Skip to main content


Apa kamu selalu percaya jika kita selalu diberikan kesempatan oleh Tuhan?

Apakah aku layak diberikan kesempatan?

Apakah kamu layak diberikan kesempatan?

Apakah kita berani ambil resiko daripada tidak sama sekali?

Apa kamu berani maju untukku? Untuk kita?

Apa kamu pernah terpikirkan satu kali saja, apakah semua ini layak dicoba?

Apa kamu merasakan jika kita masih berputar satu sama lain?

Apa kamu pernah merasa, jika memang kamulah yang terbaik untukku dan bisa membuatku bahagia?

Apa kamu tau, Tuhan selalu mengabulkan doa-doaku setiap aku menyebut namamu di ibadahku?

Apa aku adalah "bagaimana jika"-mu?

Sekali lagi, apa kamu tidak mau mencoba maju?

Apakah kamu merindukanku seperti aku merindukanmu?

Apakah yang aku rasakan adalah sosok dirimu dulu?

Apakah yang aku rasakan adalah sosok dirimu sekarang?

Apakah aku sangat menginginkan kita di masa ini?

Apakah kamu membayangkanku dalam jangkauan tanganmu?

Apakah kamu mengharapkan, walau hanya sebersit, aku terbangun di sisimu setiap harinya?

Apakah aku mau menatapmu setiap harinya?

Apakah aku mampu menghadapimu dengan seluruh perasaanmu?

Apakah kita bisa menyelesaikan konflik dengan tenang tanpa perlu saling menyakiti?

Apakah kamu akan tega terhadapku?

Apakah aku akan tega terhadapmu?

Apakah kamu membayangkan kita di masa depan, dengan wajahku yang mengeriput dan rambutku yang berubah putih?

Apakah aku masih bisa melihat lesung pipimu walaupun wajahmu sudah mengeriput?

Apakah aku mau kita seumur hidup bersama?

Apakah kamu mau kita seumur hidup bersama?

Atau memang...

Apa aku hanyalah orang yang tidak berarti bagimu?

Apa aku hanyalah satu dari sekian wanita yang berlalu lalang pada hidupmu?

Apa peranku dalam hidupmu?

Apa artiku dalam hidupmu?

Aku sangat ingin mendengar seluruh jawaban ini dari mulutmu, sama seperti kamu ingin mendengar jawabanku.

Tapi, aku nggak ingin menuntutmu atau memaksamu.

Aku hanya akan berdiam, seperti biasanya selama ini. Mungkin, dalam diamku, aku akan pergi meninggalkanmu lagi atau kali ini aku akan menunggumu. Entahlah.

Bahkan dalam diamku, kamu selalu tau aku. Karena dengan diamku dan lirikan mataku, kamu langsung mengatakan permintaan maaf.

Dalam diamku, kamu memahamiku. Dengan diamku, aku memahami ruang dirimu yang terbebas dari tuntutan dan paksaan.

Namun, aku rasa... akupun berhak bahagia.

Walaupun aku bahagia bersamamu. Amat sangat bahagia, hingga aku mampu menjadi versi terbaik diriku bersamamu.

Namun, bahagiaku juga pasti ada di tempat lain, pada sosok lain. Entah kapan dan siapa.

Selama ini, aku mungkin hanya terlalu mencinta sendiri, entahlah. Tapi, akupun juga paham bagaimana dicinta walaupun tanpa seucap kata keluar dari mulut. Mungkin, inilah alasanku masih di sini: karena aku dicintai, dan aku menunggu kalimat itu terucap langsung entah dalam lirih ataupun lantang. Eyes and actions don't lie -I see actions, not words.

Hehe. Aku mungkin memang terlalu mencinta sendiri.


I love you then, I love you now.

It aches when you love someone but you can't fully express your affection deeply directly to that person.

It aches.

It aches.

It aches.

