Skip to main content

Shattered Heart since 2019 Onwards


Dulu, waktu aku lagi berantem dan putus sama mantan semasa SMA, ada cowo yang peka sama kondisiku. Dia menghampiriku yang lagi duduk menyendiri, menunduk menyembunyikan wajah karena sedang menangis, sambil mendengarkan lagu dengan earphone.

Dia menarik earphone tersebut dan bilang,
"Kenapa lo?"

Aku jawab, "gapapa."

Dia nanya, "putus lagi?"

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.

"Nit, lo pernah ga tertawa karena jokes yang sama berulang kali? Nggak, kan? Jadi lo gausah nangis berulang kali karena hal yang sama."

Terus dia duduk di sebelahku, menemani kesendirianku, menyampaikan humor-humor recehnya karena berusaha membuatku tertawa.

***

Malam ini, aku kembali menangis lagi. Berulang kali untuk hal yang sama, disebabkan oleh orang yang kukenal sejak tahun 2019, dan ironisnya merupakan ayah dari kedua anakku.

Aku berusaha janji dengan diriku sendiri untuk berhenti menangis karena dia. Namun, ternyata rasa sakitnya, merasa terhina, merasa rendah diri, kesal, marah, semuanya masih terus terasa hingga malam ini. Aku selalu menangis dalam diam, tidak pernah di depan dia. Sekalipun dulu dia melihatku menangis, aku nggak akan mengatakan penyebabnya karena hatiku teramat sakit karena dia.

Ternyata, walaupun sudah berpisah, hatiku masih belum sembuh. Apa mungkin, karena mau tidak mau aku harus menjaga komunikasi dengan dia, demi anak-anak? Tapi... dia pun tidak bisa dikatakan mampu jadi contoh untuk anak-anakku. Bukannya bersyukur karena aku juga ikut bekerja untuk memenuhi kebutuhan, dia malah selingkuh berkali-kali sejak 2019, dan mulai melakukan KDRT secara fisik ke aku sejak tahun 2023. Sebelum aku menjadi samsaknya, secara verbal dia memang sudah kasar dan hobi memakiku hingga kedua orang tuanya.

Anak pertamaku, Hagia, sudah aku ajarkan untuk dia bisa menjelaskan seluruh perasaan yang sedang dia rasakan, dan membela dirinya sendiri. Aneh, ketika anak usia 3 tahun sudah mengerti untuk mengatakan, "papa, jangan ganggu Gia;" "jangan marah-marah, sabar:" "hati Gia sakit rasanya."

Lantas, apa aku harus benar-benar menganggap dia sudah mati jadi aku tidak perlu lagi meminta hak anak-anakku, lalu tidak perlu menjaga silaturahmi dengan dia? Apa aku harus benar-benar tega? Aku harus bagaimana? Karena, akupun juga bisa hancur jika aku harus bertanggung jawab penuh atas kedua anakku, baik secara finansial, fisik, dan mental. Apakah ini ujian terbesar Tuhan untukku? Apakah dibalik ini semua, ternyata aku akan menjadi sosok wanita keren, cantik, kaya-raya dengan 2 anak gadisnya?

Aku nggak mencintai dia sedalam itu, sungguh. Namun, bukankah batas minimal hidup berdampingan karena mengurus anak itu adalah rasa saling menghormati? Tidak perlu sebagai pasangan, namun, sebagai manusia. Terutama aku, seorang wanita, yang telah merasakan sakitnya melahirkan, bertarung jiwa antara hidup dan mati untuk melahirkan anak-anak yang dibuahi oleh dia. Aku sakit hati bukan karena aku cinta dia, tapi aku merasa sangat direndahkan sebagai seorang manusia.

Mendoakan orang lain celaka itu memang nggak boleh. Namun, apalah dayaku yang hanya seorang manusia penuh cela. Aku nggak bisa menahan diriku untuk mendoakan dia yang baik-baik. Lalu sejak 2019, entah sudah berapa kali Tuhan mengabulkan doa-doaku yang membuat dia celaka semua. Mulai dari ban motornya yang bocor, dirawat bolak-balik ke RS, berurusan dengan polisi, hingga aku mengatakan, "karier lo ga akan bisa berkembang selama lo gak bisa menjadi manusia penyabar dan ga tempramental." Apakah aku berdoa atau apakah aku bersumpah?

Entah, apalah diriku ini. Intuisiku tajam, omonganku rata-rata menjadi kenyataan. Si pahit lidah, kalau kata banyak orang. Tapi ironisnya juga, mempunyai intuisi tajam artinya aku adalah orang yang sensitif. Aku bisa membaca lirikan mata, ekspresi mikro, bahasa tubuh dari orang-orang di sekitarku. Itu semua melelahkan.

Hatiku sangat sakit malam ini dan terasa berat. Aku menjadi sangat sensitif, doa-doa burukku terucap dalam hati, dan aku menuliskan ini semua dengan air mata yang terus berlinang.

Akar sakit hatiku saat ini adalah ekspektasi. Aku masih terlalu berpikiran positif jika dia memang akan bisa bertanggung jawab sebagai seorang ayah. Aku harus mengelola ekspektasiku sendiri, karena memang aku hanya bisa mengandalkan diriku sendiri, dan aku adalah pelindung kedua anakku.

Aku tau aku akan bisa melaluinya, karena Tuhan akan mengangkat seluruh rasa sakit hati ini, lalu aku akan menjadi wanita yang aku impikan. Aku hanya butuh tempat berkeluh kesah dan rehat sebentar, aku nggak akan menyerah.

