Skip to main content

Meletus Balon Hijau, DOR: Hatiku Sangat Kacau

Baru seminggu yang lalu aku menangis histeris di kantor, tepatnya di dalam ruang rapat yang kedap suara (dan ternyata suara sesenggukanku bocor, karena 2 orang temanku tiba-tiba membawa masuk sekotak tissue). Saat itu, aku sedang menelepon kakak pertamaku untuk curhat. Beliau ini memang salah satu orang (selain Nadia, Lungguh, Syifa) yang aku biarkan tetap berada di radarku di fase gilaku ini. Dimulai dari pertanyaan sederhana, "mba, aku boleh curhat?" lalu dengan seketika seluruh luapan hatiku bocor begitu saja. Tanpa filter berpura-pura tangguh.

Fyi,

Tanda aku lagi kalut itu bukan diam, atau menangis sepi. Tapi menangis histeris, lalu tertawa terbahak, begitu terus -nangis, ketawa, nangis, ketawa, sampai kalian nggak akan bisa bedakan aku lagi tertawa atau menangis (kaya The Joker versi Joaquin Phoenix/Heath Ledger). Nah, saat itu, aku menelepon kakakku seperti itu dan bahkan responnya, "kamu lagi nangis atau ketawa, sih?"

"Dua-duanyaaaa," jawabku.

Sumpah, untung aku nggak jadi Joker. Potensiku gede banget dan aku berbakat banget jadi Joker.

Aku memang lagi gila rasanya. Hatiku sakit sekali, hancur dari yang awalnya masih rapuh, sampai terasa sesak di dada secara fisik. Aku bingung mengkotak-kotakan perasaanku karena rasanya campur aduk, semuanya jadi satu.

"Itu dia memang nggak pernah sayang sama kamu. Kalau sayang, dia nggak akan tega menyakiti kamu dan justru akan jaga kamu. Apa yang kamu lihat dari sikap buruknya selama ini, ya, itu sikap aslinya.

Kamu cuma 1x dijemput ke kantor, itupun pas udah mau pisah dan karena kamu yang minta. Selama bertahun-tahun kalian bareng, dia nggak pernah kan jemput ke kantor? Padahal mas-mas kamu aja jemput aku dan mba Andes. Jadi, kalau sisanya dia bisa marah-marah karena nggak mau jemput kamu, ya, itu sebatas itu perasaan dia ke kamu.

Untung kamu cepat sadar, sebelum semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk orang yang salah. Allah Maha Baik, udah membuka mata kamu sekarang. Otak kamu udah bisa jalan, bisa berpikir rasional," kata kakakku.

Aku marah, kecewa, sedih, bingung karena telah membiarkan diriku berada di hubungan yang merendahkanku sendiri. Aku sudah jahat ke diriku sendiri, karena, bukannya pergi dari hubungan abusive secepat mungkin, namun, malah memberikan beribu kesempatan, menerima permintaan maafnya, mikir dia akan bisa berubah.

Lo kata berubah jadi ultraman kali, Nita?!!?! 

Yang ada, aku yang berubah jadi GILA.

Padahal, akunya nggak cinta mati gitu. Ada perasaan sayang dan cinta, tapi...

Lo aja bakal tau gue cintanya sama siapa kalo baca blog ini. BHAK.

MAKANYA ANEH KAN, KENAPA GUE KASI KESEMPATAN BUAT ORANG YANG BAHKAN PERASAAN GUE GAK SEDALAM ITU?!?!?!?!! 

Aku tahu aku akan bisa bertahan, terutama menjadi tulang penopang yang kokoh untuk kedua anakku, bagaimanapun caranya. Tapi, proses ini semua... Ya ampun, berat banget. Aku cuma mau uget-uget, tiduran, rebahan, pencet tombol remote tv pake jempol kaki, tangan megang popcorn, sambil selimutan.

Tapi,

Saat ini aku harus pakai topeng Wonder Woman.

Poin ke-2.

Di telepon, aku kembali membahas masa laluku ke kakakku. Aku bilang, aku terlalu impulsif mengambil keputusan tanpa membiarkan aku menyelesaikan seluruh perasaanku dulu dan malah menguburnya sedalam mungkin. Years later, kuburannya kembali tergali dan seluruh perasaan ini kembali muncul, karena aku sudah acknowledge perasaanku sendiri. Bahkan, jauh lebih dalam dari sebelumnya karena aku sadar... I like him in our adult version, too. Karena, harusnya, bukannya aku nggak akan merasa senang seperti ingin jingkrak-jingkrak kalau aku bertemu dia? Bukannya aku nggak akan kelihatan hidup dan puli kembali ketika aku mendengar nama atau ceritanya? Bukannya harusnya fase merasa senang, hidup, pulih itu selesai di masa lalu, di masa remajaku?

Aku bilang ke kakakku, "rasanya hatiku sakit banget, mba, sampai terasa sesak. Ternyata, aku cinta banget sama dia dan aku nggak tahu aku harus bagaimana biar dia pergi dari pikiranku. Aku nggak mau kaya mama, yang masih terus membahas kisah cintanya berpuluh-puluh tahun kemudian bahkan sampai sekarang."