Comments

Popular posts from this blog

Keputusan Besar

Just like that. We finally decided that we'll go on our own way. :) Lega. Campur aduk. Deg-degan. Nggak ada perasaan sedih ataupun marah. Tapi, aku memang penasaran.. apakah aku dan pasanganku bisa memulai hidup sendiri tanpa kehadiran satu sama lain? Pasanganku saat ini memang banyak membawa pelajaran hidup. Dia membuatku menjadi lebih melihat dunia, lebih luwes, lebih santai, bisa tertawa daripada pusing memikirkan berbagai hal, dan bisa beristirahat sejenak. Sifat negatifnya pun banyak sekali, yang melatar belakangi aku memikirkan kembali hubungan ini. Rasanya, sudah cukup kami mendapatkan pelajaran masing-masing. Kami sama-sama mengakui, kami tidak bisa melihat masa depan kami secara bersama. Kami saat ini hanya menjalani rutinitas yang sudah terbiasa karena terbentuk bertahun-tahun. Kedua anak kami layak mendapatkan cinta yang utuh sebagai keluarga, namun kami tau kami tidak akan bisa memberikannya jika tetap bersama. Kami sama-sama berhak mendapatkan cinta yang utuh, hati yan...

Hey, Stranger

The first time I met you, I was paralyzed by your charm. Hypnotized and feeling warm. Then sat beside you, didn't know who you were. We were stranger back then. Your dazzling eyes knocked me down, that you did. I didn't even know what was it. It was something new for me to feel. You were always there whenever and wherever I was. Though it was just in a mind of mine. Hey, stranger, what have you done? Months passed earlier than I thought. Weird... cause God brought you to my life. Ten hours a day though I felt it wasn't enough. Everyday was like a real fairy tale, that it was. Hey, stranger, did you even remember how we were here? The first time I met you, I knew what kind of person you were. Cold hearted with guts, that you were. This feeling was true and pure. I was right because I got hurt. But I'd stay not retreat. Autumn and winter had passed. Left us with spring and new hopes. Hey, stranger, didn't you see that?

Mama ❤️

"You have to keep going with him. Think about your children," they said. "You were the victim of a broken home child. Don't let it happen to your kids," they said. Meanwhile, my mama: "Nita,⁩ gimana kabarnya semua..? Mama akan laporkan KDRT klu dia tidak bisa menepati janjinya ke mama utk menjaga baik² Nita, Hagia, Melodie. Nita hrs lawan KDRT ya, dan selalu lindungi dg penuh kasih sayang Hagia dan Melodie ya sayaang.. 😇🤗🥰🥰🥰🥰🥰🥰💖" Like, she always texts me like that. She said I need to leave him as soon as he hit me or my children. I think it's already in her instinct. I don't tell my mama that we fight, hit each other, and I have bruises because of him. She would kill him. Although I'm already a mother, I'm still her daughter. When I find a better man, who loves me deeply, who's soft and kind, she will let her guard down because she knows I'll be in the right hand. I realize now, I love my life so much. And, I won't...

untitled

I think my boss is right. I forgot to taking care of myself. I can't balancing my life as a mother, an employee, and a person. I'm overwhelmed. I'm tired. I'm exhausted It's time for me to take a rest. I will keep going, but, first, I need to put myself together again. Terbentur, terbentur, terbentur... terbentuk.

Sampul Buku dan Lembarannya

Boleh nggak saya memohon satu hal? Cukup sederhana. Kebanyakan dari kalian hanya memandang sampul sebuah buku. Jika sampul itu berupa kulit, kalian akan langsung mengambilnya. Kalau buku itu hanyalah buku usang, entah siapa yang akan mengambilnya. Disini bukan tentang menilai buku dari sampulnya. Tapi tentang siapa yang akan mengambil buku itu. Munafik memang, kalau kita mengaku tidak melihat orang dari penampilan. Tapi entah kenapa saya letih dengan semua itu. Letih dengan tipuan paling sederhana. Saya ingin kalian tetap menatap saya dalam keadaan terburuk, terjelek. Bukan dalam keadaan sebaliknya. Apa terkesan saya sombong? Tidak, bukan itu maksudnya. Saya hanya ingin kalian membuka buku itu setelah melihat sampulnya. Saya bukan buku bersampul kulit. Saya hanya buku biasa. Lembarannya putih, polos, tanpa coretan. Saya butuh kalian yang dapat mengisi lembaran-lembaran ini, bukan hanya menggeletakkan buku ini ke lemari hingga usang.