Skip to main content

Refleksi Diri

Aku selalu yakin, karakter asli seseorang akan terlihat dari caranya menghadapi konflik dan terutama saat... marah.

Sebagai anak hasil didikan orang tua serba militer yang tegas dan disiplin, rasanya aku sudah kebal menghadapi orang-orang luar yang kelakuannya nyeleneh. Karena, seumur hidup aku udah latihan mental di rumah, dan memang orang tuaku adalah sosok yang paling aku takuti.

Sejauh ini, dari hubungan terakhirku, aku pernah dikatain:

"Dasar anak pungut!"

"Dasar anak sampah!"

"Dasar pelacur!"

"Lonte!"

"Anjing lo!"

"Saya pikir, kamu bilang cinta sama anak pertamamu, padahal itu bullshit. Kamu hanya mementingkan diri sendiri."

Aku lebih sering malas berdebat hanya mengatakan, "iya. Iya. Iya" dibandingkan membalas ucapan mereka. Karena kalau aku ikut buka mulut, orang-orang akan kaget dengan reaksiku. Itulah yang mereka rasakan setiap kali aku memilih untuk tidak menjaga lisanku, padahal aku hanya membela diriku dari lisan mereka yang tidak terdidik.

Mereka yang kena akan balasan lisanku mengetahui jika memang ucapanku akan jauh lebih menusuk dibandingkan ucapan mereka, dan aku tidak pernah mengucapkan permintaan maaf duluan jika memang itu bukan salahku.

Aku dibesarkan untuk menjadi wanita yang tau tata krama, etika, sopan, dan santun. Aku tidak akan menyerang jika tidak diserang duluan, namun ketika aku diserang, jika aku rasa sudah keterlaluan maka aku akan membela diri.

Aku tidak bisa mengontrol orang lain. Aku hanya bisa mengontrol ucapanku, perilakuku, tindakanku, dan perasaanku. Aku memilih untuk menjadi aku yang tau tata krama, etika, sopan, santun.

Karena di dalam kontrolku, aku membawa nilai-nilai keluargaku, agamaku, dan bagaimana aku ingin dilihat sebagai orang tua dari anak-anakku.

Aku masih berusaha untuk tidak perlu berteriak, ucapan sumpah serapah, dan intonasi tinggi ketika marah.

Aku masih berusaha untuk menyampaikan apa yang aku rasakan terlebih dahulu, daripada langsung menunjuk kesalahan orang lain.

Semoga aku bisa tetap mengontrol diriku sendiri, menjadi lebih terkontrol setiap harinya.

Comments

Popular posts from this blog

Girls Run The World

Cewek mana sih yang sering merasa kalau dirinya itu jelek, gendut, pendek, ngga pinter, aneh, sampai ke nerd? Cewek mana sih yang sering terintimidasi oleh dirinya sendiri? Cewek mana sih yang pengen punya badan bagus kaya si A tapi ngga kesampean? Cewek mana coba..... Jawabannya cuma satu. Kita semua. Kita semua para cewek. Hmm, menurut pendapat gue... Cantik itu variatif kok. Manusia itu ngga ada yang sempurna. Kekurangan kita itu hanya sebagian kecil dari kesempurnaan yang kita miliki. Gue itu tinggi, berat gue 60 Kg (Damn... Sejak puasa sampe sekarang malah naik), dan gue sering merasa aneh dengan diri gue sendiri. Gue rakus, sering nyicip makanan ini-itu. Hehe -_- Tapiiiii, gue juga tahu untuk tetap menjaga badan ini supaya staminanya pas dan ngga berlebihan. Sebisa mungkin hampir setiap hari Minggu gue selalu berolahraga. Dari mulai yang paling simple, jogging, sampe bersepeda dengan rute yang kadang-kadang akan membuat orang-orang takjub untuk ukuran cewek seperti g...

Bookaholic

My name is Nita. I'm a bookaholic. I can read thousands of books in a day. My eyes would be so green if I see lots of books. My imagination is in high level. And I live with an optimistic because I hope... I'll find my Happy Ending one day. I love reading novels. Horror, Sleuth-ish, Romantic, everything as long as the book is good. Beside that, I wanna be a writer. A bright future novelist. A famous author. Suatu hari di Gramedia Grand Indonesia, dengan berbagai macam buku yang pengen dibeli... Tapi cuma dibolehin ambil 2 sama Mama. T-T Dari sekian banyak novel yang dibaca, gue itu suka dengan karya-karyanya Trenton Lee Stewart di seri Mr. Benedict Society yang tebal bukunya bisa 500-an. Ceritanya TOP banget, seru, buat gregetan, dan sktech nya juga bagus..... -_- Terus ada juga Meg Cabot, an author who made Princess Diaries. Cerita buatan beliau memang 'terlalu' Barat, tapi karyanya tetap jadi andalan untuk gue. Sedangkan dari negara kita sendiri juga ada ...

Worthy Soul

I like deep hugs. I like holding hands. I like unexpected kisses. I like to be clingy. I want it everyday. I want to be loved, seen, heard, wanted, and needed. I want intimacy, connection, feeling warm and safe. I want a bond, soul to soul. A real love. Not a lust. I was kissed and hugged by love, several times, years ago in juvenile times. I was kissed and hugged by lust, several times in adult times. They longed for more hugs and kisses, they craved me. Some came from the intimacy and connection built in trust and affection, the rest... came from lust. As a lover woman, I know the difference, I could feel it... and I hate how lust could tainted the intimacy, connection, and the bond of souls. I hate how lust could made it as if an assault where I was only an object, not a subject. I hate how intimacy and connection eventually could became a lust. I miss to feel the sacred of love, where it overflows with intimacy and connection. Where eyes could speak to another eyes, without needing...
Sebagaimana layaknya gue pengen dimengerti tanpa gue perlu selalu mengatakannya, semesta memperkenalkan gue dengan pria ini. Lucu... ketika gue kira hati gue sudah tertutup rapat dan sulit menerima kehadiran orang baru. Pria ini membaca pikiran gue, sangat penyabar, dan somehow... dia bisa menjadi lebih dominan daripada gue. Jika diibaratkan nilai, gue mendapatkan A+ dan dia bisa meraih A++++. Poin lainnya, ketika gue merasa kecewa dan menarik diri, dia mencari gue. Bukan ikutan diam atau mundur. Selama ini, ketika gue menarik diri, nggak ada pria yang justru mencari dan menghampiri. Mungkin sesuai doa gue: kalo gue tau kapasitas diri gue dalam mencintai seseorang, maka akan ada juga orang seperti gue untuk gue. We will see about his consistency. With love, Nita

Autumn in Paris

I already read Autumn in Paris like a MILLION time, but I never get bored. Ilana Tan is such a great author. She makes this story so perfect. Everyone will cry (seriously). Now I wonder... what happen with Tara Dupont? Whoever get wondered by this book, HARUS BACA.