Skip to main content

Midnight Babbling 2.0

Setelah baca ulang tulisan-tulisanku dulu, aku menyadari betapa aku udah berkembang sekarang. My early posts were my rage era. Lol. Mayoritas tulisannya kalo ga ngamuk, marah, baper, merasa hidup itu sangat unfair. Semoga sekarang aku bisa punya kontrol emosional yang bagus, lebih bijaksana setiap harinya.

Sekarang sudah dini hari, dan di saat inilah aku kembali kontemplatif. Banyak introspeksi diri, membandingkan diriku di tahun 2012, 2013, 2014, 2015, 2016, 2017, 2018, 2019, 2020, 2021, 2022, 2023, 2024, dan 2025. Aku kini udah bisa lebih berdamai dengan diriku sendiri, kisah hidupku, takdirku. Sesulit-sulitnya hidup, life is worth living.

Kini, aku percaya, aku hidup karena punya tujuan. Entah tujuannya apa, tapi Allah masih mempercayakan aku untuk bisa lalui segala cobaan hidup, dan menganggap aku masih berguna. Motto hidupku menjadi, "aku bisa. Gausah khawatir, I'll get through this. I can do it. Selama aku hidup, aku pasti bisa melalui segala cobaan."

Hal itupun somehow terbawa ke dunia kerja, sampai kolegaku, once, pernah bilang:
"I know you can do it. I trust you. You're juggling between work and being a mom. You're excellent at doing your job and you're an amazing mom. You  can be responsible and taking care of anything around you, but please, you have to take care of yourself, too. Think about yourself, your happiness, your health both physically and mentally."

Ucapannya memang buat aku berpikir berkali-kali. Terlepas peranku sebagai seorang karyawan, kolega kerja, sahabat, anak, 
ibu... siapakah aku sebenarnya?

Aku sanggup bertahan, tapi, apakah aku harus selalu dalam mode bertahan? Lalu, apa aku memang selalu dalam mode bertahan? Atau, memang inilah aku? Seseorang yang memang tahan banting?

Aku rasa, aku memang banyak kehilangan identitas diri. Nita yang senang melukis, menggambar, membaca buku, berkhayal, merajut, where did she go?

Krisis identitas memang wajarkah dialami seorang wanita dewasa?

Aku rasa, terlahir menjadi seorang pria aja udah sebuah keuntungan di dunia ini. Semakin bertambah dewasanya pria, akan semakin dianggap matang, gajinya lebih mudah naik dibandingkan wanita, potensinya makin besar, kariernya lebih bisa meningkat dibandingkan wanita.

Sementara wanita?

Monolog pada Barbie: The Movie sums up of how being a woman:

“It is literally impossible to be a woman. You are so beautiful, and so smart, and it kills me that you don’t think you’re good enough. Like, we have to always be extraordinary, but somehow we’re always doing it wrong.

You have to be thin, but not too thin. And you can never say you want to be thin. You have to say you want to be healthy, but also you have to be thin. You have to have money, but you can’t ask for money because that’s crass. You have to be a boss, but you can’t be mean. You have to lead, but you can’t squash other people’s ideas. You’re supposed to love being a mother, but don’t talk about your kids all the damn time. You have to be a career woman, but also always be looking out for other people. You have to answer for men’s bad behavior, which is insane, but if you point that out, you’re accused of complaining. You’re supposed to stay pretty for men, but not so pretty that you tempt them too much or that you threaten other women because you’re supposed to be a part of the sisterhood. But always stand out and always be grateful. But never forget that the system is rigged. So find a way to acknowledge that but also always be grateful. You have to never get old, never be rude, never show off, never be selfish, never fall down, never fail, never show fear, never get out of line. It’s too hard! It’s too contradictory and nobody gives you a medal or says thank you! And it turns out in fact that not only are you doing everything wrong, but also everything is your fault.

I’m just so tired of watching myself and every single other woman tie herself into knots so that people will like us. And if all of that is also true for a doll just representing women, then I don’t even know.” - America Ferrera, Barbie

Aku menyadari kalau aku selfless, yaitu, memang lebih banyak mengalah untuk orang-orang yang aku cintai dan sayangi. Aku bahagia bisa melihat mereka bahagia. As simple as that. Aku rasa, aku harus bisa ini-itu, karena memang tanggung jawabku banyak, dan tidak bisa dipungkiri.. dibutuhkan tenaga, waktu, uang, untuk bisa membuat mereka bahagia.

I am the love that I give, not the love that I receive.

Aku adalah orang yang akan menunggu kalian mengikat tali sepatu di saat orang lain sudah berjalan di depan.

Aku adalah orang yang akan menoleh ke belakang jika kalian berjalan di belakangku, memastikan agar langkah kakiku tidak terlalu lebar.

Aku adalah orang yang akan mendengar cerita kalian di jam 2 pagi, di saat aku sudah harus pergi kembali bangun pada pukul 5 pagi.

Aku adalah orang yang akan menemani kalian di UGD berjam-jam hingga akhirnya bisa mendapatkan kamar.

Aku adalah orang yang akan memberikan kalian kulit ayam KFC, padahal aku suka banget kulit ayam.

Aku adalah orang yang akan membiarkan kalian memilih yang kalian inginkan dulu, baru aku yang mengambil sisanya.

Aku adalah orang yang tidak bisa benci pada kalian, apabila kalian memang sudah aku cintai dan sayangi (seperti tulisan-tulisanku sebelumnya, bahkan aku masih mencintai seseorang di versi dulu dan versi sekarang).

