Skip to main content

Peran Kakak: Cepuin Adeknya, Pembuka Komunikasi ke Mama

Jadi, baru banget banget banget banget sore ini, ibuku tiba-tiba bertanya ke aku, "kamu masih membuka hati kan?"

Aku balik tanya, "hah, maksudnya?"

"Karena kamu udah gagal sebelumnya, kamu masih buka hati, kan? Harusnya, kalau memang dari awal prianya yang bermasalah, biasanya wanita itu akan gampang buka hati," kata mamaku. "Jangan sampai kamu menutup hati untuk coba hubungan baru."

"Hmmm, masih, sih..." kataku tapi tiba-tiba tertawa geli, tersenyum lebar mengingat bagaimana aku pernah menelepon kakakku sambil sesenggukan dan tertawa.

"Kok masih, sih? Kenapa ketawa coba?"

"Ya, well... masih buka hati, kok. Aku cuma lagi keingat waktu aku telepon mba sambil nangis-ketawa di kantor," jawabku.

"Oh, ya? Kenapa?" tanya mamaku (padahal sebenernya udah diceritain sama kakakku).

"Ya, well... hatiku memang sebenernya bukan untuk dia, sih. Tapi untuk orang lain," kataku, menyiratkan juga kalau aku memang membuka hati ke siapapun, walaupun sulit karena sebenarnya yang ada di hatiku cuma 1 orang itu selama ini. Selalu, deh, pembahasan tentang dia beneran membuatku mau tersenyum terus. Aku harus kontrol diriku sekeras mungkin supaya aku nggak cengengesan di depan mamaku, terutama karena aku jarang banget membicarakan hal romansa ke mamaku, khususnya tentang 1 orang ini.

"Mama tau, temen kamu yang xxxxxxx itu, kan?" kata mamaku (lagi,sebenernya mamaku udah diceritain sama kakakku).

"Lho, mama udah tau?" tanyaku. "Mba cerita ke mama?"

"Iya, mba cuma bilang, 'Nita sih senangnya sama yang itu'," jawab mamaku. "Kenapa ga coba aja sama dia? Kenapa ga sama dia dari dulu? Kenapa harus terjebak dulu sama orang yang salah... Mama aja bingung, apa yang kamu liat dari orang itu?"

Aku hanya tertawa mendengarnya. Aku ingat bagaimana aku pernah sekilas menceritakan dia ke mamaku, dan bagaimana mamaku menilai teman-temanku saat itu, termasuk dia.

"Kenapa ga kamu coba aja sama dia sekarang?" tanya mamaku.

"Hmm, gatau, ma."

"Tapi dia ada perasaan juga ke kamu? kalau mama dulu, kan, memang jelas sama-sama suka," kata mamaku lagi.

"Gatau juga, sih," jawabku. Karena yang aku tahu selama ini, kan, memang hanya aku yang menempatkan dia di hati terdalamku.

"Kadang memang ada cowo yang bingung maunya apa, jadi memang harus dimulai duluan sama yang cewe. Keburu telat, entah dia punya cewe atau menikah, atau malah kalian terpisah karena meninggal. Tapi, mama harap kamu realistis juga. Kalo emang dia nggak kelihatan mau kamu, maju untuk kamu, kamu harus berikan kesempatan itu ke cowo lain. Karena, sebenarnya cowo itu banyak, kok."

"Hmmm, aku gatau, sih. Mungkin juga dia ga pernah maju ke cewe karena kondisi dia," kataku.

"Tapi, kamu udah tau dari awal, kan? Dan kamu bukan kabur karena itu?"

"Iya, aku udah tau dari awal. Bukan karena itu, sih."

"Apa dia udah ada cewe?" tanya mamaku.

"Gatau, kayanya belum. Keliatannya belum. Kalo kata teman-temanku belum," jawabku. Aku memang mendengar tentang dia sekilas dari teman-temanku, tapi mengingat aku pernah menjadi salah satu lingkarannya, aku rasa... aku masih memahami polanya sekilas. Jika memang ada '1 orang' yang ada di dalam hati dia, pasti akan terlihat/terdeteksi, dan intuisiku memang mengatakan belum ada '1 orang' itu di hidupnya. Aku rasa, dia bukan tipikal orang yang akan semudah itu menemukan '1 orang' tersebut. Pastinya ada dia tertarik dan mendekati para wanita lain, karena memang kita kan hanya makhluk sosial yang senang perhatian. Tapi, buat '1 orang' yang ada di hatinya dan menjadi cewenya... aku rasa memang belum ada. Somehow, aku masih merasakan, kalau dia sudah punya cewe, artinya dia sudah all or nothing dan yakin dengan orang itu, kaya mantan SMA-nya. Mungkin juga, memang ternyata dia juga masih gamon dengan mantan SMA-nya, kan? (Kaya mantan SMA-ku yang gamon sama aku). Bisa jadi, persepsiku tentang dia salah dan aku ternyata memang tidak mengenalnya, hehe. Biar bagaimana pun, bisa jadi memang dia sekarang adalah orang dewasa yang berbeda dari yang aku kenal saat remaja dulu.

