(TRIGGER WARNING: isinya tentang self harm dan obat psikiatri, yang nggak pernah aku tuliskan di blog sebelumnya)
Aku baru aja selesai berbincang melalui telepon dengan salah satu teman kuliahku, yang di mana kami sudah lama berdiam-diaman. Nggak nyangka, ternyata obrolan kami udah mengalir selama 2 jam. Banyak hal yang kami lewati di masa kami tidak berbicara, dan akhirnya obrolan itu terjadi begitu saja.
Ini adalah fase di mana 2 orang akhirnya meruntuhkan egonya masing-masing, untuk kembali berbicara. Memang waktunya udah lewat lama banget, tapi lebih baik telat daripada tidak, kan?
Aku meminta maaf padanya, mengatakan perasaan bersalah yang terus menghantuiku selama bertahun-tahun. Tapi ternyata, dia justru merasa kecewa denganku karena hal yang lainnya. Katanya, kekecewaannya karena aku dulu self-harm.
Iya, aku memang senang menyakiti diriku sendiri sejak masa SMA hingga perkuliahan. Entah menyilet pergelangan tanganku karena aku suka melihat darah yang keluar dari tanganku, atau memilih untuk merokok 1 bungkus rokok hanya dalam waktu 1 jam agar dada terasa sesak. Tapi, aku self-harm bukan karena mau mati beneran. Aku hanya menyukai sensasi diriku yang terluka.
(Foto-foto jaman SMA, keliatan ceria banget di luar, functioning, tapi aslinya dark banget)
Dulu, aku memang merasakan hidupku sangat berat, hidupku tidak adil, aku benci kehidupanku, dan aku selalu memandang diriku sebagai korban.
Anak yang dibuang orang tua kandungnya, hampir mau ditaruh di panti asuhan, diadopsi oleh kakak ibu kandungku — mama Uli, papa Dodiet, dan kedua kakakku yang walaupun sangat sayang sama aku... tapi juga posesif, dan kedua orang tua yang mengadopsiku tidak harmonis. Sejak kecil, aku suka iri dengan teman-teman yang dipuji mirip orang tuanya, iri dengan kedua kakakku yang mirip dengan mama dan papaku, merasa tersentil setiap dengar kata anak pungut, ibu kandungku aku panggil "tante" dan tidak ada perannya sebagai ibu di dalam hidupku, mendengar pertengkaran mama Uli dan papa Dodiet hampir setiap hari — piring pecah, makian, dan cacian, aku dituntut untuk selalu menjadi pintar — maksimal ranking 3 besar di kelas, harus selalu belajar, tidak boleh baca komik (kalau ketauan komikku akan dirobek), dituntut menjadi dokter supaya meneruskan trah dokter di dalam keluarga besar.
Hidupku selalu penuh dengan ketegangan, tidak boleh melakukan kesalahan sekecil apapun, dan harus selalu menurut omongan yang lebih tua.
Aku benci itu semua.
(Intermezzo: Mungkin itu salah satu sebabnya juga, sampai aku dewasa saat ini, aku sangat benci orang yang emosional, suka membentak, memaki, dan mencaci).
Mantan pacarku saat aku SMA, nggak tau aku suka self-harm (tapi dia tau aku sesekali merokok, dan diamuk sama dia, LOL). Yang tau hanya teman-teman terdekatku hingga jaman kuliah. Dulu, aku suka minta ditemani supaya aku bisa terkontrol, nggak 'lewat,' dan supaya aku bisa dimarahin.
Saat kuliah di jurusan ekonomi, aku merasa harus bisa bersinar, karena aku bodoh dan sebenernya benci banget sama matematika. Aku masuk ke kampus yang bukan tujuan utamaku, dan aku terjebak di jurusan ekonomi. Kakakku alumni kampus yang sama denganku, dan sangat... pinter, populer, cantik. Semua diambil sama dia. Bahkan saat aku masuk kampus, dosen-dosen masih mengingat kakakku walaupun sudah 10 tahun waktu terlewati. Aku merasa, aku harus bisa mengalahkan kakakku sendiri supaya aku nggak dianggap adek yang bodoh. Setelah aku berhasil melampaui kepinteran dan kepopuleran kakakku, standar yang aku berikan kepada diriku sendiri justru makin tinggi, dan aku makin ambisius. Aku malah menjadikan diriku sebagai standar dasar yang harus bisa aku saingi sendiri.
