Udah kepikiran tentang kematian sejak beberapa waktu ke belakang.
Gue masih muda, tapi, siapa yang tau usia, kan?
Mungkin, sekarang inilah beberapa kemauan gue kalau nanti meninggal:
1. Meninggal di Mekkah
Kalau bukan di sana, semoga:
1. Meninggal di hari Jumat
2. Meninggal tanpa rasa sakit, entah dalam tidur atau ketika sedang beribadah (maunya sih pas sujud).
3. Dipakaikan wewangian yang mirip sedap malam, melati, karena gue suka aroma itu.
4. Dipakaikan wewangian yang mirip parfum Twilly, kesukaan gue.
5. Dimandikan menggunakan sabun kambing, seperti yang selama ini gue lakukan semasa hidup. Sabun kambing membuat kulit gue lembut, kenyal, sehat, dan cocok untuk kulit gue yang sensitif gampang kambuh eksimnya.
6. Dikeramaskan menggunakan shampo yang wangi manis, kaya aromanya Bath and Body Works.
Kalau diizinkan anggota keluarga lainnya, gue mau:
1. Jadi kadaver. Dalam keadaan seluruh organ tubuh lengkap, keadaan sempurna.
Mengingat gue telah mendonasikan kornea mata jika gue wafat nanti, gue kepikiran mau jadi kadaver per siang ini.
Terus untuk anak-anak gue, I believe they will survive and they will surrounded by the people who love them as much as I do.
Koleksi baju, kebaya, kain batik, celana bahan, celana jins, perhiasan, buku tolong dipakai sebaik-baiknya untuk anak-anak gue. Semoga mereka bisa merawat barang-barang itu, entah mencucinya dengan lembut, dilap ketika berdebu/memudar, menyimpannya dengan teratur di lemari/ rak.
Teruntuk anak-anak gue, dan temen-temen gue:
Kalian bisa lihat jejak diri gue di dalam blog ini, atau di buku harian yang isinya kerandoman gue, bagaimana cara gue mencintai, kesukaan gue, lagu-lagu favorit, dan sebagainya.
Untuk saat ini, kematian adalah hal yang menakutkan buat gue.
Gue belum siap meninggal, masih mau gedein anak-anak, mau bisa ketemu cicit, masih mau ketemu cowo yang cinta banget sama gue, mau bisa melakukan side quests yang gue pernah tulis di blog ini, masih mau jadi manusia yang berguna untuk manusia lainnya, masih mau cobain makan Pizza Quattro, mau banyak bertobatnya dulu.
Semoga gue masih bisa merasakan itu semua, sampai pada akhirnya gue siap untuk meninggal.
Oh, ya, jangan lupa: Gue udah donorin kornea mata. Jadi, tolong, ketika gue meninggal mata gue untuk segera diambil oleh para petugas yang ada.
Just like that. We finally decided that we'll go on our own way. :) Lega. Campur aduk. Deg-degan. Nggak ada perasaan sedih ataupun marah. Tapi, aku memang penasaran.. apakah aku dan pasanganku bisa memulai hidup sendiri tanpa kehadiran satu sama lain? Pasanganku saat ini memang banyak membawa pelajaran hidup. Dia membuatku menjadi lebih melihat dunia, lebih luwes, lebih santai, bisa tertawa daripada pusing memikirkan berbagai hal, dan bisa beristirahat sejenak. Sifat negatifnya pun banyak sekali, yang melatar belakangi aku memikirkan kembali hubungan ini. Rasanya, sudah cukup kami mendapatkan pelajaran masing-masing. Kami sama-sama mengakui, kami tidak bisa melihat masa depan kami secara bersama. Kami saat ini hanya menjalani rutinitas yang sudah terbiasa karena terbentuk bertahun-tahun. Kedua anak kami layak mendapatkan cinta yang utuh sebagai keluarga, namun kami tau kami tidak akan bisa memberikannya jika tetap bersama. Kami sama-sama berhak mendapatkan cinta yang utuh, hati yan...
Comments
Post a Comment