Skip to main content

To The Boy I've Loved Before. PS: I Still Love You

Hai, kali ini aku akan menuliskan tentang kamu, langsung ditujukan untuk kamu, bukan memakai bahasa yang tersirat lagi.

Kamu mungkin nggak akan pernah baca ini, dan aku pun nggak tahu kenapa aku menulisnya malam ini. Tapi rasanya aku perlu menulis sesuatu untuk kamu — bukan untuk membuka luka, mengenang perasaan sakit, tapi untuk menenangkan hatiku sendiri. Karena ada bagian dari diriku yang tetap hangat, hidup, pulih, dan bahagia setiap kali aku mengingatmu.

Aku yakin, kamu nggak akan mengingat awal pertemuan kita. Karena aku hanyalah orang asing saat itu, cewe berambut lurus, berponi, memakai kacamata yang terlihat medioker. Tapi aku ingat bagaimana aku melihatmu (kamu bisa baca dirimu sendiri di The 10 Years Journey of a Lover Girl). Aku mau menceritakan lebih detail bagaimana pertemuan kedua kita yaitu saat aku masuk ke dalam kelas Bahasa Inggris di kelas pra-kuliah, dan aku melihatmu duduk menunduk, memegang pulpen, memakai jaket merah MU dan menatap ke arah binder note merah MU yang selalu kamu pakai. Rambutmu agak panjang dan ikal saat itu. Di mataku, aku melihatmu seperti terkena lampu sorot, seperti adegan pembuka Mr. Bean yang disinari lampu sorot namun sekelilingnya gelap. Semudah itu mata aku menemukanmu, karena memang kamu terang di sekeliling kegelapan. Aku tertarik padamu sejak saat itu, di saat aku baru pertama kali tahu nama kamu.

(Bagiku saat itu, aku hanya melihatmu dan di sekelilingmu gelap)

Aku sangat senang aku pernah diizinkan menjadi salah satu lingkaran pertemenanmu. Kamu menorehkan banyak kenangan di hidupku. Rasanya terus membekas, karena aku juga bertumbuh dan berkembang bersamamu. Entah berupa lagu, momen, tempat, warna, aroma, figur tubuh, tontonan televisi, film, foto, makanan, apapun, semuanya mengingatkanku padamu.

Salah satu kenangan yang paling aku ingat adalah ketika kamu mau datang ke rumahku untuk buka puasa bersama teman-teman kita. Aku nggak menyangka kalau kamu akan datang, karena yang aku tau saat itu, kamu nggak tertarik untuk bepergian jauh termasuk ke arah rumahku yang terkenal macet dan debu polusi apalagi di sore hari bulan puasa. Itulah saat pertama ibuku bertemu kamu (teman-temanku yang lainnya udah beberapa kali bertemu ibuku), dan kamu sebenarnya adalah temanku yang sudah hidup dalam cerita-cerita yang kubanggakan ke ibuku. Komentar beliau, "anak yang sopan, ya." Kita semua keliling area rumahku yang terkenal akan area takjilnya, kemudian dilanjutkan kamu dan teman-teman kita yang lainnya kemudian shalat Maghrib jamaah di rumahku, dan akhirnya baru pada pulang sekitar pukul 21:00. Kalau nggak salah, ada juga sepupu-sepupuku yang hadir, kemudian Eyangku juga main ke rumah dan lalu aku mengantar beliau kembali ke rumahnya.

Ada juga momen di mana kita bersama teman-teman kita sesekali cabut kelas, mulai dari pergi ke Galeri Nasional, menghabiskan waktu untuk ngemall ke Pejaten Village, Kokas, Kalcit, Plaza Kalibata, hingga makan duren di pinggir jalan Kalibata. Itulah momen pertama kali seumur hidupku, aku makan buah duren karena selama ini aku hanya makan produk olahannya. Aku kira aku menyukainya, ternyata menurutku rasanya kaya roti busuk. Kamu dan teman kita suka sekali dan lahap makannya, sementara pada akhirnya aku hanya mengamati kalian makan duren.