Bahkan, aku pernah menangis karena ujian Statistika-ku dapat A-, padahal harusnya dapat nilai A. Nilaiku dipotong karena aku ikut ujian susulan, walaupun aku beneran murni nggak tau bocoran soalnya. Padahal, aku ujian susulan juga untuk kompetisi mewakili kampus 🙃 aku nangis tersedu-sedu, karena nilai itu mempengaruhi IPK-ku. Seharusnya, setidaknya aku bisa dapat IPK >3.7.
Lalu, aku menyadari... ternyata memang dari kecil aku dididik supaya ambisius 😆
Pokoknya, lawannya Nita ya Nita sendiri. Nggak kepikiran untuk rival dengan siapapun
(Walaupun ada 1 cewek yang anggep aku saingannya, karena terucap langsung dari mulutnya, LOL. I was even like ngebatin, "girl, I don't ever think you ever exist tho.")
Bikin stress diri sendiri, ya? Hahahaha.
Di lain sisi, sejak SD, aku selalu mempunyai badan dan suara yang tremor (bergetar). Aku pikir, itu normal, dan memang itu adalah aku. Ternyata, dengan aku tremor aja, udah indikasi ada yang nggak baik di dalam tubuhku.
Di suatu masa di tahun 2017 akhir atau 2018 awal, salah satu dosen ada yang memegang tanganku dan bertanya, "Nita, kamu gapapa?"
"Gapapa, Bu. Emang ada apa?"
"Kamu takut sama saya?"
"Hah? Nggak kok, Bu, biasa aja..."
"Kok tangan kamu gemetar banget?"
Di situlah aku sadar, aku nggak baik-baik aja. Di rumah, aku melakukan pengecekan pada badanku sendiri, dan aku sadar kalau di leherku ada benjolan yang bahkan aku nggak tau kapan munculnya.
Saat itu, aku panik dan bilang ke mama. Mamaku awalnya sangat denial dan nggak mau bawa aku ke dokter, walaupun pada akhirnya kami tetap ke dokter. Aku pikir, aku kena hipertiroid seperti kakakku. Karena kakakku juga tremor dan ada benjolan di lehernya. Akhirnya, aku dan mamaku ke internist, dan setelah tes lab, aku didiagnosa hipotiroid. Jika hipertiroid adalah kelebihan hormon tiroid, aku justru kekurangan hormon tiroid.
Internistku, hanya berkomentar:
"Kamu nggak harus selalu perfect. Manusia itu wajar kok berbuat kesalahan."
Padahal, aku nggak cerita apa-apa.
Dokter hanya melihat badanku yang tremor dan benjolan di leherku. Lalu setelahnya, beliau memberikan aku menu makanan untuk kontrol hipotiroidku, dan untuk obatnya???
Selain diberikan obat untuk tiroid, aku diberikan:
Alprazolam.
Diazepam (merk dagang Valisanbe)
Propanolol.
😀
ALIAS OBAT PSIKIATRI SEMUA.
Untung aku nggak dirujuk ke RSJ 😀
(Foto obat-obatanku. Apoteker pun bertanya untuk siapa obat ini 😀 temenku yang juga jurusan farmasi pun saat itu berkomentar, itu obat yang berat)
Mamaku cerita ke Budeku, yang juga seorang dokter farmakologi. Budeku marah, katanya, buat apa remaja seusiaku dikasih obat keras kaya gitu? Sampai nanya dokternya siapa, lulusan mana, dsbnya. Fyi, both of my mama & bude sudah sepuh, dan beliau adalah dokter yang disegani karena beliau adalah gurunya para dokter 😀
Setelah mengonsumsi obat-obat tersebut, aku memang berhenti self-harm, aku merasa sangat tenang hingga kesulitan untuk bisa konsentrasi saat ujian. Bawaannya, mau rebahan, santai, tidur, nggak mau mikir berat. Pokoknya, motto hidup jadi: YOLO, selaw, sakaw.
(Foto-foto tahun 2018, era lagi ketergantungan obat, gampang banget ketidur)
Teman-temanku tau aku self-harm, namun, sepertinya mereka nggak tau deh di saat setelahnya aku berada dalam fase sedang konsumsi 3 obat psikiatri... atau mungkin tau, cuma nggak paham dengan efek atau penyebab kenapa aku minum obat itu.