 






Comments

Popular posts from this blog

Keputusan Besar

Just like that. We finally decided that we'll go on our own way. :) Lega. Campur aduk. Deg-degan. Nggak ada perasaan sedih ataupun marah. Tapi, aku memang penasaran.. apakah aku dan pasanganku bisa memulai hidup sendiri tanpa kehadiran satu sama lain? Pasanganku saat ini memang banyak membawa pelajaran hidup. Dia membuatku menjadi lebih melihat dunia, lebih luwes, lebih santai, bisa tertawa daripada pusing memikirkan berbagai hal, dan bisa beristirahat sejenak. Sifat negatifnya pun banyak sekali, yang melatar belakangi aku memikirkan kembali hubungan ini. Rasanya, sudah cukup kami mendapatkan pelajaran masing-masing. Kami sama-sama mengakui, kami tidak bisa melihat masa depan kami secara bersama. Kami saat ini hanya menjalani rutinitas yang sudah terbiasa karena terbentuk bertahun-tahun. Kedua anak kami layak mendapatkan cinta yang utuh sebagai keluarga, namun kami tau kami tidak akan bisa memberikannya jika tetap bersama. Kami sama-sama berhak mendapatkan cinta yang utuh, hati yan...

Hey, Stranger

The first time I met you, I was paralyzed by your charm. Hypnotized and feeling warm. Then sat beside you, didn't know who you were. We were stranger back then. Your dazzling eyes knocked me down, that you did. I didn't even know what was it. It was something new for me to feel. You were always there whenever and wherever I was. Though it was just in a mind of mine. Hey, stranger, what have you done? Months passed earlier than I thought. Weird... cause God brought you to my life. Ten hours a day though I felt it wasn't enough. Everyday was like a real fairy tale, that it was. Hey, stranger, did you even remember how we were here? The first time I met you, I knew what kind of person you were. Cold hearted with guts, that you were. This feeling was true and pure. I was right because I got hurt. But I'd stay not retreat. Autumn and winter had passed. Left us with spring and new hopes. Hey, stranger, didn't you see that?

Mama ❤️

"You have to keep going with him. Think about your children," they said. "You were the victim of a broken home child. Don't let it happen to your kids," they said. Meanwhile, my mama: "Nita,⁩ gimana kabarnya semua..? Mama akan laporkan KDRT klu dia tidak bisa menepati janjinya ke mama utk menjaga baik² Nita, Hagia, Melodie. Nita hrs lawan KDRT ya, dan selalu lindungi dg penuh kasih sayang Hagia dan Melodie ya sayaang.. 😇🤗🥰🥰🥰🥰🥰🥰💖" Like, she always texts me like that. She said I need to leave him as soon as he hit me or my children. I think it's already in her instinct. I don't tell my mama that we fight, hit each other, and I have bruises because of him. She would kill him. Although I'm already a mother, I'm still her daughter. When I find a better man, who loves me deeply, who's soft and kind, she will let her guard down because she knows I'll be in the right hand. I realize now, I love my life so much. And, I won't...

Sampul Buku dan Lembarannya

Boleh nggak saya memohon satu hal? Cukup sederhana. Kebanyakan dari kalian hanya memandang sampul sebuah buku. Jika sampul itu berupa kulit, kalian akan langsung mengambilnya. Kalau buku itu hanyalah buku usang, entah siapa yang akan mengambilnya. Disini bukan tentang menilai buku dari sampulnya. Tapi tentang siapa yang akan mengambil buku itu. Munafik memang, kalau kita mengaku tidak melihat orang dari penampilan. Tapi entah kenapa saya letih dengan semua itu. Letih dengan tipuan paling sederhana. Saya ingin kalian tetap menatap saya dalam keadaan terburuk, terjelek. Bukan dalam keadaan sebaliknya. Apa terkesan saya sombong? Tidak, bukan itu maksudnya. Saya hanya ingin kalian membuka buku itu setelah melihat sampulnya. Saya bukan buku bersampul kulit. Saya hanya buku biasa. Lembarannya putih, polos, tanpa coretan. Saya butuh kalian yang dapat mengisi lembaran-lembaran ini, bukan hanya menggeletakkan buku ini ke lemari hingga usang.

Skies, Him, Love

Memandang langit adalah kesukaan saya. Pagi, siang, atau malam, tak peduli kapan dan di mana. Saya selalu kagum dengan awan pagi hari yang tampak seperti goresan kuas, lalu langit senja dengan warna jingganya di ufuk, hingga bulan bintang yang bersinar saat malam.  Memandang langit... membuat saya selalu bersyukur, dan semakin meningkatkan kepercayaan saya terhadap Tuhan. Saya, kamu, kita semua sebagai manusia hanya berupa debu di semesta. Saya baru saja menemukan tempat persembunyian yang tentram. Tempat di mana bisa memadu kasih dengan langit, dengan semilir angin yang sejuk dan menenangkan. Sebenarnya tempat itu sudah lama saya temui, namun baru akhir-akhir ini saya lebih suka "kabur" ke sana.  Rasanya... sangat ingin membawa selimut ke sana, dan perlengkapan teleskop. Hanya untuk berkenalan dengan semua yang ada di atas langit sana. Bintang polaris, sirius, minerva, bintang timur, ingin saya kenal semuanya. Di tempat itu, saya bisa melukiskan wajahnya...