Lalu, ada juga saat kamu pada akhirnya benar-benar membelikanku gelang dari Kalimantan. Waktu itu, kakakku juga memberikanku gelang yang mirip sewaktu pulang dari Kalimantan. Namun, karena maniknya terbuat dari batu, maniknya mudah pecah. Setelah aku terus-terusan mengganggumu dan rewel untuk minta dibawakan gelang, yang awalnya kamu tolak untuk belikan aku, ternyata ketika balik ke Jakarta kamu justru bawa gelang untukku. Aku yang senang banget barang etnis dan eksotik, rasanya senang sekali dibelikan gelang tersebut. Entah berapa harganya, namun gelang tersebut merupakan salah satu gelang favoritku yang selalu aku pakai. Gelang dari kakakku aku simpan, dan gelang dari kamu yang selalu aku pakai. Namun, ketika kita mulai berjarak (nggak tahu kenapa), gelang itupun aku copot.

 

(Gelang dari kamu)

Lalu, ada juga momen di mana aku rewel minta dibawakan wingko babat ketika kamu pergi ke Semarang. Hahahahaha, aku suka banget wingko babat, bandeng presto, bakpia dan makanan Indonesia lainnya. Kalau beli wingko babat, aku selalu beli beberapa dus untukku sendiri. Sebenarnya, aku nggak menyangka kamu beneran akan membawakanku. Namun ternyata, somehow, kamu menuruti kerewelanku dan membawakan aku wingko babat sedus besar (padahal aku titipnya yang ukuran kecil aja, asal bisa manjain lidah pokoknya). Di suatu waktu aku yang sedang pergi, karena aku teringat kamu pernah membelikanku wingko babat, akupun bertanya kamu mau dibawakan apa. "Sumpia udang," katamu, dan kamu pun mengatakan jika kamu suka makan itu. Apa kamu masih suka sumpia sampai sekarang?

Aku terlalu demanding dan rewel, ya? hehehe.

Ada juga momen di mana aku iseng menjadikan punggung tanganmu sebagai kanvas dan mencoret-coretnya dengan pulpen. Anehnya, kamu nggak protes. Padahal, aku sudah mempersiapkan diri untuk diprotes dan akan berhenti mencoret tanganmu kalau kamu protes, tapi kamu diam aja. Jadi, kulanjutkan saja mencoret tanganmu. Mengetahui bahwa kamu cukup moody dan baperan, aku merasa aneh karena kamu nggak protes, aku iseng menambahkan stabilo warna jingga di coretan-coretan tersebut. Tujuannya, tentu memancing protes darimu. Namun, kamu tetap nggak protes. Jadi, kutambahkan lagi banyak warna jingga di punggung tanganmu hingga selesai. Kamu, pria yang aku lihat lumayan perfeksionis, tertata, dan nggak clumsy sepertiku, telah menerima tanganmu dicoret-coret dengan warna gonjreng jingga, dan aku kira kamu akan menghapusnya secepat mungkin. Tapi, ternyata kamu tetap membiarkan tanganmu seperti itu. Terima kasih, kamu membiarkan hasil coretanku lebih lama daripada yang aku kira.

(Aku diam-diam memfoto karyaku)

Apa kamu ingat kita pernah berbagi loker? Lagi-lagi, aku yang mencoba ajak kamu untuk berbagi loker. Sebenarnya, aku nggak sangka kamu akan mau juga, aku asal aja ajak karena aku memang mau coba cari teman berbagi loker supaya bisa patungan untuk bayar biaya loker. Eh, kamu mau. Lokerku, atau lebih tepatnya... loker kita, berada di lantai 3 dan isinya hanya berupa buku-buku kuliah yang tebal seperti akuntansi dan statistika. Saat itu, kita merupakan asisten dosen untuk mata kuliah Manajemen Keuangan di kelas yang berbeda, dan aku sering menggunakan loker tersebut untuk taruh buku-buku muridku karena belum aku langsung koreksi. Sementara kamu? Dengan otak jenius dan sifat tekunmu, tentu aja langsung menyelesaikan koreksi murid-murid dari kelasmu. Ada masa ketika kamu protes ketika lokernya penuh dan berantakan oleh buku-buku muridku, dan kamu bilang ke aku, "Nit, lokernya udah penuh buku banget. Kapan mau diperiksa?" Ketika kamu berbicara seperti itu, rasanya kaya aku kena tegur kakak pertamaku, lol, jadi besoknya langsung aku koreksi semua buku-buku muridku.