Pantas aja, memang beberapa kali diingatkan, "jangan terlalu baik jadi orang, nanti dimanfaatkan." Aku rasa, kalau aku sudah sayang dan cinta, akupun tidak masalah dimanfaatkan. Toh, aku nggak mengharapkan imbalan apapun.

Aku hanya memberi, memberi, memberi, memberi.

Itu sudah cukup buat aku bahagia. Jadi, siapa aku? Apa boleh kebahagiaanku cukup dengan membuat orang yang aku cintai dan sayangi bahagia?

Bukankah sangat beruntung apabila sudah dicintai dan disayang olehku?

Someday, when love finds me again (kali ini dalam konteks asmara), aku harap cinta itu akan berbentuk seperti:
"I know you can, but let me help you."

Butuh keberanian besar untuk bisa menggapaiku, menjadi lebih selfless dibandingkan aku sendiri dan demi diriku sendiri, meluluhkan aku supaya aku bisa lebih tenang menjalani hidup, menguatkan mentalku, dan menimbulkan kembali hobi-hobiku yang telah mati. Yakinkan aku, beranikan diri, maka aku akan meruntuhkan tembokku, egoku, dan aku akan terus berusaha berikan yang terbaik untukmu.

Comments

Popular posts from this blog

Keputusan Besar

Just like that. We finally decided that we'll go on our own way. :) Lega. Campur aduk. Deg-degan. Nggak ada perasaan sedih ataupun marah. Tapi, aku memang penasaran.. apakah aku dan pasanganku bisa memulai hidup sendiri tanpa kehadiran satu sama lain? Pasanganku saat ini memang banyak membawa pelajaran hidup. Dia membuatku menjadi lebih melihat dunia, lebih luwes, lebih santai, bisa tertawa daripada pusing memikirkan berbagai hal, dan bisa beristirahat sejenak. Sifat negatifnya pun banyak sekali, yang melatar belakangi aku memikirkan kembali hubungan ini. Rasanya, sudah cukup kami mendapatkan pelajaran masing-masing. Kami sama-sama mengakui, kami tidak bisa melihat masa depan kami secara bersama. Kami saat ini hanya menjalani rutinitas yang sudah terbiasa karena terbentuk bertahun-tahun. Kedua anak kami layak mendapatkan cinta yang utuh sebagai keluarga, namun kami tau kami tidak akan bisa memberikannya jika tetap bersama. Kami sama-sama berhak mendapatkan cinta yang utuh, hati yan...

Hey, Stranger

The first time I met you, I was paralyzed by your charm. Hypnotized and feeling warm. Then sat beside you, didn't know who you were. We were stranger back then. Your dazzling eyes knocked me down, that you did. I didn't even know what was it. It was something new for me to feel. You were always there whenever and wherever I was. Though it was just in a mind of mine. Hey, stranger, what have you done? Months passed earlier than I thought. Weird... cause God brought you to my life. Ten hours a day though I felt it wasn't enough. Everyday was like a real fairy tale, that it was. Hey, stranger, did you even remember how we were here? The first time I met you, I knew what kind of person you were. Cold hearted with guts, that you were. This feeling was true and pure. I was right because I got hurt. But I'd stay not retreat. Autumn and winter had passed. Left us with spring and new hopes. Hey, stranger, didn't you see that?

Mama ❤️

"You have to keep going with him. Think about your children," they said. "You were the victim of a broken home child. Don't let it happen to your kids," they said. Meanwhile, my mama: "Nita,⁩ gimana kabarnya semua..? Mama akan laporkan KDRT klu dia tidak bisa menepati janjinya ke mama utk menjaga baik² Nita, Hagia, Melodie. Nita hrs lawan KDRT ya, dan selalu lindungi dg penuh kasih sayang Hagia dan Melodie ya sayaang.. 😇🤗🥰🥰🥰🥰🥰🥰💖" Like, she always texts me like that. She said I need to leave him as soon as he hit me or my children. I think it's already in her instinct. I don't tell my mama that we fight, hit each other, and I have bruises because of him. She would kill him. Although I'm already a mother, I'm still her daughter. When I find a better man, who loves me deeply, who's soft and kind, she will let her guard down because she knows I'll be in the right hand. I realize now, I love my life so much. And, I won't...

untitled

I think my boss is right. I forgot to taking care of myself. I can't balancing my life as a mother, an employee, and a person. I'm overwhelmed. I'm tired. I'm exhausted It's time for me to take a rest. I will keep going, but, first, I need to put myself together again. Terbentur, terbentur, terbentur... terbentuk.

Sampul Buku dan Lembarannya

Boleh nggak saya memohon satu hal? Cukup sederhana. Kebanyakan dari kalian hanya memandang sampul sebuah buku. Jika sampul itu berupa kulit, kalian akan langsung mengambilnya. Kalau buku itu hanyalah buku usang, entah siapa yang akan mengambilnya. Disini bukan tentang menilai buku dari sampulnya. Tapi tentang siapa yang akan mengambil buku itu. Munafik memang, kalau kita mengaku tidak melihat orang dari penampilan. Tapi entah kenapa saya letih dengan semua itu. Letih dengan tipuan paling sederhana. Saya ingin kalian tetap menatap saya dalam keadaan terburuk, terjelek. Bukan dalam keadaan sebaliknya. Apa terkesan saya sombong? Tidak, bukan itu maksudnya. Saya hanya ingin kalian membuka buku itu setelah melihat sampulnya. Saya bukan buku bersampul kulit. Saya hanya buku biasa. Lembarannya putih, polos, tanpa coretan. Saya butuh kalian yang dapat mengisi lembaran-lembaran ini, bukan hanya menggeletakkan buku ini ke lemari hingga usang.