Have you ever watched Twilight: Breaking Dawn where Bella got pregnant and gave birth to a daughter?
Sebelum punya anak, aku melihat adegan Bella hamil dan melahirkan itu biasa aja.
Setelah aku mengalami sendiri -hamil, melahirkan, menyusui, ternyata... like it or not, janin itu emang parasit di tubuh ibunya.
They grow inside the womb, getting nutritions from their mother. In the other hand, the mother, should consume more nutritions than before. Kalau engga, janinnya akan mengambil nutrisi dari cadangan yang dimiliki ibunya.
Ketika udah melahirkan, hormon ibu juga tidak akan stabil. Secara fisik akan terlihat kehilangan pesonanya, secara mental juga babak-belur, ditambah karena kurangnya jam tidur akibat bayi yang setiap harinya memerlukan susu setiap 2 jam sekali dan ganti popok setiap 4 jam sekali. Ringkasnya, nurturing a baby is HARD, sampai si ibu memang tidak sempat merawat diri semaksimal mungkin. Makanya, membesarkan anak itu dianggap seperti seekor induk flamingo yang kehilangan warna pinknya selama membesarkan anaknya.
Bayi yang sudah lahir kemudian akan mendapatkan ASI dari ibunya. Katanya, tidak ada yang bisa menggantikan manfaat ASI. Anak yang diberikan ASI akan mempunya imun yang lebih kuat, bonding yang lebih erat dengan ibunya, dan lain-lainnya. Another things sering terlupakan... ASI berisi berbagai vitamin dan kandungan manfaat lainnya dari tubuh ibunya, dengan kata lain.. jika ibu tidak konsumsi makanan sehat ataupun tambahan vitamin, maka kalsium akan diambil dari kalsium ibunya, dan seterusnya.
I was a monster when I breastfed my 1st born. Gigi bungsuku patah dan gigiku yang lainnya terasa sakit, badanku pegal linu, rambut rontok, dan wajah yang dipenuhi jerawat. Padahal, aku sama sekali tidak pernah punya masalah pada gigi sebelumnya. Rambutku juga sangat halus, tebal, dan terawat. Apalagi wajahku, aku nggak pernah merasakan masa wajah penuh jerawat seumur hidup.
Drama lainnya adalah... aku terkena mastitis di payudaraku yang berakhir abses (muncul nanah) sebesar bola pingpong di 2 titik. Penyebabnya adalah karena disaat menunggu panggilan dokter anak, bra yang aku kenakan menjadi kesempitan karena aku belum pumping. Benjolan tersebut muncul di garis bra yang menekan ke arah payudaraku. Rasanya? SAKIT BANGET, GILA. Aku demam 39° selama berhari-hari, badanku terasa melayang, keringat dingin, payudaraku terasa keras seperti batu, dan aku hanya bisa menangis menahan sakit setiap menyusui anakku atau ketika aku pumping. Benjolan berisi nanah itu akhirnya pecah sendirinya, dan ASI yang keluar dari hasil pumping tidak aku berikan ke anak karena takut tercampur nanah. Aku menangis lagi, melihat ASI yang begitu banyaknya harus rela aku buang karena takut tercampur nanah. Bahkan, karena mastitis dan abses tersebut, aku sempat trauma memakai bra selama hampir 2 bulan. Aku rela hanya diam di rumah, asal tidak harus pakai bra.
Ibuku saat itu tidak bisa membantu banyak, karena mastitis emang harus disembuhkannya seperti itu (dikeluarkan terus ASI-nya). Beliau hanya membelai lembut kepalaku, memelukku, dan bilang, "sabar, sayang... ini memang rasanya menjadi seorang ibu."
Sejak aku melahirkan... I changed into a person I didn't know. It takes time for me to accept and make peace with my body and soul after being a mother.
Sejak aku melahirkan... aku juga dilahirkan kembali, menjadi seorang wanita yang aku nggak tau ternyata ada di dalam diriku. Wanita ini jadi punya kulit wajah yang sensitif, sangat empati, penyayang, lemah lembut, bisa tahan tidak tidur 24 jam penuh setelah bekerja shift karena harus lanjut mengurus anaknya, tidak akan mengeluh jika sakit ringan, berubah menjadi tekun padahal dulu lebih banyak cerobohnya. Aku perlahan mulai berkenalan dengan wanita ini, menerimanya.