"Ngobrol langsung, jangan antara teman-teman gitu," kata mamaku. "Dia udah tau kondisi kamu? Udah tau kamu pisah?"

"Mungkin? Harusnya sih udah, kan, teman-temanku juga teman-teman dia."

"Teman-teman kamu ada yang pernah coba pertemuin kalian biar kalian ngobrol?"

"Pernah dulu sekitar bulan Juli 2024, tapi gagal. Tapi aku juga baru mulai ngobrol normal sama dia lagi tahun 2024 dan 2025 lalu. Sejak 2019-2023, kita selalu ketemu tiap tahun tapi aku nggak ngobrol sama dia," jawabku. "Aku gatau ke depannya akan bagaimana sebenarnya, ma. Kalau dikasih kesempatan, alhamdulillah."

Lalu aku bercerita ke mamaku, momen di mana anak pertamaku merangkak ke arah dia waktu anakku pertama kali bertemu dia. Aku menceritakan bagaimana dia menerima anakku di dalam rangkulannya, lalu teman-teman kami meledekku. Tentu saja aku, the original lover girl, menceritakannya sambil tersenyum. Mamaku juga ikut senyum mendengarnya.

"Allah itu Maha Adil, karena setiap manusia ada kurangnya. Kaya kamu, dari sekolah, kuliah, kerja, semuanya bagus, tapi justru kejeblos sama orang yang salah. Ada orang yang punya semuanya, tapi kondisi kesehatannya tidak mendukung. Ada yang badannya kuat dan sehat, tapi sekolahnya hancur," kata mamaku. "Kamu kalau cari cowo, cari yang bisa menerima keadaan kamu, kekurangan kamu. Kamu pun harus bisa menerima keadaan dan kurangnya cowo, asal cowo itu bukan orang yang kasar, tau sopan santun.

"Mama harap, kamu akan berpasangan sama cowo yang bisa memimpin kamu, sayang banget sama kamu, nggak kasar sama kamu," kata mamaku lagi.

***

            Intermezzo.

            Dulu waktu aku remaja, aku pernah cerita sekilas ke mamaku, nenekku, bahkan budeku tentang dia. Ceritaku dulu, "jadi aku punya teman. Dia keren banget, pintar banget, keluarganya juga kelihatan dari keluarga baik-baik karena dia well educated juga. Orangnya penyabar, cara ngomongnya sopan, humornya bapak-bapak banget -garing, tapi lucu buat yang ngerti, badannya lebih tinggi dari aku, cita-citanya dulu mau jadi dokter, jadi aku liat dia cukup punya prinsip yang disiplin sama dirinya sendiri, walaupun karena dia udah jenius, dia effortless banget kalo belajar. Aku dan dia berteman dalam grup pertemanan yang sama, kita semua sering banget belajar bareng dan menghabiskan waktu bareng-bareng. Aku mau jadi kaya dia, jadi sekeren dia. Temanku ini lumayan moody dan pendiam, jadi kadang memang susah menebak yang dia pikirkan walaupun pasti akhirnya dia akan bilang ke aku juga dia lagi kenapa."

            Sebenarnya, dulu, aku melihat dia seperti seseorang yang sedang bersembunyi dibalik bayangannya sendiri. Sampai aku dulu bertanya-tanya, 'sosok seperti apa dia dulu? Apakah dulu dia anak yang ceria? Apakah dia anak yang aktif nggak bisa diem? Apakah dia memang secerdas ini dari dulu?' Tapi, dibalik bayangannya itu juga aku selalu melihatnyta sebagai sosok yang menenangkan, mengemong (apa ya bahasanya, tipikal sifat yang bisa dijadikan panutan karena jadi acuan untuk yang lebih muda), dan bercahaya tanpa dia ingin bercahaya.