Tadi, aku bilang ada bagian dari diriku yang tetap hangat, hidup, pulih, dan bahagia setiap kali aku mengingatmu. Dari dulu, sejak aku berusia 17 tahun, hingga sekarang usiaku 27 tahun, perasaanku masih terus sama padamu. Hidupku terus berjalan, aku hamil dan melahirkan, aku berkarier di sana-sini, aku berusaha menjadi versi terbaikku setiap saat... karena aku mengingat kamu. Bertahun-tahun, kamu selalu menjadi standarku dalam mencintai diri sendiri, memberikan yang terbaik dan mencoba berbagai hal baru. Aku pernah terpuruk sangat dalam, namun, setelah aku refleksi diri, aku menyadari keterpurukanku justru karena aku masih berusaha menyangkal perasaanku terhadapmu. Mematikan dan mengubur perasaanku begitu saja, kabur dari realita, mencoba berbagai hal baru yang impulsif.

Padahal, perasaanku terhadap kamulah realitaku. Aku nggak mau menyangkal, mematikan, dan mengubur perasaanku lagi. Karena ternyata, aku cinta kamu. Dirimu yang percaya akan objektvitas aku dan  menceritakan tentang hubunganmu yang lalu dan susah kamu lupakan itu, ketika kamu meminta nasehat terkait pertemanan dan wanita lainnya kepadaku, padahal kamu tau aku menyimpan rasa untukmu; kamu yang lebih dewasa, namun juga meladeni kekanakanku dengan kita bertukar tas dan ponsel seharian penuh, lalu diam-diam kamu merekam kelakuan konyolku dengan ponselku, dan juga ketika di lain waktu kamu memegang ponselku, dan kamu memfoto aku diam-diam, dimasukkan ke dalam Path dengan caption "makan tapi takut enduttt 😶😶😂😂😂"; aku yang menjahitkan jaketmu, lalu kamu tanya "kok lo bisa ngejahit?"; kamu yang minta bantuanku untuk checkout sepatu, minta retur karena kekecilan, minta bantu carikan kado untuk adekmu dan teman kita; kamu yang kubuatkan gelang, lalu kamu kurekam setiap kamu tampil; kamu adalah sosok yang bisa penuh percaya diri, namun juga terkadang mampu merasa sangat kecil dan penuh pertimbangan; candaanmu yang tajam dan terkadang terlalu "bapak-bapak", kamu yang bisa tiba-tiba menjadi spontan, namun juga kamu bisa menjadi sangat moody, sensitif, dan mudah tersinggung; kamu yang mengenalkan dirimu, keluargamu, keponakanmu dari cerita-ceritamu, menceritakan bunga tidur mengharukan yang kamu bagikan ke aku;

Kamu menceritakan keluh kesahmu, membagikan pikiranmu, mempercayakanku tentang cerita-cerita dirimu, mengirimkanku banyak sekali lagu-lagu buatanmu untuk mendapatkan penilaian awam dariku, padahal ngerti apa aku?; namun terkadang, ada kalanya kamu juga bisa diam seribu bahasa dan aku tidak mengerti pikiranmu, walaupun beberapa kali setelahnya kamu akan menceritakannya padaku tanpa aku harus minta; kamu yang juga banyak menasehatiku, agar jangan selalu merasa sedih dengan trauma masa laluku; kamu yang mengatakan jika aku pantas mendapatkan pria yang bisa memanjakanku, karena aku sudah terlalu mandiri menjadi wanita, dan juga pesanmu agar aku mencari pria yang lebih tinggi dariku agar aku tidak perlu menunduk jika berciuman; kamu yang bisa menangkap suasana hatiku dan langsung meminta maaf padaku hanya karena lirikan sekilas dari mataku, tanpa perlu aku mengucapkan apapun.. aku merasa dimengerti; caramu menunduk, dan berdiri; caramu memegang pulpen dan tulisanmu yang berantakan; bagaimana matamu menyipit saat tertawa; perdebatan kecil kita yang sepele, bagaimana aku ngotot dengan jawabanku, dan kamu tetap dengan keyakinanmu...

Aku cinta semuanya tentang dirimu, mulai dari pandangan idealisku tentangmu yang tekun, teliti, cerdas dan juga sisi manusiamu yang bisa impulsif, rapuh, penuh emosi; tentang terang dan gelapmu, nyata dan bayangmu. Karena kamu, aku mampu menyadari kemampuan diriku sendiri dalam mencintai. Karena kamu, aku jadi yakin, jika aku juga pantas dicintai dengan kedalaman yang sama. Karena kamu, aku semakin mencintai diriku sendiri, merasakan hidup, pulih, dan mensyukuri segala hal yang terjadi pada hidupku.

