Skip to main content

Once Upon a Sunny Morning with a Bare Face

I am as free as a bird now.

I am ready to fly high, again.

I am ready to bounce back.

I reclaim my energy.

I let go of the things and people who drain me.

Nothing and no one could make me feel inferior.

I'll be happy, wealthy, healthy.

Finally,

I get my spark back!!!!

Wajahku akhirnya udah mulai kembali ke wajah asliku: tenang, sejuk, manis, lucu, anggun, menawan. Ternyata, melepaskan beban itu sangat berdampak ke perubahan wajahku (coba baca ini: The Roller-Coaster Journey of Motherhood)

Inilah wajahku tadi pagi tanpa polesan make-up apapun, sambil menyusui DBF ke Odie (responsible working Mama). As seen in the photos below, sudah terlihat banget kondisi kulit wajahku kian membaik. Hanya ada bekas kemerahan jerawat yang akan bisa dihilangkan cepat di klinik kecantikan (tapi bukan prioritasku saat ini, karena bisa ditutupi concealer, hehehe), bibirku konsisten berwarna merah-muda, dan mataku terlihat hidup kembali. Tugasnya hanya tinggal sedikit (selain menghilangkan noda kemerahan), tapi juga lebih memedulikan kewarasan, kesehatan, dan kebahagiaan diriku sendiri supaya mata pandaku hilang.

Semoga aku selalu waras, sehat, dan bahagia.


Memang rasanya melelahkan, seperti terombang-ambing di lautan.
Nggak tau masa depan kaya apa, nggak tau apakah "mampu", nggak tau apakah bisa, bebannya banyak banget, sebanyak itu sampai bingung harus diapain bebannya.

Tapi...
aku punya Tuhan.
I'm just a sinner who religiously believe that He will help me and guide me throughout this journey.
Nggak tau kenapa, ya, rasanya memang semakin ke sini aku semakin sadar kalau aku hanya manusia yang kecil banget dan nggak bisa apa-apa. Semua rencanaku, impianku, ungkapan hatiku, rasanya nggak berguna dengan kehendak Tuhan.

Ibadah wajibku masih banyak bolongnya. Ibadah sunnah-ku juga belum bisa dianggap rutin. Mengaji juga sejarang itu.

Tapi...
aku benar-benar banyak berceloteh ke Tuhan setiap saat, seakan-akan Dia adalah teman curhatku, karena aku pasrah dengan jalan hidupku saat ini. Namun, aku yakin kalau Tuhan akan memberikan kemudahan dan kelancaran untukku.

Lelah banget, tapi setidaknya aku bisa istirahat.
Bukan berhenti untuk menyerah, tapi berhenti untuk istirahat.

(Fyi, karena aku beragama islam, aku mau bahas sedikit tentang shalat)

Mengambil air untuk wudhu membuat badanku segar dan seperti efek cooling down setelah segala hiruk-pikuk dunia. Shalat membuatku tenang, seperti efek grounding ke bocah yang tantrum. Ketika sujud, wajah mencium bumi di mana tanah dipijak, aku semakin merasakan kalau aku bukan apa-apa. Doa yang kupanjatkan setelah selesai ibadahpun, seakan-akan memberikan waktu untukku supaya aku bisa lebih lama curhat pada Tuhan.

Selama ini, dari dulu, aku suka bertanya-tanya sendiri:
Iya, aku tau kalau shalat itu wajib. Tapi, apa esensinya?
Mempunyai jiwa yang spiritual itu bukan berarti harus religius, kan?
Banyak orang religius, namun sisi spiritualnya kosong banget.

Namun, sekarang, lebih tepatnya ketika semua hal menghantamku dari berbagai posisi...
Aku mulai merasakan esensi dari shalat.

Yang tadinya shalat hanya dilakukan sebagai sebuah kewajiban seperti kita membayar pajak tanpa merasakan secara langsung manfaatnya apa, kini aku shalat karena aku merasakan esensinya.

Hal yang kusadari lainnya adalah Tuhan menghukumku karena aku selama ini sudah terlalu sombong, semena-mena, dan merasa mampu menghadapi apapun sendirian. Padahal, seharusnya aku merasa mampu menghadapi apapun karena memang didampingi oleh Tuhan.
 
(Mungkin ini, alasan wajahku lebih keliatan teduh sekarang. Karena udah lebih sadar spiritual. Hehe)

WISH ME LUCK!
XOXO.

























