Skip to main content

Musim Hujan

Jakarta dan Tamgerang Selatan penuh hujan beberapa waktu terakhir ini, namanya juga menjelang akhir tahun.

Banjir, macet, debu, terjebak di jalan selama 3 jam bukanlah hal baru bagi masyarakatnya.

Di saat aku menulis ini pun hujan deras sedang mengguyur rumahku, dan mungkin juga seluruh area Jakarta.


Namun,

Dibalik itu semua... setiap tahunnya secara konsisten ada aku yang bertanya-tanya:

"Aren't you afraid of the weather?"

"Did you get home safely?"

"Did you use TJ / motorbike / LRT / walk through the traffic and flood?"

"Aren't you afraid of your health?"

"Is it blur?"

"Could you walk properly and confidently, without any anxiety that you may hit, stumble, or fall?"

"How's your body handle it?"

"Did you wear jacket?"

"Did you feel cold?"

"Did your bring umbrella?"

"Did you get fever after that?"

Aku memikirkanmu dan mempertanyakan bagaimana kamu menghadapi hujan dan kacaunya Jakarta, seperti saat ini hati dan pikiranku terlintas pada dirimu. Kamu pasti moody banget menghadapi kondisi Jakarta yang seperti ini, rasanya seluruh energimu terkuras habis, suaramu serak karena radang dan sedikit pilek, dan rasanya ingin cepat-cepat menuju akhir pekan. Aneh, ya? Padahal, kamu belum tentu memikirkanku seperti ini. Tapi, kamu adalah seorang pria dewasa dan aku yakin dengan segala kondisimu, kamu mampu menghadapi ini. Pastinya terasa letih seperti aku yang juga sangat letih ketika akhirnya sampai di rumah sehabis menerjang hujan dan banjir.

Doaku menyertaimu, keselamatanmu, kesehatanmu, dan kebahagiaanmu. Aku bukan ibumu yang doanya pasti akan dikabulkan, tapi semoga doaku dikabulkan.

Sampai jumpa, di suatu waktu yang tidak tentu.

I love you.

I still love you.

I still always love you.

PS: Betapa bahayanya otakku, membayangkanmu berdiri di hadapanku dengan wajah letihmu dan tasmu yang terkena cipratan air hujan; lalu aku memberikanmu secangkir minuman hangat dan menyambutmu dengan senyumanku. Di bayanganku, kamu adalah rumahku, dinginnya Jakarta saat hujan akan terasa hangat begitu aku menatapmu, letihnya aku akan kembali pulih saat aku bersamamu.

Comments

Popular posts from this blog

Keputusan Besar

Just like that. We finally decided that we'll go on our own way. :) Lega. Campur aduk. Deg-degan. Nggak ada perasaan sedih ataupun marah. Tapi, aku memang penasaran.. apakah aku dan pasanganku bisa memulai hidup sendiri tanpa kehadiran satu sama lain? Pasanganku saat ini memang banyak membawa pelajaran hidup. Dia membuatku menjadi lebih melihat dunia, lebih luwes, lebih santai, bisa tertawa daripada pusing memikirkan berbagai hal, dan bisa beristirahat sejenak. Sifat negatifnya pun banyak sekali, yang melatar belakangi aku memikirkan kembali hubungan ini. Rasanya, sudah cukup kami mendapatkan pelajaran masing-masing. Kami sama-sama mengakui, kami tidak bisa melihat masa depan kami secara bersama. Kami saat ini hanya menjalani rutinitas yang sudah terbiasa karena terbentuk bertahun-tahun. Kedua anak kami layak mendapatkan cinta yang utuh sebagai keluarga, namun kami tau kami tidak akan bisa memberikannya jika tetap bersama. Kami sama-sama berhak mendapatkan cinta yang utuh, hati yan...

Hey, Stranger

The first time I met you, I was paralyzed by your charm. Hypnotized and feeling warm. Then sat beside you, didn't know who you were. We were stranger back then. Your dazzling eyes knocked me down, that you did. I didn't even know what was it. It was something new for me to feel. You were always there whenever and wherever I was. Though it was just in a mind of mine. Hey, stranger, what have you done? Months passed earlier than I thought. Weird... cause God brought you to my life. Ten hours a day though I felt it wasn't enough. Everyday was like a real fairy tale, that it was. Hey, stranger, did you even remember how we were here? The first time I met you, I knew what kind of person you were. Cold hearted with guts, that you were. This feeling was true and pure. I was right because I got hurt. But I'd stay not retreat. Autumn and winter had passed. Left us with spring and new hopes. Hey, stranger, didn't you see that?

Mama ❤️

"You have to keep going with him. Think about your children," they said. "You were the victim of a broken home child. Don't let it happen to your kids," they said. Meanwhile, my mama: "Nita,⁩ gimana kabarnya semua..? Mama akan laporkan KDRT klu dia tidak bisa menepati janjinya ke mama utk menjaga baik² Nita, Hagia, Melodie. Nita hrs lawan KDRT ya, dan selalu lindungi dg penuh kasih sayang Hagia dan Melodie ya sayaang.. 😇🤗🥰🥰🥰🥰🥰🥰💖" Like, she always texts me like that. She said I need to leave him as soon as he hit me or my children. I think it's already in her instinct. I don't tell my mama that we fight, hit each other, and I have bruises because of him. She would kill him. Although I'm already a mother, I'm still her daughter. When I find a better man, who loves me deeply, who's soft and kind, she will let her guard down because she knows I'll be in the right hand. I realize now, I love my life so much. And, I won't...

untitled

I think my boss is right. I forgot to taking care of myself. I can't balancing my life as a mother, an employee, and a person. I'm overwhelmed. I'm tired. I'm exhausted It's time for me to take a rest. I will keep going, but, first, I need to put myself together again. Terbentur, terbentur, terbentur... terbentuk.

Sampul Buku dan Lembarannya

Boleh nggak saya memohon satu hal? Cukup sederhana. Kebanyakan dari kalian hanya memandang sampul sebuah buku. Jika sampul itu berupa kulit, kalian akan langsung mengambilnya. Kalau buku itu hanyalah buku usang, entah siapa yang akan mengambilnya. Disini bukan tentang menilai buku dari sampulnya. Tapi tentang siapa yang akan mengambil buku itu. Munafik memang, kalau kita mengaku tidak melihat orang dari penampilan. Tapi entah kenapa saya letih dengan semua itu. Letih dengan tipuan paling sederhana. Saya ingin kalian tetap menatap saya dalam keadaan terburuk, terjelek. Bukan dalam keadaan sebaliknya. Apa terkesan saya sombong? Tidak, bukan itu maksudnya. Saya hanya ingin kalian membuka buku itu setelah melihat sampulnya. Saya bukan buku bersampul kulit. Saya hanya buku biasa. Lembarannya putih, polos, tanpa coretan. Saya butuh kalian yang dapat mengisi lembaran-lembaran ini, bukan hanya menggeletakkan buku ini ke lemari hingga usang.