Kalau pikiranku tentangmu diibaratkan sebuah pohon, kamu awalnya tertanam sebagai bibit dan kini sudah menjadi pohon besar yang rindang dan mengakar dalam di dalam kepalaku... dan kini aku sudah tidak menyangkalnya lagi. Aku nggak tahu apakah pohon rindang itu juga berdiri di dalam kepalamu, namun jika iya, aku harap pohon itu tumbuh dalam damai.

Kamu bahkan hanya temanku, bukan mantan pacarku, aku mempunyai anak dari pria lain, kamu temanku, namun, kamu lah yang justru masih hidup di diriku. Padahal, aku mendapatkan bunga pertama dari pria itu ketika aku SMA, dari mantan pacarku yang pertama. Aku bertengkar, dikejar, ditunggu semalaman walaupun aku nggak bisa ketemu, dan diperjuangkan mati-matian oleh mantanku itu. Aku dibelikan baju hangat, diantar-jemput selama hampir 3 tahun di SMA, dan selalu dibawakan bekal juga. Banyak hal yang aku lakukan dengan mantanku, salah satunya cabut sekolah untuk pergi ke pantai. Sebenarnya, kenangannya lebih banyak dan bervariasi, namun, kenangan akan mantanku nggak berbekas sedalam ini dibandingkan kenanganku denganmu. Aneh, ya? Banyak pria yang mendekatiku juga, kenangannya juga bervariasi. Mulai dari konsistensi ketika menonton ke bioskop, makan, antar-jemput, kado, you name it. Namun, yaudah, gitu aja. Bahkan dengan pasangan terakhirku, hingga kami memiliki anak pun, rasanya... yaudah, gitu aja. Seperti mati rasa, atau memang... aku mati rasa terhadap pria-pria lain?

Kata orang, cinta pertama itu jarang yang berhasil. Apa kamu termasuk ke dalam kategori cinta pertamaku? Tapi, aku rasa cinta pertamaku bukan kamu. Cinta pertamaku antara sewaktu aku SMP, atau dengan mantanku saat SMA itu. Bukan kamu. Aku menangis karena patah hati dan terluka oleh pria di masa SMP dan SMA-ku, dan bahkan aku nggak pernah sekalipun menangisi kamu dengan perasaan terluka (kalau sekadar merasakannya aja, tentu. Tapi bukan sampai level menangis karena alasan itu ya).

Aku menuliskan ini semua tanpa ada rasa sedih. Anehnya, aku malah tersenyum dan aku merasa bahagia. Aku mungkin nggak akan pernah tahu masa depanku bagaimana, namun, mencintai seseorang itu adalah anugerah terindah dari Tuhan untukku sebagai manusia. Aku mengerti dan tau apa yang aku rasakan. Aku pernah menuliskan, ketika kita jatuh cinta, kita juga harus siap merasakan rasa sakit dari 'jatuhnya' namun ternyata, jatuh cinta itu indah banget.

(Aku tetap aku yang cantik dan menawan, dan memang karenamu... aku semakin mencintai diriku sendiri juga)

Apa karena perasaanku untuk kamu memang tanpa ada ekspektasi? Maksudku, coba bayangkan ketika posisinya adalah membesarkan anak atau memelihara binatang. Senakal-nakalnya anak, kita akan tetap sayang, kan? Binatang pun, misalnya ikan, juga nggak bisa melakukan apapun selain hanya diberikan makanan dan dibersihkan kandangnya, namun kita tetap sayang, kan? Aku selalu merasakan, perasaanku seperti ini ke kamu (atau mungkin, karena aku adalah orang yang sangat gampang empati ke orang, aku terbiasa memberi, memberi, memberi aja. Uniknya di kasus ini, kamu melebihi level dari orang-orang lain yang kuperhatikan).

Aku belajar banyak dari kamu. Tentang kesabaran, tentang ketulusan tanpa pamrih, tentang bagaimana seseorang bisa menjadi berguna dan mampu memberi arti dalam diam, tentang menjadi tenang, tentang mencoba untuk selalu jadi versi terbaik dari diri sendiri, tentang menjadi cerdas.

Kalau dipikir sekarang, mungkin aku memang terlalu muda waktu itu untuk tahu seperti apa cinta sebenarnya. Tapi setelah semua yang terjadi dalam hidupku, aku bisa bilang:

Kamu adalah cinta yang membuatku tumbuh.

