Ternyata, gue lumayan dikelilingi manusia yang iri dengan kehidupan gue. Entah iri karena bos gue izinin untuk bisa wfh, gaji negotiable yang cukup besar untuk wanita seusia gue, bahkan karena semudah itu mendapatkan cuti. Padahal, gue yakin uang yang masuk ke gue serta waktu kerja fleksibel itu adalah rezeki untuk anak-anak gue supaya gue bisa membersamai mereka. Gaji gue besar, karena gue menanggung mereka, termasuk membiayai kedua orang tua gue yang udah lanjut usia. Gue bisa cuti selama sebulan penuh juga karena hasil negosiasi memperjuangkan hak gue, udah knowledge transfer sebelumnya, dan menyelesaikan pekerjaan yang bisa diselesaikan. Mereka hanya melihat enaknya, sementara mereka nggak lihat gue juga bekerja hingga dini hari, workload numpuk, menjadi palu gada, masuk ke RS karena pendarahan saat hamil 7 bulan karena kelelahan bekerja. Gue pantas mendapatkan gaji, kerja fleksibel, dan cuti karena gue kerja nggak ada jam pasti dan hasil kinerja gue juga cukup bagus. Ada juga, yan...