Skip to main content

A Woman Called Nadia

Andaikan Nadia adalah seorang pria, aku sepertinya akan memilih untuk menikah dengannya. Sayangnya, Nadia adalah seorang wanita, sahabatku sejak masa kuliah. Aku pernah beberapa kali menulis tentang dia dan sahabat-sahabatku yang lainnya, namun, seiring bertumbuh dewasa aku, hanya Nadia yang lebih konsisten hadir di hidupku dalam berbagai fase. Aku nggak pernah menyangka, aku bisa terus bersahabat dengan Nadia hingga selama ini, bahkan sampai pergi berlibur bersama dan menginap. Nadia adalah sahabatku, malah mungkin sudah seperti saudaraku sendiri.




Senang.

Sedih.

Marah.

Bingung.

Kecewa.

Takut.

Khawatir.

Semangat.

Tertarik.

Kami sama-sama selalu hadir dengan berbagai perasaan yang ada di diri kami, dengan itu kami tumbuh dan berkembang bersama. Mulai dari suka dan duka, kami terus saling mendampingi satu sama lain.

Nadia tau seluruh ceritaku dan perilakuku, dan begitupun sebaliknya. Kami adalah yin-yang, jungkat-jungkit, ontang-anting yang selalu melengkapi satu sama lain. Aku nggak perlu khawatir akan merasa dihakimi oleh Nadia, begitupun sebaliknya. Namun, kami akan dengan yakin mengingatkan satu sama lain jika kami memang merasa otak kami perlu disadarkan. Kami nggak akan segan menangis, tertawa, mengatai satu sama lain, karena pada akhirnya kami akan berpelukan kembali.

Bahkan, dia yang tau kepada siapa hatiku berlabuh, masa laluku, keluargaku, impianku, awal cerita hubungan toksikku, kehamilanku, permasalahanku, mode bertahanku, dan kondisi kesehatanku. Dia tau aku, sisi rapuhku, maupun sisi tangguhku. Dia melihatku menangis bahagia, tertawa, dan bersemangat setiap aku menceritakan pelabuhan hatiku; dia melihatku menangis tertekan, penuh amarah, dan tersakiti ketika aku menceritakan hubungan terakhirku, di mana aku dimaki, dipukul, dikhianati; dia melihatku fokus bekerja di depan laptop, kurang tidur, namun tetap bisa fokus; dia melihatku dalam mode ibu, di mana aku menyuapi, menyusui, menggantikan popok, memakaikan baju, mengajak bercanda anakku. Dia melihatku seperti sebuah prisma, sosok iridescent yang penuh kompleksitas.




Kami bukan tipikal sahabat yang bersama kemanapun selama 24/7. Di saat kami menghilang seperti di telan bumi, kami akan saling membiarkan dulu, karena kami sama-sama tau jika kami akan kembali menyatu lagi. Biasanya, kami hanya saling memastikan kabar melalui chat atau telepon, supaya kami tidak membuat khawatir satu sama lain di mode menghilang.

"Well maybe, he is your first love. But, not as in first love like your past relationships before, but, your true love. You feel deep connection with him and it's totally normal."

"Lo tuh pantas dapat cowo yang sayang banget sama lo, Ta."

"Lo harus dapat cowo yang bener-bener gak akan tega nyakitin lo, Ta."

"Lo boleh hamil lagi, asal bukan sama dia."

"Lo lihat apa sih di dia? Kok, bisa-bisanya menerima dia dulu?"

"Itu artinya dia gak menghargai lo, Ta. Kalo dia menghargai lo, dia gak akan buat lo kaya gini."

"Dia gak akan bisa berubah, emang udah wataknya begitu."

"Ada aja gebrakan hidup lo, Ta."

"Please, lo buat gue khawatir terus, Ta."

"Lo beneran pisah kan sama dia, Ta?"

"Tau gak, pas lo hamil lagi, rasanya gue pengen ngata-ngatain lo banget. Maaf banget, Ta, gue ngomong kasar, tapi lo goblok banget, ya Tuhan..."

"Resilient banget lo. Gue suka cerita tentang lo ke nyokap gue, justru nyokap yang nangis dengernya," kata Nadia.

Aku harap, persahabatan ini akan tetap awet hingga 10 tahun, 20 tahun, 50 tahun kemudian, di mana kami berdua sudah menjelma menjadi wanita paruh baya yang sudah melewati seluruh fase kehidupan.

