Skip to main content

Posts

Relapse day xxxxxxx Kan katanya kalau kita banyak melupakan memori kehidupan sendiri, artinya sebenernya trauma respons dari otak kita yang lagi melindungi diri sendiri dari ingatan yang menyedihkan. Nah, aku banyak melupakan memoriku. Aku hanya ingat sekilas aja tanpa detail. Jadi ketika aku buka blog ini dan kembali membacanya perlahan, aku kembali seperti mengenali kehidupanku lagi. TAPI. Khusus 1 orang ini... I remember it   him all to well. Apa karena otakku mengasosiasikan dia sebagai memori indah di kehidupanku? Mall, aroma parfum, caranya tertawa, caranya berdiri, lagu, makanan, jalanan, sumpia udang, F1, Keanu Reeves, MU, hampir semuanya... selalu membuat memori ini hidup di dalam kepala. Aku tidak keberatan dengan memori ini, aku menyukainya. Walau terkadang ada rasa sedih, "mengapa ini harus hidup sebagai sebuah memori?" Oh, I wish it's not just a memory. Oh, I wish he is my reality. Put yourself together, girl. You can do this. You can do EVERYTHING even with ...

Refleksi Diri

Aku selalu yakin, karakter asli seseorang akan terlihat dari caranya menghadapi konflik dan terutama saat... marah. Sebagai anak hasil didikan orang tua serba militer yang tegas dan disiplin, rasanya aku sudah kebal menghadapi orang-orang luar yang kelakuannya nyeleneh. Karena, seumur hidup aku udah latihan mental di rumah, dan memang orang tuaku adalah sosok yang paling aku takuti. Sejauh ini, dari hubungan terakhirku, aku pernah dikatain: "Dasar anak pungut!" "Dasar anak sampah!" "Dasar pelacur!" "Lonte!" "Anjing lo!" "Saya pikir, kamu bilang cinta sama anak pertamamu, padahal itu bullshit. Kamu hanya mementingkan diri sendiri." Aku lebih sering malas berdebat hanya mengatakan, "iya. Iya. Iya" dibandingkan membalas ucapan mereka. Karena kalau aku ikut buka mulut, orang-orang akan kaget dengan reaksiku. Itulah yang mereka rasakan setiap kali aku memilih untuk tidak menjaga lisanku, padahal aku hanya membela diriku d...

Once Upon a Sunny Morning with a Bare Face

I am as free as a bird now. I am ready to fly high, again. I am ready to bounce back. I reclaim my energy. I let go of the things and people who drain me. Nothing and no one could make me feel inferior. I'll be happy, wealthy, healthy. Finally, I get my spark back!!!! Wajahku akhirnya udah mulai kembali ke wajah asliku: tenang, sejuk, manis, lucu, anggun, menawan. Ternyata, melepaskan beban itu sangat berdampak ke perubahan wajahku (coba baca ini:  The Roller-Coaster Journey of Motherhood ) Inilah wajahku tadi pagi tanpa polesan make-up apapun, sambil menyusui DBF ke Odie ( responsible working Mama ). As seen in the photos below, sudah terlihat banget kondisi kulit wajahku kian membaik. Hanya ada bekas kemerahan jerawat yang akan bisa dihilangkan cepat di klinik kecantikan (tapi bukan prioritasku saat ini, karena bisa ditutupi concealer, hehehe), bibirku konsisten berwarna merah-muda, dan mataku terlihat hidup kembali. Tugasnya hanya tinggal sedikit (selain menghilangkan noda kemer...

Warlok Bali

Waktu itu, aku lagi terpuruk banget... butuh pelarian sementara, kabur. Oleh karenanya, I texted my cousin and directly asked her, "Bali yuk." She replied, "yuk." Lalu, pada akhirnya, karena kami waktu itu masih full WFH (alias gak perlu ke kantor untuk kerja), kami langsung cari tiket pesawat, hotel, dan penyewaan mobil. Semuanya hanya butuh hitungan hari untuk seluruh persiapannya. Ada untungnya juga menjadi orang yang adaptif dan spontan. Of course , sebagai seorang ibu I also brought my little daughter to came along with me. Cuma sendirian tanpa orang dewasa lain yang menemaniku, aku bawa bayi, 2 koper ukuran besar dan ukuran kabin, dan juga ransel isi popok. Aku ambil flight subuh, biar anakku bisa tidur nyenyak di jalan, nggak rewel, dan juga menyimpan tenaga untukku sendiri buat bisa istirahat tanpa harus menenangkan anak yang rewel. Sodaraku, memilih untuk pergi naik bus dan dilanjut kapal, karena dia belum pernah coba naik bus antar kota sebelumnya. Sungguh...

Worthy Soul

I like deep hugs. I like holding hands. I like unexpected kisses. I like to be clingy. I want it everyday. I want to be loved, seen, heard, wanted, and needed. I want intimacy, connection, feeling warm and safe. I want a bond, soul to soul. A real love. Not a lust. I was kissed and hugged by love, several times, years ago in juvenile times. I was kissed and hugged by lust, several times in adult times. They longed for more hugs and kisses, they craved me. Some came from the intimacy and connection built in trust and affection, the rest... came from lust. As a lover woman, I know the difference, I could feel it... and I hate how lust could tainted the intimacy, connection, and the bond of souls. I hate how lust could made it as if an assault where I was only an object, not a subject. I hate how intimacy and connection eventually could became a lust. I miss to feel the sacred of love, where it overflows with intimacy and connection. Where eyes could speak to another eyes, without needing...

I Feel Gorgeous Today

I just bought a new lipstick. Warnanya shade orange-coral, which means... back to BASIC ❤️ Dulu ya, aku gak mau banget pakai lipstik. Pertama, aku takut banget pake lipstik karena takut keracunan. Efek kebanyakan nonton CSI, Criminal Minds, dan serial crime lainnya. Kedua, aku gak suka dibilang genit dan centil. But, along the way, ternyata aku memang mengakui diriku ini genit dan centil. Aku senang terlihat cantik, menawan, well dressed, well groomed. Kepercayaan diriku tinggi banget kalau aku lagi pakai pakaian yang terlihat rapih, color coordinated, stylish; diikuti dengan rambut yang mengkilap, lembut. Kadang dicatok keriting, kadang hanya blow-out dan emphasize rambut lurus naturalku; wajah yang dipoles makeup mulai dari bibir, polesan blush-on, maskara, eyeliner; dan nggak lupa... aroma harum spicy dan floral yang tercium mulai dari tubuh dan rambutku. Kalau aku lagi terlihat well dressed dan well groomed, banyak orang yang memperhatikanku dengan seksama. Mulai dari dipermudah me...
Tonight's self note: I meant nothing to him. Never ever meant something to him. I was no one, nobody, not as a friend, or anything else. I am irrelevant to his life, meanwhile he is relevant to mine. That's the bitter truth  highest chance of assumption that I finally realize NOW, after putting him deep in my mind for a decade. He's trully the love that makes me grow in silence. :)