus, I shall keep my pride. However, My heart can't lie. My brain can't lie. So, with the little prayer, I shall say... A year has passed. May you always find good things in life. Have a blast.