Comments

Popular posts from this blog

Pancasila, Nasionalisme, dan Eyangkung

Mungkin Eyangkung (Eyang Kakung, Kakek dalam bahasa Jawa) benci disebut-sebut sebagai pahlawan. Tapi, memang kenyataannya begitu. Tidak akan ada Indonesia tanpa Eyangkung dan para pahlawan yang lain. Eyangkung saya bernama Eyang TK, beliau lahir di Solo pada 17 Agustus 1919. Eyangkung bersekolah di Neutrale H. I. S Solo dan beliau berprestasi di sekolahnya. Karena prestasi itulah beliau dibebaskan dari les persiapab masuk M. U. L. O. dan pada akhirnya beliau berhasil masuk tanpa melalui tes ujian masuk. Sebagai cucu kesekian, saya sangat bangga mempunyai sosok Eyangkung. Karena beliau, saya selalu bersumpah akan membawa nama baik keluarga. Saya nggak mau menjelekkan nama baik keluarga besar, saya nggak mau dibilang, "cucu pahlawan kok seperti itu?" (Walaupun saya ini memang tergolong bandel sih, cuma bandelnya masih sebatas wajar). Walaupun beliau wafat setahun sebelum saya lahir, banyak cerita yang sudah saya dengar maupun foto-foto beliau yang saya lihat.  Dari yan...

AFS Frequently Asked.

Where and when can I apply? Every student who is in 10th grade during the application period can apply for the departure in the following year. You apply by using our online application system. What and how much should I write about me in the application? You will provide the most accurate information about yourself. The information you write will be used in the selection process in chapter and national levels. I am not living in Java and the next chapter is far. Do I have to pay the travel costs to the selection location myself? During the chapter selection stages, domestic travel expenses will be your responsibility. Departure in March or August – advantages and disadvantages? Departure time depends on when the academic year starts in the hosting country. Both departure time will give you chance to experience a whole academic year from the beginning to the end, and hopefully will give you a “full” experience as a high school student abroad. What happens at th...

Sampul Buku dan Lembarannya

Boleh nggak saya memohon satu hal? Cukup sederhana. Kebanyakan dari kalian hanya memandang sampul sebuah buku. Jika sampul itu berupa kulit, kalian akan langsung mengambilnya. Kalau buku itu hanyalah buku usang, entah siapa yang akan mengambilnya. Disini bukan tentang menilai buku dari sampulnya. Tapi tentang siapa yang akan mengambil buku itu. Munafik memang, kalau kita mengaku tidak melihat orang dari penampilan. Tapi entah kenapa saya letih dengan semua itu. Letih dengan tipuan paling sederhana. Saya ingin kalian tetap menatap saya dalam keadaan terburuk, terjelek. Bukan dalam keadaan sebaliknya. Apa terkesan saya sombong? Tidak, bukan itu maksudnya. Saya hanya ingin kalian membuka buku itu setelah melihat sampulnya. Saya bukan buku bersampul kulit. Saya hanya buku biasa. Lembarannya putih, polos, tanpa coretan. Saya butuh kalian yang dapat mengisi lembaran-lembaran ini, bukan hanya menggeletakkan buku ini ke lemari hingga usang.

A Battle Throughout The Years

I met him somewhere in the last few months in 2019. He has a cute smile, taller than me, long straight hair, with tattoos on his hand. He was different from my ideal man. I thought he loved me, but I realize now, it was actually a love bombing. I learned to love him each year, but I realize now, I was only fooling myself and keep on pretending. -2019- December. It was my birth month, but instead of getting me a surprise, he yelled at me and cursed me. I cried. I told him, "this is my first time in my birthday that I cry. You made me cry in my birthday. You didn't give me present, you didn't congratulate me. You made me cry. Men congratulated me, gave me presents, and flowers. You brought me tears." Then, there was another time when he actually mad at me because I couldn't come to his house after office hour. I was so tired, I needed to commute with train and ojek to got to my office. I said sorry to him, but, he cursed me again. I called my cousin who stayed in Ba...

(Sedikit) Curhat

Alhamdulillah, 2017 is soon to be over! Rasanya bersyukur dan senang banget ternyata mayoritas Resolusi 2017 yang ditulis di akhir tahun 2016 kemarin sudah jadi kenyataan. Kehidupan perkuliahan itu sulit, serius. Apapun jurusan kamu, semua ada ups and downs nya. Gue yang sudah hampir menjadi mahasiswa angkatan tua, ngerasain banget jenuh-jenuhnya. Kasarnya, kalau bisa nikah sama pengusaha kaya raya mending langsung nikah, deh. Tapi... hidup itu nggak sepenuhnya kaya drama Korea. Let it flow, nikmati saja arusnya. Gue yang sekarang di semester 5, semakin mendengar desas-desus tentang diri gue sendiri di kampus. "Cuma modal muka", "dia nggak pinter, cuma dia deketin dosen biar nilai bagus", "gue gasuka sama Nita", dan tetek-bengek lainnya. Normal, namanya hidup itu penuh pro dan kontra. Sebenarnya gue sudah mendengar ini sejak gue di semester 1, sih, tapi makin ke sini semakin kelihatan siapa saja orang-orangnya. Bahkan, beberapa orang sudah membuat gue k...