Aku berhasil membesarkan anak pertamaku menjadi anak yang pengasih, lemah-lembut, sopan-santun, walaupun sangat petakilan. Aku nggak nyangka, aku berhasil membesarkan anakku seperti yang aku bayangkan selama ini. Saking lembutnya anakku, dia akan memeluk dan menghiburku jika melihat aku menangis.
"Mama, jangan nangis..." katanya sambil memelukku.
Seiring anak pertamaku tumbuh-kembangnya sempurna, cantik, sehat... seiring itu juga aku mulai mendapatkan warna pink flamingo-ku lagi. Namun, aku kembali hamil. Aku sangat takut aku akan kembali mengulangi semuanya lagi, aku belum siap menjadi ibu untuk yang kedua kalinya. Belum lagi, perasaan aku tidak bisa mengandalkan pasanganku saat itu, karena biar bagaimanapun... aku menjadi tidak terawat, aku merasa sendirian, dan aku merasa aku harus bertahan setidaknya demi anakku, bukan demi diriku sendiri.
I'm now 4 months post-partum, and my hormonal changes are SCARY. I thought this will be the same as my 1st born, however, I was WRONG. Kata orang, beda wanita, beda pengalaman menjadi ibu. Nyatanya, bahkan dalam 1 wanita, bisa merasakan perbedaan pengalaman menjadi ibu. Kali ini dramaku adalah rambut yang rontok banget, sampai pada tahap udah keliatan area-area botak, dan aku rasa aku bisa membuat wig dari kerontokan rambutku ini.
Lalu juga, tangan kananku saat ini sedang sakit. Kena di syaraf, terasa kebas, kesemutan udah berhari-hari, dan ini udah hari ke-4. Dokter pun memaklumi hal ini, karena aku bekerja dan banyak mengetik lewat laptop, memegang hp, tangan ketindihan saat pose menyusui, menggendong anakku, membawa barang bawaan berat, dan mungkin juga sikutku pernah kepentok.
Namun, ternyata, kali ini, aku bisa lebih pintar menjadi ibu. Aku tidak lagi panik, menyusui anakku terus-terusan sehingga berat badannya naik dengan cepat, aku sangat menjaga diriku supaya tidak terkena mastitis lagi, memakai set perawatan wajah yang cocok untuk kulit sensitifku agar tidak jerawatan lagi, dan juga aku konsumsi berbagai jenis vitamin untuk kestabilan diriku. Aku sudah kembali bekerja setelah cuti hanya 1 bulan, aku mengurus bayi baru lahir, dan juga membesarkan anak pertamaku yang sudah 4 tahun... untuk bisa optimal, aku juga harus menjaga diriku sendiri.
Aku juga nggak menyangka, didikanku pada anak pertamaku, membuatnya menjadi seorang kakak yang peduli pada adeknya. Mungkin ada rasa iri, namun dia tidak melukai adeknya. Alih-alih, dia sangat lembut pada adeknya. Dia sering mencium, membelai, menggendong, memeluk, menghibur adeknya tanpa aku minta. Justru, terkadang aku harus menghentikan aksinya, karena dia terlalu gemas pada adeknya, sehingga misalnya, ciumannya suka sampai berbekas merah di pipi adeknya.
Aku kini paham, you can't pour a water from an empty cup. Artinya, aku harus membahagiakan, merawat, mencintai diriku sendiri dulu, baru aku bisa membahagiakan, merawat, dan mencintai anak-anakku. Setelah menjalani hari-hariku sebagai ibu dengan anak bayi lagi... sekarang aku nggak takut apabila aku hamil dan mempunyai anak lagi. Namun, harapanku kini, aku akan mempunyai anak dari orang yang sangat mencintaiku, yang nggak akan tega menyakitiku, membentak, memukul, atau memakiku. Someone who has a bigger heart than mine, who also will accept me and my kids, love them as much as I love them.
Sebuah kesadaran lainnya...
Kasih sayang, intonasi lembut, tata krama, disiplin yang tertata, ternyata lebih powerful dibandingkan emosi yang meluap tidak terkontrol. Tidak agresif adalah kunci membesarkan anak supaya tidak reaktif.
Wah, gila sih...
Aku yang sering kesandung kaki sendiri, jalan nabrak meja, lemot, ternyata bisa juga memandikan bayi dan membesarkan anak dengan penuh kasih.





Comments
Post a Comment