Wah, kalau memang Tuhan memberikan waktu untuk aku bisa bilang aku cinta banget sama kamu dari dulu sampai sekarang secara langsung dan bukan dari tulisan ini, I would! Kaya.... aku mau berterima kasih banget ke kamu, karena kamu sudah hidup dan muncul di hidupku sehingga aku bisa merasakan cinta sedalam ini, bahkan selama satu dekade non-stop (rasa debarannya, senangnya, mau lompat kesenangannya masih selalu ada setiap aku bertemu kamu, bahkan di pertemuan terakhir kita yang lalu. Tapi, aku harus tetap kalem kan, nggak mungkin aku nyengir, cengengesan, jingkrak-jingkrak di depanmu, walaupun mungkin mataku sudah se-obvious itu).

Ada masa di mana aku menjauh dan memilih pergi dulu. Aku nggak tahu apakah kamu sadar atau tidak, tapi itu bukan karena aku berhenti peduli. Justru karena aku peduli terlalu dalam, sampai aku takut kehilangan kendali atas diriku sendiri, namun aku nggak mau kata-kataku justru akan menyakitimu, atau orang lain. Dan kalau kamu pernah merasa aku tiba-tiba hilang atau bersikap dingin— aku minta maaf. Itu bukan salahmu. Itu caraku bertahan waktu itu.

Aku nggak tahu bagaimana hidupmu sekarang. Tapi aku benar-benar berharap kamu bahagia dan sudah berdamai dengan dirimu sendiri. Aku harap kamu punya seseorang yang mencintaimu dengan lembut, yang bisa melihat semua hal baik di dalam dirimu, seperti yang aku lihat dari dirimu dari dulu sampai sekarang. Dan kalau cinta datang lagi padaku, aku cuma berharap rasanya seindah dan sejujur rasa yang aku punya untukmu.

Kalau suatu hari nanti kita dipertemukan lagi— entah dalam bentuk apa, di waktu yang Tuhan pilih sendiri— aku harap kita bisa bertemu dalam versi terbaik diri kita, dan pelan-pelan mampu bicara tanpa jarak lagi untuk menyapa satu sama lain dengan hati yang sudah lebih jujur dan tenang. Aku gak tahu apa yang akan terjadi, tapi aku gak menutup segala kemungkinan apa pun, karena di antara semua hal yang datang dan pergi, aku percaya— ada yang memang ditakdirkan untuk pulang, pada waktunya. Mungkin kamu, mungkin bukan. Siapapun itu, aku akan menerimanya dengan hati yang sudah siap, tenang, dan penuh kasih. Tidak bisa dipungkiri, Tuhan masih mempertemukan kita mengorbit satu sama lain dalam suatu waktu setiap tahunnya. Jadi, aku rasa... memang masih ada tugas bagi kita berdua, entah apa, karena waktu yang diatur Tuhan memanglah yang terbaik. Aku harap kamu dan aku tidak perlu lagi menjadi asing... karena memang kita bukanlah orang asing. Buatku, hal terindah dari mencintai kamu adalah aku belajar untuk tetap percaya pada keajaiban waktu.

Melihat perasaanku sudah menetap selama 10 tahun lamanya, aku cukup yakin jika aku akan selalu ada untuk membantumu tanpa ada niat untuk menyakitimu sedikitpun.

Sekali lagi, terima kasih telah menjadi pohon rindang di kepalaku.

XOXO!

Comments

Popular posts from this blog

Keputusan Besar

Just like that. We finally decided that we'll go on our own way. :) Lega. Campur aduk. Deg-degan. Nggak ada perasaan sedih ataupun marah. Tapi, aku memang penasaran.. apakah aku dan pasanganku bisa memulai hidup sendiri tanpa kehadiran satu sama lain? Pasanganku saat ini memang banyak membawa pelajaran hidup. Dia membuatku menjadi lebih melihat dunia, lebih luwes, lebih santai, bisa tertawa daripada pusing memikirkan berbagai hal, dan bisa beristirahat sejenak. Sifat negatifnya pun banyak sekali, yang melatar belakangi aku memikirkan kembali hubungan ini. Rasanya, sudah cukup kami mendapatkan pelajaran masing-masing. Kami sama-sama mengakui, kami tidak bisa melihat masa depan kami secara bersama. Kami saat ini hanya menjalani rutinitas yang sudah terbiasa karena terbentuk bertahun-tahun. Kedua anak kami layak mendapatkan cinta yang utuh sebagai keluarga, namun kami tau kami tidak akan bisa memberikannya jika tetap bersama. Kami sama-sama berhak mendapatkan cinta yang utuh, hati yan...