            Lalu, mamaku, nenekku, dan budeku, minta ditunjukkan fotonya, dan tentunya... remaja picisan yang nggak sadar kalau waktu itu mereka bahkan udah bisa melihat kalo aku menyukai dia (walaupun udah aku tegaskan dalam kalimat-kalimatku, kalau kami hanya 'teman,' karena.. who wouldn't guess kalo aku ceritanya sambil nyengir lebar), aku tanpa ragu menunjukkan fotonya.

            "Dia orang xxxxx, ya?" tanya nenekku.

            "Iya! Kok, eyang bisa tau?"

            "Tau, dong. Tipikal bentuk wajahnya, matanya, mulutnya," kata nenekku.

            Kalau ke mamaku, aku lumayan beberapa kali menceritakan tentang dia. Bukan hal yang dalam, melainkan hal-hal sederhana seperti:

            1. "Dia pinter dan keren banget, ma. Aku nggak bisa deh kaya dia."

            2. "Aku sangat kesulitan mempertahankan nilai-nilaiku, aku harus belajar ekstra. Tapi, dia hanya cukup belajar sekilas."

            3. "Kayanya kalo dia jadi dokter beneran, aku nggak akan bisa kenal dia, deh."

            4. "Anak kaya aku disuruh masuk FKUI, bude pun juga yakin aku bisa. Padahal aku nggak bisa, aku nggak pinter. Yang pantas masuk FKUI itu dia."

            5. "Dia otaknya encer, tapi seninya juga bagus, ma. Kaya balance gitu otaknya."

            6. "Ternyata papanya dia termasuk tim dokter yang bantu evakuasi di gunung Salak yang dekat rumah keluarga, ma."

            7. "Aku jadi asdos MK 1, ma. Dia juga, xxx, yyy, zzz juga."

            8. "Aku ada lomba di Purwokerto, bareng sama dia tapi dia beda tim sama aku."

            9. "Dia udah ambil skripsi duluan, ma. Aku belum."

            10. "Dia, xxx, yyy, zzz udah wisuda, ma."

            Sewaktu buka puasa di rumahku, aku nggak menyangka dia akan hadir juga mengingat lokasi rumahku yang jauh dari rumah dia dan kondisi kesehatannya menurutku cukup rentan saat itu. Ketika dia dan teman-temanku datang dan bertemu mamaku, beliau tahu, dialah teman yang aku maksud di dalam cerita-ceritaku. Saat itu, aku berusaha sekeras mungkin nggak keceplosan bilang, "ma, ini temanku yang aku ceritain."

            Komentar mamaku saat itu hanya, "anaknya sopan, ya."

***

Betapa aku sangat ingin bercerita ke mamaku, efek dia di hidupku masih terasa sampai sekarang. Aku bisa tetap maju, tahu apa yang aku mau, jenjang karier meningkat, bertahan, mencoba menjadi versi terbaik diriku setiap harinya dalam berbagai aspek, karena aku teringat dia. Bahkan, mendengar namanya yang pasaran pun, membuatku tersenyum getir. Melihat sosok yang posturnya mirip seperti cara dia berdiri, duduk, menunduk, aku bisa berdebar. Pertemuan tiap tahunnya walaupun kami hanya berdiam diri, sudah membuatku cukup senang. Momen di mana akhirnya kami bisa berbicara lagi sewaktu 2024 dan 2025 lalu, juga momen yang paling membuat diriku berada di puncak rasa pulih, tenang, dan senang. Menulis tentang dia di blogku adalah bagian dari diriku yang ingin terus menempatkannya sebagai sosok istimewa, karena akupun baru merasakan sendiri- "oh, ternyata Nita memang bisa sedalam ini, ya." Tapi, aku nggak mungkin ceritakan ini ke mamaku, karena... ini... cringe. Walaupun yang aku rasakan memang benar rasanya, tetap saja rasanya... cringe. LOL.

Comments

Popular posts from this blog

Keputusan Besar

Just like that. We finally decided that we'll go on our own way. :) Lega. Campur aduk. Deg-degan. Nggak ada perasaan sedih ataupun marah. Tapi, aku memang penasaran.. apakah aku dan pasanganku bisa memulai hidup sendiri tanpa kehadiran satu sama lain? Pasanganku saat ini memang banyak membawa pelajaran hidup. Dia membuatku menjadi lebih melihat dunia, lebih luwes, lebih santai, bisa tertawa daripada pusing memikirkan berbagai hal, dan bisa beristirahat sejenak. Sifat negatifnya pun banyak sekali, yang melatar belakangi aku memikirkan kembali hubungan ini. Rasanya, sudah cukup kami mendapatkan pelajaran masing-masing. Kami sama-sama mengakui, kami tidak bisa melihat masa depan kami secara bersama. Kami saat ini hanya menjalani rutinitas yang sudah terbiasa karena terbentuk bertahun-tahun. Kedua anak kami layak mendapatkan cinta yang utuh sebagai keluarga, namun kami tau kami tidak akan bisa memberikannya jika tetap bersama. Kami sama-sama berhak mendapatkan cinta yang utuh, hati yan...

