Skip to main content

Posts

Worthy Soul

I like deep hugs. I like holding hands. I like unexpected kisses. I like to be clingy. I want it everyday. I want to be loved, seen, heard, wanted, and needed. I want intimacy, connection, feeling warm and safe. I want a bond, soul to soul. A real love. Not a lust. I was kissed and hugged by love, several times, years ago in juvenile times. I was kissed and hugged by lust, several times in adult times. They longed for more hugs and kisses, they craved me. Some came from the intimacy and connection built in trust and affection, the rest... came from lust. As a lover woman, I know the difference, I could feel it... and I hate how lust could tainted the intimacy, connection, and the bond of souls. I hate how lust could made it as if an assault where I was only an object, not a subject. I hate how intimacy and connection eventually could became a lust. I miss to feel the sacred of love, where it overflows with intimacy and connection. Where eyes could speak to another eyes, without needing...

I Feel Gorgeous Today

I just bought a new lipstick. Warnanya shade orange-coral, which means... back to BASIC ❤️ Dulu ya, aku gak mau banget pakai lipstik. Pertama, aku takut banget pake lipstik karena takut keracunan. Efek kebanyakan nonton CSI, Criminal Minds, dan serial crime lainnya. Kedua, aku gak suka dibilang genit dan centil. But, along the way, ternyata aku memang mengakui diriku ini genit dan centil. Aku senang terlihat cantik, menawan, well dressed, well groomed. Kepercayaan diriku tinggi banget kalau aku lagi pakai pakaian yang terlihat rapih, color coordinated, stylish; diikuti dengan rambut yang mengkilap, lembut. Kadang dicatok keriting, kadang hanya blow-out dan emphasize rambut lurus naturalku; wajah yang dipoles makeup mulai dari bibir, polesan blush-on, maskara, eyeliner; dan nggak lupa... aroma harum spicy dan floral yang tercium mulai dari tubuh dan rambutku. Kalau aku lagi terlihat well dressed dan well groomed, banyak orang yang memperhatikanku dengan seksama. Mulai dari dipermudah me...
Tonight's self note: I meant nothing to him. Never ever meant something to him. I was no one, nobody, not as a friend, or anything else. I am irrelevant to his life, meanwhile he is relevant to mine. That's the bitter truth  highest chance of assumption that I finally realize NOW, after putting him deep in my mind for a decade. He's trully the love that makes me grow in silence. :)

To The Boy I've Loved Before. PS: I Still Love You

Hai, kali ini aku akan menuliskan tentang kamu, langsung ditujukan untuk kamu, bukan memakai bahasa yang tersirat lagi. Kamu mungkin nggak akan pernah baca ini, dan aku pun nggak tahu kenapa aku menulisnya malam ini. Tapi rasanya aku perlu menulis sesuatu untuk kamu — bukan untuk membuka luka, mengenang perasaan sakit, tapi untuk menenangkan hatiku sendiri. Karena ada bagian dari diriku yang tetap hangat, hidup, pulih, dan bahagia setiap kali aku mengingatmu. Aku yakin, kamu nggak akan mengingat awal pertemuan kita. Karena aku hanyalah orang asing saat itu, cewe berambut lurus, berponi, memakai kacamata yang terlihat medioker. Tapi aku ingat bagaimana aku melihatmu (kamu bisa baca dirimu sendiri di The 10 Years Journey of a Lover Girl ). Aku mau menceritakan lebih detail bagaimana pertemuan kedua kita yaitu saat aku masuk ke dalam kelas Bahasa Inggris di kelas pra-kuliah, dan aku melihatmu duduk menunduk, memegang pulpen, memakai jaket merah MU dan menatap ke arah binder note merah MU ...

Peran Kakak: Cepuin Adeknya, Pembuka Komunikasi ke Mama

Jadi, baru banget banget banget banget sore ini, ibuku tiba-tiba bertanya ke aku, "kamu masih membuka hati kan?" Aku balik tanya, "hah, maksudnya?" "Karena kamu udah gagal sebelumnya, kamu masih buka hati, kan? Harusnya, kalau memang dari awal prianya yang bermasalah, biasanya wanita itu akan gampang buka hati," kata mamaku. "Jangan sampai kamu menutup hati untuk coba hubungan baru." "Hmmm, masih, sih..." kataku tapi tiba-tiba tertawa geli, tersenyum lebar mengingat bagaimana aku pernah menelepon kakakku sambil sesenggukan dan tertawa. "Kok masih, sih? Kenapa ketawa coba?" "Ya, well... masih buka hati, kok. Aku cuma lagi keingat waktu aku telepon mba sambil nangis-ketawa di kantor," jawabku. "Oh, ya? Kenapa?" tanya mamaku (padahal sebenernya udah diceritain sama kakakku). "Ya, well...  hatiku memang sebenernya bukan untuk dia, sih. Tapi untuk orang lain," kataku, menyiratkan juga kalau aku memang ...

That Fangirling Moment When They Talk About F1 (3.0) - ADULT VERSION

 I rarely talk about F1 here, but here are the updates: 1. Sebastian Vettel is retired and now he LOVES to ride bike. Model sepedahan yang tracknya ekstrem, bukan sepedahan keliling kompleks yang santai dan berlanjut ngopi. 2. Daniel Ricciardo is also retired and he sells wine now, lol. OH HOW MUCH I MISS HIM ON THE TRACK, humornya yang receh membuat F1 less drama. Dulu pas masih ada Ric, seru banget karena dia selalu ngelucu (bahkan di saat dia ga mencoba untuk jadi lucu). 3. Max Verstappen is a DAD now! He's a step dad to Penelope, too, so basically he is a dad of 2 daughters now. Thanks God that he has DAUGHTER instead of son, karena, kebayang kan kalau dia membentuk Max Verstappen versi 2.0 dari kecil (just like his father, Jos Verstappen, did to him). Jadi keinget, how I grow up with Max Verstappen juga. Kami kan seumuran, dulu dia masih rookie driver dengan segala potensi. Terus sekarang liat dia udah punya anak, akupun udah dewasa dan punya anak juga. Cepat banget waktu berl...

How a Thing Ended

a convo that ended thing: Kalau gue bisa mencintai sedalam itu, maka ada cowo yang bisa mencintai gue sedalam itu juga. Kalau gue gak terbiasa memaki ataupun berteriak saat sebal, maka akan ada cowo yang kaya gitu juga ke gue. Kalau gue gak bisa membentak, maka gue juga pantas untuk nggak dibentak. Kalau gue terbiasa berbicara lembut, maka ada cowo yang berbicara lembut ke gue. Gue gatau siapa, kapan, dan di mana... tapi yang jelas, cowo itu ada. Cowo dengan sifat-sifat itu ada. Karena gue pun ada. Jadi harusnya ada gue dalam versi cowo. Gue pantas mendapatkan cinta seperti itu. Tentu, pasti nanti gue akan berantem sama cowo itu. Saling mengecewakan, buat sebel. Tapi gue rasa, permasalahan gue dan cowo itu nggak akan toksik seperti kita. Bahkan dulu awal kita kenal, gue pernah bilang ke lo: "kita ga akan bisa ngomong aku-kamu. Bagi gue, itu adalah tutur bahasa sopan, menghargai, halus, dan penuh makna. Gue gak mau, ketika kita lagi berantem, dari yang awalnya aku-kamu, jadi gue-lo...