Skip to main content

Warlok Bali


Waktu itu, aku lagi terpuruk banget... butuh pelarian sementara, kabur. Oleh karenanya, I texted my cousin and directly asked her, "Bali yuk."

She replied, "yuk."

Lalu, pada akhirnya, karena kami waktu itu masih full WFH (alias gak perlu ke kantor untuk kerja), kami langsung cari tiket pesawat, hotel, dan penyewaan mobil. Semuanya hanya butuh hitungan hari untuk seluruh persiapannya. Ada untungnya juga menjadi orang yang adaptif dan spontan.

Of course, sebagai seorang ibu I also brought my little daughter to came along with me. Cuma sendirian tanpa orang dewasa lain yang menemaniku, aku bawa bayi, 2 koper ukuran besar dan ukuran kabin, dan juga ransel isi popok. Aku ambil flight subuh, biar anakku bisa tidur nyenyak di jalan, nggak rewel, dan juga menyimpan tenaga untukku sendiri buat bisa istirahat tanpa harus menenangkan anak yang rewel.

Sodaraku, memilih untuk pergi naik bus dan dilanjut kapal, karena dia belum pernah coba naik bus antar kota sebelumnya.

Sungguh nyata ke-bonek-an ini, alias bermodalkan nekat doang.

2 cewe cantik: yang satu pergi naik pesawat subuh bawa bayi, 2 koper, 1 ransel, dan yang lainnya pergi naik bus sendirian.

Bermodalkan nekat lagi: kami hanya beli tiket pergi, pesan hotel hanya untuk 3 hari dulu. Karena kami beneran gak merencanakan kapan waktu balik ke Jakarta.

Que se ra, se ra. Whatever will be, will be.

(foto hari kedua di Bali, lagi menyusun itin)

(foto hari kedua di Bali, akunya ada meeting online)

(foto selesai kerja, langsung 'kulari ke pantai')

(foto sunsetan di pantai yang berbeda tiap hari)

(foto hari ke-3 dari hotel pertama, kami pindah hotel lagi)

Mulai dari awal kedatangan kami masih seperti 2 orang turis yang hobinya mencari wisata turis, pakai pakaian yang cantik ala cewe Jakarta liburan, hingga akhirnya kami menjelma jadi... warga lokal.

Karena,
PADA AKHIRNYA KAMI KABUR KE BALI SELAMA 1 BULAN LAMANYA.

Sejenuh itu kami dengan kehidupan kami, dengan kota Jakarta, dengan segala orang-orang dengan kelakuan ajaibnya, dengan masa lalu kami, dan dengan polusi kotanya.

Di Bali, kami setiap habis kerja langsung mencari pantai, mengejar sunset, duduk di atas pasir hingga terang bulan tiba, ngobrol alur-kidul.

Selama di sana juga, kami jarang menggunakan AC mobil. Setiap jalan, kami biasanya membuka jendela, membiarkan angin laut membuat rambut kami berkibar, menghirup aroma laut yang menenangkan, merasakan teriknya matahari yang panas namun menghangatkan.

Ingin rasanya kabur lagi ke sana, mungkin kali ini untuk selamanya.

Comments

Popular posts from this blog

(Different) Twins

Dear Nadia, I never thought that I can befriend with you. It's nice having a good friend, a dear good friend, that's an introvert version of my self. You're the INTP and I'm the ENTP, so I'm feeling like you know me better than anyone else. As I said earlier to you, maybe we're like twins. It's just the one tiny different that makes us different, and I'm glad with it. Honestly, before I met or knew you, I thought you're an arrogant and selfish woman because you look soooooo quite and you're classy (SERIOUSLY), LOL. Even before our introduction, I always love your sense of fashion... Your sense of fashion is a little bit similar to me. And once again, I think we're twins from different womb, lol. But then things changed and we met. It was a little bit awkward at first but I still remember how we think about the same thing at the same time, and before I knew you're an INTP, I had this feeling that you're like me, something about you r...
((relapse)) Kalo diinget, gue nggak pernah nangisin ini cowo, atau biarin emosi gue luber. Mungkin itu alasannya gue susah move on, ya? Gue kebanyakan menekan emosi gue selama ini, memilih diam, menghilang. Tapi tanggal 27 Agustus 2026 kemarin, tau-tau gue menangis. Bukan yang histeris hingga sesak napas, tapi air matanya keluar begitu aja tanpa henti. Mungkin akan ada kambuh berikutnya. Tapi gue jadi semakin yakin lagi dengan kapasitas diri gue ketika mencintai. Kalo gue bisa mencintai orang lain sedalam itu, maka gue tau, gue juga berhak dicintai orang lain sedalam itu dan gue tau orang itu akan selalu mengusahakan gue sesederhana karena takut kehilangan gue.

OHANA

Haiiiii! This time, I'm too excited to tell you about my OHANA a.k.a Family. Seperti yang kalian udah baca di postingan pertama gue, Sisterhood Last Forever, kalian tahu kalo gue itu anak bontot, anak yang paling kecil, anak bungsu. Di post itu gue udah menceritakan tentang Mba Tita dan Mba Andes. Tapi... rasanya ngga lengkap kalo hanya mereka yang diceritakan. Left - Right: Mba Andes, Mama, Me, Mba Tita di suatu acara pada tahun 2011 Mama gue itu rambutnya selalu aja pendek. Dulu waktu gue masih 5th rambutnya masih panjang sihh, tapi sejak itu juga rambutnya jadi pendek :p Sedangkan Mba Tita dan Mba Andes itu dulunya ngga hijabers. Rambut mereka sebelum pake jilbab itu.... Badai. Angin topan. Wuss. Tsunami. Tapi sejak selesai kuliah dan udah beberapa bulan kerja, kira-kira pas gue kelas 2 SD mereka baru pake jilbab. Gue akan seperti mereka kalo udah sukses. Hehe Left - Right: Me, Mba Andes, Eyangti, Mba Tita, Mama di Lebaran tahun 2012 Di foto yang diata...
Kita memang nggak bisa menyelamatkan orang lain kalau orang itu nggak mau diselamatkan, kan? Sebesar apapun rasa cinta gue ke dia, gue nggak akan bisa memberikan itu semua dan dia nggak akan bisa menerimanya. Karena dia tidak mencintai dirinya sendiri terlebih dahulu. Gue bisa memeluk lukanya, apabila dia sudah berani memeluk lukanya sendiri. Gue bisa memberikannya cinta terbesar yang pernah dia rasakan, apabila dia sudah mampu mencintai dirinya sendiri.
Just when I about to send the message, a sudden realization come to me. Thus, I shall keep my pride. However, My heart can't lie. My brain can't lie. So, with the little prayer, I shall say... A year has passed. May you always find good things in life. Have a blast.