"Aku sebeeel selalu kepikiran dia. Apapun keingetnya jadi dia. Tapi, inget dia juga somehow yang bikin aku ngerasa hidup. Jadi aku bingung, aku sebel tapi aku senang juga. Huaaaa, mba, aku nggak mau kaya mamaaa."

Respon kakakku? Tertawa terbahak sambil bilang, "jijik, ah, kamu. Panggil dia lah kalo gitu, ketemu. Gausah dibawa ribet."

"Gabisaaaa. Huaaaa."

"Dodol kamu sih," kata kakakku lagi.

"Gimana dong, mba, sekarang aja pas telepon mba, aku kepikiraaaan. Aku harus gimanaaa?"

"Ketemu lah, orang sama-sama di Jakarta."

"Gabisaaaaa. Gamauuu. Huaaaa."

Perjalanan hati yang sungguh tidak jelas, penuh fase tangis, tawa, marah, sedih, kecewa, sums up my 2025. Ternyata, ujian hidupku di tahun 2025 memang ujian mental paling dahsyat yang pernah aku jalani.

Apalah dayaku sebagai manusia lemah, letih, lesu, lunglai ini, ya Allah.

Comments

Popular posts from this blog

(Different) Twins

Dear Nadia, I never thought that I can befriend with you. It's nice having a good friend, a dear good friend, that's an introvert version of my self. You're the INTP and I'm the ENTP, so I'm feeling like you know me better than anyone else. As I said earlier to you, maybe we're like twins. It's just the one tiny different that makes us different, and I'm glad with it. Honestly, before I met or knew you, I thought you're an arrogant and selfish woman because you look soooooo quite and you're classy (SERIOUSLY), LOL. Even before our introduction, I always love your sense of fashion... Your sense of fashion is a little bit similar to me. And once again, I think we're twins from different womb, lol. But then things changed and we met. It was a little bit awkward at first but I still remember how we think about the same thing at the same time, and before I knew you're an INTP, I had this feeling that you're like me, something about you r...
((relapse)) Kalo diinget, gue nggak pernah nangisin ini cowo, atau biarin emosi gue luber. Mungkin itu alasannya gue susah move on, ya? Gue kebanyakan menekan emosi gue selama ini, memilih diam, menghilang. Tapi tanggal 27 Agustus 2026 kemarin, tau-tau gue menangis. Bukan yang histeris hingga sesak napas, tapi air matanya keluar begitu aja tanpa henti. Mungkin akan ada kambuh berikutnya. Tapi gue jadi semakin yakin lagi dengan kapasitas diri gue ketika mencintai. Kalo gue bisa mencintai orang lain sedalam itu, maka gue tau, gue juga berhak dicintai orang lain sedalam itu dan gue tau orang itu akan selalu mengusahakan gue sesederhana karena takut kehilangan gue.

OHANA

Haiiiii! This time, I'm too excited to tell you about my OHANA a.k.a Family. Seperti yang kalian udah baca di postingan pertama gue, Sisterhood Last Forever, kalian tahu kalo gue itu anak bontot, anak yang paling kecil, anak bungsu. Di post itu gue udah menceritakan tentang Mba Tita dan Mba Andes. Tapi... rasanya ngga lengkap kalo hanya mereka yang diceritakan. Left - Right: Mba Andes, Mama, Me, Mba Tita di suatu acara pada tahun 2011 Mama gue itu rambutnya selalu aja pendek. Dulu waktu gue masih 5th rambutnya masih panjang sihh, tapi sejak itu juga rambutnya jadi pendek :p Sedangkan Mba Tita dan Mba Andes itu dulunya ngga hijabers. Rambut mereka sebelum pake jilbab itu.... Badai. Angin topan. Wuss. Tsunami. Tapi sejak selesai kuliah dan udah beberapa bulan kerja, kira-kira pas gue kelas 2 SD mereka baru pake jilbab. Gue akan seperti mereka kalo udah sukses. Hehe Left - Right: Me, Mba Andes, Eyangti, Mba Tita, Mama di Lebaran tahun 2012 Di foto yang diata...
Kita memang nggak bisa menyelamatkan orang lain kalau orang itu nggak mau diselamatkan, kan? Sebesar apapun rasa cinta gue ke dia, gue nggak akan bisa memberikan itu semua dan dia nggak akan bisa menerimanya. Karena dia tidak mencintai dirinya sendiri terlebih dahulu. Gue bisa memeluk lukanya, apabila dia sudah berani memeluk lukanya sendiri. Gue bisa memberikannya cinta terbesar yang pernah dia rasakan, apabila dia sudah mampu mencintai dirinya sendiri.
Just when I about to send the message, a sudden realization come to me. Thus, I shall keep my pride. However, My heart can't lie. My brain can't lie. So, with the little prayer, I shall say... A year has passed. May you always find good things in life. Have a blast.