Skip to main content

Penuh Tanya

Kadang aku bertanya-tanya,

Bagaimana rasanya kalau orang yang duduk di depanku adalah seseorang yang selalu mengerti bahasa hatiku, bahkan sebelum aku sempat mengucapkannya?

Bagaimana rasanya kalau orang tersebut selalu mengerti ucapan mataku, misalnya dengan meminta maaf walaupun hanya aku lirik sekilas?

Bagaimana kalau orang tersebut dapat merengkuhku, untuk menenangkan ramainya isi kepalaku?

Bagaimana rasanya, kalau aku membiarkan diriku rapuh di depannya?

Apakah dia akan tetap menerima rapuhku?

Lalu, pertanyaan itupun semakin meluas,

Apakah orang tersebut berani untuk mengakui perasaan kasihnya terhadapku?

Apakah orang tersebut berani untuk berhenti berpura-pura dan dengan nyata hadir untukku?

Comments