Hey, Stranger

The first time I met you, I was paralyzed by your charm. Hypnotized and feeling warm. Then sat beside you, didn't know who you were. We were stranger back then. Your dazzling eyes knocked me down, that you did. I didn't even know what was it. It was something new for me to feel. You were always there whenever and wherever I was. Though it was just in a mind of mine. Hey, stranger, what have you done? Months passed earlier than I thought. Weird... cause God brought you to my life. Ten hours a day though I felt it wasn't enough. Everyday was like a real fairy tale, that it was. Hey, stranger, did you even remember how we were here? The first time I met you, I knew what kind of person you were. Cold hearted with guts, that you were. This feeling was true and pure. I was right because I got hurt. But I'd stay not retreat. Autumn and winter had passed. Left us with spring and new hopes. Hey, stranger, didn't you see that?

Mama ❤️

"You have to keep going with him. Think about your children," they said. "You were the victim of a broken home child. Don't let it happen to your kids," they said. Meanwhile, my mama: "Nita,⁩ gimana kabarnya semua..? Mama akan laporkan KDRT klu dia tidak bisa menepati janjinya ke mama utk menjaga baik² Nita, Hagia, Melodie. Nita hrs lawan KDRT ya, dan selalu lindungi dg penuh kasih sayang Hagia dan Melodie ya sayaang.. 😇🤗🥰🥰🥰🥰🥰🥰💖" Like, she always texts me like that. She said I need to leave him as soon as he hit me or my children. I think it's already in her instinct. I don't tell my mama that we fight, hit each other, and I have bruises because of him. She would kill him. Although I'm already a mother, I'm still her daughter. When I find a better man, who loves me deeply, who's soft and kind, she will let her guard down because she knows I'll be in the right hand. I realize now, I love my life so much. And, I won't...

Sampul Buku dan Lembarannya

Boleh nggak saya memohon satu hal? Cukup sederhana. Kebanyakan dari kalian hanya memandang sampul sebuah buku. Jika sampul itu berupa kulit, kalian akan langsung mengambilnya. Kalau buku itu hanyalah buku usang, entah siapa yang akan mengambilnya. Disini bukan tentang menilai buku dari sampulnya. Tapi tentang siapa yang akan mengambil buku itu. Munafik memang, kalau kita mengaku tidak melihat orang dari penampilan. Tapi entah kenapa saya letih dengan semua itu. Letih dengan tipuan paling sederhana. Saya ingin kalian tetap menatap saya dalam keadaan terburuk, terjelek. Bukan dalam keadaan sebaliknya. Apa terkesan saya sombong? Tidak, bukan itu maksudnya. Saya hanya ingin kalian membuka buku itu setelah melihat sampulnya. Saya bukan buku bersampul kulit. Saya hanya buku biasa. Lembarannya putih, polos, tanpa coretan. Saya butuh kalian yang dapat mengisi lembaran-lembaran ini, bukan hanya menggeletakkan buku ini ke lemari hingga usang.

Skies, Him, Love

Memandang langit adalah kesukaan saya. Pagi, siang, atau malam, tak peduli kapan dan di mana. Saya selalu kagum dengan awan pagi hari yang tampak seperti goresan kuas, lalu langit senja dengan warna jingganya di ufuk, hingga bulan bintang yang bersinar saat malam.  Memandang langit... membuat saya selalu bersyukur, dan semakin meningkatkan kepercayaan saya terhadap Tuhan. Saya, kamu, kita semua sebagai manusia hanya berupa debu di semesta. Saya baru saja menemukan tempat persembunyian yang tentram. Tempat di mana bisa memadu kasih dengan langit, dengan semilir angin yang sejuk dan menenangkan. Sebenarnya tempat itu sudah lama saya temui, namun baru akhir-akhir ini saya lebih suka "kabur" ke sana.  Rasanya... sangat ingin membawa selimut ke sana, dan perlengkapan teleskop. Hanya untuk berkenalan dengan semua yang ada di atas langit sana. Bintang polaris, sirius, minerva, bintang timur, ingin saya kenal semuanya. Di tempat itu, saya bisa melukiskan wajahnya...