Skip to main content

Posts

Minggu Sendu

Hari Minggu malam hujan kelabu. Menambah kenangan dirimu dengan syahdu. Semakin malam, aku semakin rindu. Terasa sesak di dada, hingga tak sadar air mata keluar dengan sendu. Betapa aku ingin mengatakan, "aku cinta kamu." Semua ini masih sama. Dulu, sekarang, dan mungkin... selamanya. Namamu terpatri abadi di dalam hatiku.

A Dream (is a wish)

I dreamt of you last night. You appeared so perfect, nice, and handsome. I was so happy and laughed at your jokes. You smiled at me and softly talked to me. We met at noon and I felt summer breeze touched my skin perfectly. There were also our friends in my dreams, we all sat comfortably, thus we both only spent the time closer with each other. You knew I only set my eyes on you. I knew you only set your eyes on me. We were the main characters, the rest felt like extras. We were already grown ups, but somehow... it felt like we spent the noon at the canteen after we finished the class. Your smile, soft gaze, attention, and voice filled me to the fullest— you lifted me up. However, when I woke up this morning, I felt the dream was so real until a sudden realization strucked in and I felt heavy on my chest— It was only a dream. Oh, how I wish to the wishing star that you may actually standing in front of me and I could feel those smile, gaze, attention, and voice directly. I remembered C...

What a Blessed Sunday

Ternyata aku bisa mengasuh 2 anakku sendiri. Sesekali dibantu oleh mama dan kakakku, tentunya. Aku sangat bersyukur ternyata memang Tuhan membuat aku mampu dan waras dalam mengasuh Gia & Odie. Capek? Iya. Ngantuk? Banget. But this too shall pass. Tertanda, dari Nita yang baru aja selesai menyuapi Gia makan nasi dan ayam dengan tangan kanan, sambil memangku Odie dan menyusuinya dengan tangan kiri yang memegang botol susu. Odie udah muat pake baju Gia. Baru aja selesai mandi tadi pagi. Selfie bareng Odie Odie sore ini sebelum dipangku Gia udah selesai makan, Odie ga lama bobo Gia udah ngerti banget diajak foto, senengnya diajak foto Me, happy and sane!  
Aku takut menjadi korban yang menormalisasi kekerasan yang terjadi padaku, menerima segala kondisi dan perlakuan buruk terhadapku, memaafkan, kemudian kembali menjalin hubungan yang tidak sehat, dan mencintai pelaku yang menyamar menjadi penyelamatku. Ya Allah, permudahkanlah setiap urusanku, entengkanlah beban ini semua, mampukan aku untuk mampu berdiri di atas kaki sendiri untuk merawat kedua anakku. Ya Allah, jodohkan aku dengan pria yang sangat menyayangiku dan mencintaiku, hingga pria itu nggak akan pernah tega untuk menyakitiku baik secara lisan, fisik, dan mental. Pria itu akan menjadi rumahku ketika aku sudah lelah dengan dunia, dia akan mengerti seluruh kemandirianku dan ketangguhanku hanyalah topeng, dan dia akan melindungi jiwa dan ragaku yang rentan dan sensitif agar aku merasa damai dan aman.

Musim Hujan

Jakarta dan Tamgerang Selatan penuh hujan beberapa waktu terakhir ini, namanya juga menjelang akhir tahun. Banjir, macet, debu, terjebak di jalan selama 3 jam bukanlah hal baru bagi masyarakatnya. Di saat aku menulis ini pun hujan deras sedang mengguyur rumahku, dan mungkin juga seluruh area Jakarta. Namun, Dibalik itu semua... setiap tahunnya secara konsisten ada aku yang bertanya-tanya: "Aren't you afraid of the weather?" "Did you get home safely?" "Did you use TJ / motorbike / LRT / walk through the traffic and flood?" "Aren't you afraid of your health?" "Is it blur?" "Could you walk properly and confidently, without any anxiety that you may hit, stumble, or fall?" "How's your body handle it?" "Did you wear jacket?" "Did you feel cold?" "Did your bring umbrella?" "Did you get fever after that?" Aku memikirkanmu dan mempertanyakan bagaimana kamu menghadapi hujan d...

Shattered Heart since 2019 Onwards

Dulu, waktu aku lagi berantem dan putus sama mantan semasa SMA, ada cowo yang peka sama kondisiku. Dia menghampiriku yang lagi duduk menyendiri, menunduk menyembunyikan wajah karena sedang menangis, sambil mendengarkan lagu dengan earphone. Dia menarik earphone tersebut dan bilang, "Kenapa lo?" Aku jawab, "gapapa." Dia nanya, "putus lagi?" Aku hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. "Nit, lo pernah ga tertawa karena jokes yang sama berulang kali? Nggak, kan? Jadi lo gausah nangis berulang kali karena hal yang sama." Terus dia duduk di sebelahku, menemani kesendirianku, menyampaikan humor-humor recehnya karena berusaha membuatku tertawa. *** Malam ini, aku kembali menangis lagi. Berulang kali untuk hal yang sama, disebabkan oleh orang yang kukenal sejak tahun 2019, dan ironisnya merupakan ayah dari kedua anakku. Aku berusaha janji dengan diriku sendiri untuk berhenti menangis karena dia. Namun, ternyata rasa sakitnya, merasa terhina, merasa renda...