Aku mengonsumsi obat-obat tersebut selama 6 bulan untuk dosis tertentu, dan seharusnya aku kembali kontrol ke dokter, untuk menilai dosisnya apa perlu ditambah atau dikurangi perlahan hingga bisa berhenti total. 3 obat ini emang nggak disarankan untuk berhenti dadakan, karena efeknya banyak. Nah, dalam kurun waktu 6 bulan itu juga, aku jadi banyak cari tau tentang ketiga obat itu.
Fakta yang aku baca:
1. Heath Ledger, pemain Joker di film Batman, OD karena Alprazolam dan Diazepam.
2. Ketiga obat ini bisa bikin aku mati rasa.
3. Bikin aku makin ketergantungan.
Di situlah, sodara-sodara sekalian, aku sadar:
AKU GA BOLEH KAYA GINI TERUS. AKU GAMAU OD KARENA OBAT, AKU GAMAU MATI KARENA STRESS, AKU GAMAU KETERGANTUNGAN OBAT, AKU GAMAU SELF HARM LAGI, AKU HARUS BERUBAH ....
.... dan aku sadar, kalopun aku mati karena bunuh diri / OD, aku nggak cocok jadi kuntilanak yang bisa ketawa melengking.
Pokoknya, aku nggak bisa bayangin aku meninggal karena itu semua.
Setelah 3 obat itu habis dalam waktu 6 bulan, aku nggak balik ke dokter, dan aku berusaha untuk bisa berfungsi normal lagi walaupun rasanya beraaaaat banget waktu itu.
Setelah aku pikir, mungkin itu alasannya:
1. Skripsiku mundur dari tahun seharusnya, aku nggak bisa lulus 3.5 tahun.
2. Aku menarik diri dari lingkunganku, lebih menjadi ansos. Malas berinteraksi dengan orang lain.
3. Aku mudah lebih baper sama suatu keadaan, ntah ke arah yang positif atau negatif.
Itu semua terjadi karena aku masih adaptasi setelah berhenti minum obat secara dadakan. Aku yang selama 6 bulan ketergantungan, menjadi lebih santai, tidur bisa pulas, rileks, tiba-tiba terputus begitu saja.
Surprisingly, aku masih bisa bertahan. Ternyata, fisik dan mentalku keren juga.
Resiliensiku tinggi banget.
😜
Aku bisa lanjut lulus kuliah di tahun berikutnya, masih cumlaude, lanjut freelance sana-sini, diterima sebagai karyawan dan karierku terus meningkat hingga sekarang, aku bisa punya anak. Kesimpulannya, aku bisa berfungsi normal hingga sekarang (walaupun tetap gagal move-on, LOL).
Aku sudah sangat mencintai hidupku sejak aku berhenti minum 3 obat itu, tepatnya sejak 2018. Justru, setelah aku punya anak, aku takut dengan kematian.
Potongan puzzle ini semakin komplit. Saat itu, jiwaku sedang sakit. Makanya aku sensitif banget dengan intonasi dan perubahan sesuatu pada orang lain. Lalu, aku juga jadi paham kenapa aku bisa cinta sama dia. Bahkan, masih selalu menyimpan dia di hatiku di usia dewasa ini, dengan kenangan manisnya. Di saat itu, hanya dia yang terlihat bercahaya di hidupku yang rumit dan gelap. Dia jadi inspirasiku, aku mau sekeren dia, aku mau sepintar dia, aku mau punya kedudukan layak seperti dia, aku mau effortless seperti dia. Seperti yang aku bilang berkali-kali, dia menjadikanku versi terbaikku sendiri, tanpa dia sadari. Berbeda dengan aku yang ingin bisa melewati prestasi kakakku dengan rasa tertekan, dengan dia, aku merasa ingin bisa seperti dia karena kagum.
Sekarang sih,
Aku beneran mode akan kutaklukan dunia, selama aku hidup, artinya Allah pikir aku masih berguna jadi manusia.
Dan sekarang apabila aku dihadapkan dengan malaikat maut, mungkin aku akan bernegosiasi agar usiaku bisa sampai aku punya cicit.
Kepada Nita usia 15-20 tahun,
Terima kasih sudah bisa bertahan sejauh ini. Tetap bisa bersinar, walaupun lagi di fase gila. Tetap bisa bergaul, walaupun terasa sunyi setelahnya.













Comments
Post a Comment