Skip to main content

Intermezzo: as strong as Keanu


Dunia lagi (masih) berkabung dengan meninggalnya Chester, vokalis Linkin Park. Bunuh diri, narkoba, dan overdosis bukanlah hal asing yang kita dengar dari orang-orang panutan kita. Contoh lainnya, Robin Williams. Atau Amy Winehouse. Ada juga Cory Monteith. Siapa yang mengira jika mereka semua akan meninggal secepat itu? Mendahului takdir mereka. Memilih untuk menderita selamanya di dalam siksaan neraka daripada menjalani hidup yang penuh cobaan.

Ironisnya, saya selalu merasa orang-orang yang terjebak 'dunia terlarang' ini adalah orang baik yang sebenarnya butuh pertolongan. Mereka butuh dukungan orang-orang di saat masa kelamnya, mereka butuh teman untuk mengingatkan adanya Tuhan YME. Orang-orang ini telah menjalani kehidupan yang berat, penuh cobaan, siksaan, dan tekanan batin. Mereka tidak membutuhkan anda yang hanya bisa menyinyir, karena mereka tahu mereka akan hancur mendengarnya.

Satu tokoh yang masih (DAN SELAMANYA) saya kagumi adalah Keanu Reeves. Kisah hidupnya sudah nggak asing lagi kita dengar. Sebelum terkenal, cobaan hidupnya sudah berat sejak kecil. Saat di masa kejayaannya menjadi aktor, istrinya mengalami keguguran. Lalu dia bercerai. Namun tak lama kemudian mantan istri yang masih dicintainya meninggal. Anda bisa cek sendiri di internet untuk mencari kisahnya, kok. Tapi, Keanu Reeves selalu hidup dengan kesederhanaan. Dia lebih memilih menyumbangkan pendapatannya dari film The Matrix, naik angkutan umum, tinggal di tempat sederhana... astaga, Keanu Reeves adalah sebuah panutan.

Sifatnya yang membuat saya suka dengan Keanu Reeves, selain karena wajahnya.
Astaga, andai lebih banyak Keanu Reeves lainnya di dunia ini. Tetap sabar menghadapi cobaan dunia.

Saya harus berterima kasih, karena Keanu Reeves saya masih bisa bertahan hingga sekarang.

Comments

Popular posts from this blog

(Different) Twins

Dear Nadia, I never thought that I can befriend with you. It's nice having a good friend, a dear good friend, that's an introvert version of my self. You're the INTP and I'm the ENTP, so I'm feeling like you know me better than anyone else. As I said earlier to you, maybe we're like twins. It's just the one tiny different that makes us different, and I'm glad with it. Honestly, before I met or knew you, I thought you're an arrogant and selfish woman because you look soooooo quite and you're classy (SERIOUSLY), LOL. Even before our introduction, I always love your sense of fashion... Your sense of fashion is a little bit similar to me. And once again, I think we're twins from different womb, lol. But then things changed and we met. It was a little bit awkward at first but I still remember how we think about the same thing at the same time, and before I knew you're an INTP, I had this feeling that you're like me, something about you r...
((relapse)) Kalo diinget, gue nggak pernah nangisin ini cowo, atau biarin emosi gue luber. Mungkin itu alasannya gue susah move on, ya? Gue kebanyakan menekan emosi gue selama ini, memilih diam, menghilang. Tapi tanggal 27 Agustus 2026 kemarin, tau-tau gue menangis. Bukan yang histeris hingga sesak napas, tapi air matanya keluar begitu aja tanpa henti. Mungkin akan ada kambuh berikutnya. Tapi gue jadi semakin yakin lagi dengan kapasitas diri gue ketika mencintai. Kalo gue bisa mencintai orang lain sedalam itu, maka gue tau, gue juga berhak dicintai orang lain sedalam itu dan gue tau orang itu akan selalu mengusahakan gue sesederhana karena takut kehilangan gue.

OHANA

Haiiiii! This time, I'm too excited to tell you about my OHANA a.k.a Family. Seperti yang kalian udah baca di postingan pertama gue, Sisterhood Last Forever, kalian tahu kalo gue itu anak bontot, anak yang paling kecil, anak bungsu. Di post itu gue udah menceritakan tentang Mba Tita dan Mba Andes. Tapi... rasanya ngga lengkap kalo hanya mereka yang diceritakan. Left - Right: Mba Andes, Mama, Me, Mba Tita di suatu acara pada tahun 2011 Mama gue itu rambutnya selalu aja pendek. Dulu waktu gue masih 5th rambutnya masih panjang sihh, tapi sejak itu juga rambutnya jadi pendek :p Sedangkan Mba Tita dan Mba Andes itu dulunya ngga hijabers. Rambut mereka sebelum pake jilbab itu.... Badai. Angin topan. Wuss. Tsunami. Tapi sejak selesai kuliah dan udah beberapa bulan kerja, kira-kira pas gue kelas 2 SD mereka baru pake jilbab. Gue akan seperti mereka kalo udah sukses. Hehe Left - Right: Me, Mba Andes, Eyangti, Mba Tita, Mama di Lebaran tahun 2012 Di foto yang diata...
Kita memang nggak bisa menyelamatkan orang lain kalau orang itu nggak mau diselamatkan, kan? Sebesar apapun rasa cinta gue ke dia, gue nggak akan bisa memberikan itu semua dan dia nggak akan bisa menerimanya. Karena dia tidak mencintai dirinya sendiri terlebih dahulu. Gue bisa memeluk lukanya, apabila dia sudah berani memeluk lukanya sendiri. Gue bisa memberikannya cinta terbesar yang pernah dia rasakan, apabila dia sudah mampu mencintai dirinya sendiri.
Just when I about to send the message, a sudden realization come to me. Thus, I shall keep my pride. However, My heart can't lie. My brain can't lie. So, with the little prayer, I shall say... A year has passed. May you always find good things in life. Have a blast.