Comments

Popular posts from this blog

Keputusan Besar

Just like that. We finally decided that we'll go on our own way. :) Lega. Campur aduk. Deg-degan. Nggak ada perasaan sedih ataupun marah. Tapi, aku memang penasaran.. apakah aku dan pasanganku bisa memulai hidup sendiri tanpa kehadiran satu sama lain? Pasanganku saat ini memang banyak membawa pelajaran hidup. Dia membuatku menjadi lebih melihat dunia, lebih luwes, lebih santai, bisa tertawa daripada pusing memikirkan berbagai hal, dan bisa beristirahat sejenak. Sifat negatifnya pun banyak sekali, yang melatar belakangi aku memikirkan kembali hubungan ini. Rasanya, sudah cukup kami mendapatkan pelajaran masing-masing. Kami sama-sama mengakui, kami tidak bisa melihat masa depan kami secara bersama. Kami saat ini hanya menjalani rutinitas yang sudah terbiasa karena terbentuk bertahun-tahun. Kedua anak kami layak mendapatkan cinta yang utuh sebagai keluarga, namun kami tau kami tidak akan bisa memberikannya jika tetap bersama. Kami sama-sama berhak mendapatkan cinta yang utuh, hati yan...

Hey, Stranger

The first time I met you, I was paralyzed by your charm. Hypnotized and feeling warm. Then sat beside you, didn't know who you were. We were stranger back then. Your dazzling eyes knocked me down, that you did. I didn't even know what was it. It was something new for me to feel. You were always there whenever and wherever I was. Though it was just in a mind of mine. Hey, stranger, what have you done? Months passed earlier than I thought. Weird... cause God brought you to my life. Ten hours a day though I felt it wasn't enough. Everyday was like a real fairy tale, that it was. Hey, stranger, did you even remember how we were here? The first time I met you, I knew what kind of person you were. Cold hearted with guts, that you were. This feeling was true and pure. I was right because I got hurt. But I'd stay not retreat. Autumn and winter had passed. Left us with spring and new hopes. Hey, stranger, didn't you see that?

Mama ❤️

"You have to keep going with him. Think about your children," they said. "You were the victim of a broken home child. Don't let it happen to your kids," they said. Meanwhile, my mama: "Nita,⁩ gimana kabarnya semua..? Mama akan laporkan KDRT klu dia tidak bisa menepati janjinya ke mama utk menjaga baik² Nita, Hagia, Melodie. Nita hrs lawan KDRT ya, dan selalu lindungi dg penuh kasih sayang Hagia dan Melodie ya sayaang.. 😇🤗🥰🥰🥰🥰🥰🥰💖" Like, she always texts me like that. She said I need to leave him as soon as he hit me or my children. I think it's already in her instinct. I don't tell my mama that we fight, hit each other, and I have bruises because of him. She would kill him. Although I'm already a mother, I'm still her daughter. When I find a better man, who loves me deeply, who's soft and kind, she will let her guard down because she knows I'll be in the right hand. I realize now, I love my life so much. And, I won't...

Sampul Buku dan Lembarannya

Boleh nggak saya memohon satu hal? Cukup sederhana. Kebanyakan dari kalian hanya memandang sampul sebuah buku. Jika sampul itu berupa kulit, kalian akan langsung mengambilnya. Kalau buku itu hanyalah buku usang, entah siapa yang akan mengambilnya. Disini bukan tentang menilai buku dari sampulnya. Tapi tentang siapa yang akan mengambil buku itu. Munafik memang, kalau kita mengaku tidak melihat orang dari penampilan. Tapi entah kenapa saya letih dengan semua itu. Letih dengan tipuan paling sederhana. Saya ingin kalian tetap menatap saya dalam keadaan terburuk, terjelek. Bukan dalam keadaan sebaliknya. Apa terkesan saya sombong? Tidak, bukan itu maksudnya. Saya hanya ingin kalian membuka buku itu setelah melihat sampulnya. Saya bukan buku bersampul kulit. Saya hanya buku biasa. Lembarannya putih, polos, tanpa coretan. Saya butuh kalian yang dapat mengisi lembaran-lembaran ini, bukan hanya menggeletakkan buku ini ke lemari hingga usang.

Skies, Him, Love

Memandang langit adalah kesukaan saya. Pagi, siang, atau malam, tak peduli kapan dan di mana. Saya selalu kagum dengan awan pagi hari yang tampak seperti goresan kuas, lalu langit senja dengan warna jingganya di ufuk, hingga bulan bintang yang bersinar saat malam.  Memandang langit... membuat saya selalu bersyukur, dan semakin meningkatkan kepercayaan saya terhadap Tuhan. Saya, kamu, kita semua sebagai manusia hanya berupa debu di semesta. Saya baru saja menemukan tempat persembunyian yang tentram. Tempat di mana bisa memadu kasih dengan langit, dengan semilir angin yang sejuk dan menenangkan. Sebenarnya tempat itu sudah lama saya temui, namun baru akhir-akhir ini saya lebih suka "kabur" ke sana.  Rasanya... sangat ingin membawa selimut ke sana, dan perlengkapan teleskop. Hanya untuk berkenalan dengan semua yang ada di atas langit sana. Bintang polaris, sirius, minerva, bintang timur, ingin saya kenal semuanya. Di tempat itu, saya bisa melukiskan wajahnya...