Hey, Stranger

The first time I met you, I was paralyzed by your charm. Hypnotized and feeling warm. Then sat beside you, didn't know who you were. We were stranger back then. Your dazzling eyes knocked me down, that you did. I didn't even know what was it. It was something new for me to feel. You were always there whenever and wherever I was. Though it was just in a mind of mine. Hey, stranger, what have you done? Months passed earlier than I thought. Weird... cause God brought you to my life. Ten hours a day though I felt it wasn't enough. Everyday was like a real fairy tale, that it was. Hey, stranger, did you even remember how we were here? The first time I met you, I knew what kind of person you were. Cold hearted with guts, that you were. This feeling was true and pure. I was right because I got hurt. But I'd stay not retreat. Autumn and winter had passed. Left us with spring and new hopes. Hey, stranger, didn't you see that?

Mama ❤️

"You have to keep going with him. Think about your children," they said. "You were the victim of a broken home child. Don't let it happen to your kids," they said. Meanwhile, my mama: "Nita,⁩ gimana kabarnya semua..? Mama akan laporkan KDRT klu dia tidak bisa menepati janjinya ke mama utk menjaga baik² Nita, Hagia, Melodie. Nita hrs lawan KDRT ya, dan selalu lindungi dg penuh kasih sayang Hagia dan Melodie ya sayaang.. 😇🤗🥰🥰🥰🥰🥰🥰💖" Like, she always texts me like that. She said I need to leave him as soon as he hit me or my children. I think it's already in her instinct. I don't tell my mama that we fight, hit each other, and I have bruises because of him. She would kill him. Although I'm already a mother, I'm still her daughter. When I find a better man, who loves me deeply, who's soft and kind, she will let her guard down because she knows I'll be in the right hand. I realize now, I love my life so much. And, I won't...

Sampul Buku dan Lembarannya

Boleh nggak saya memohon satu hal? Cukup sederhana. Kebanyakan dari kalian hanya memandang sampul sebuah buku. Jika sampul itu berupa kulit, kalian akan langsung mengambilnya. Kalau buku itu hanyalah buku usang, entah siapa yang akan mengambilnya. Disini bukan tentang menilai buku dari sampulnya. Tapi tentang siapa yang akan mengambil buku itu. Munafik memang, kalau kita mengaku tidak melihat orang dari penampilan. Tapi entah kenapa saya letih dengan semua itu. Letih dengan tipuan paling sederhana. Saya ingin kalian tetap menatap saya dalam keadaan terburuk, terjelek. Bukan dalam keadaan sebaliknya. Apa terkesan saya sombong? Tidak, bukan itu maksudnya. Saya hanya ingin kalian membuka buku itu setelah melihat sampulnya. Saya bukan buku bersampul kulit. Saya hanya buku biasa. Lembarannya putih, polos, tanpa coretan. Saya butuh kalian yang dapat mengisi lembaran-lembaran ini, bukan hanya menggeletakkan buku ini ke lemari hingga usang.

Skies, Him, Love

Memandang langit adalah kesukaan saya. Pagi, siang, atau malam, tak peduli kapan dan di mana. Saya selalu kagum dengan awan pagi hari yang tampak seperti goresan kuas, lalu langit senja dengan warna jingganya di ufuk, hingga bulan bintang yang bersinar saat malam.  Memandang langit... membuat saya selalu bersyukur, dan semakin meningkatkan kepercayaan saya terhadap Tuhan. Saya, kamu, kita semua sebagai manusia hanya berupa debu di semesta. Saya baru saja menemukan tempat persembunyian yang tentram. Tempat di mana bisa memadu kasih dengan langit, dengan semilir angin yang sejuk dan menenangkan. Sebenarnya tempat itu sudah lama saya temui, namun baru akhir-akhir ini saya lebih suka "kabur" ke sana.  Rasanya... sangat ingin membawa selimut ke sana, dan perlengkapan teleskop. Hanya untuk berkenalan dengan semua yang ada di atas langit sana. Bintang polaris, sirius, minerva, bintang timur, ingin saya kenal semuanya. Di tempat itu, saya bisa melukiskan wajahnya...