"Maaf, Papa nggak bisa seperti papa lain yang bisa menasehati anaknya," kata papaku seminggu yang lalu.
Aku nggak pernah menuliskan tentang ayahku sama sekali di blog ini, dan sekarang aku akan menuliskannya khusus untuk beliau.
Mungkin, selama ini aku nggak pernah bercerita tentang beliau karena aku merasa kurangnya keterikatan emosional dan merasa "tidak diurus, tidak disayang."
Tapi aku salah.
Papa yang merawatku, membesarkanku, mengurusku... ternyata sangat sayang sama aku.
Beliau adalah orang lapangan (seperti mamaku), mereka berdua adalah seorang insinyur untuk berbagai proyek konstruksi. Tipikal orang teknik, papaku teramat sangat cerdas, disiplin, di masa mudanya katanya cenderung tegas, berbakat dalam bidang musik, lukisan beliau juga bagus banget, dan gambar konstruksi beliau juga sangat bagus. Aku ingat, di masa kecil, aku sangat ingin menjadi seorang arsitek seperti kedua orang tuaku.
Hobinya papa adalah minum kopi hitam dan harus selalu tersedia rokok. Lupa makan nggak masalah, tapi kopi dan rokok nggak akan pernah lupa. Kalau aku bepergian, aku akan selalu membawakan kopi untuk beliau.
Aku teringat sewaktu kecil, papa suka membuatkanku nasi goreng. Aku suka banget nasi goreng buatan papa, dulu aku hampir tiap hari banget minta dibuatkan itu. Walaupun sayang, papa kini sudah nggak bisa memasak lagi. Masakan papa enak semuanya, walaupun kadang mama suka marah-marah karena katanya rasa MSG-nya terlalu kuat. Hahahahaha.
Papa senang membelikanku donat, mie ayam keriting Pujo yang terkenal banget di Benhil, dan cakue Medan. Tipikal orang tua pada umumnya, jika anaknya bilang "aku suka," maka jajanan itu akan dibelikan dalam porsi yang besar dan bisa selama seminggu dibelikan makanan yang sama.
Ketika papa sudah tidak jadi orang lapangan, papa bekerja di salah satu kantor di area Gatot Subroto. Bisa dibilang, kantornya dulu adalah area bermainku karena hampir setiap hari aku selalu main ke sana. Waktu aku 2-3 tahun, aku samar-samar ingat pernah diletakkan di atas meja di dalam ruang meeting di kantornya dan menjadi pusat perhatian oleh papaku dan teman-temannya.
Aku nggak ingat apakah papa pernah menggendongku, tapi aku menyadari... gap usia yang sangat jauh membuat aku sadar bahwa keterbatasan fisik dan usianya, serta badanku yang bongsor nggak akan bisa menggendongku bahkan di usia SD.
Aku diajarkan bermain alat musik waktu SD, menggambar, berhitung oleh beliau. Bahkan beliau selalu mengajariku hingga aku SMA, ketika aku kesulitan mempelajari kalkulus. Bagiku, papa memang teramat sangat pintar. Beliau mampu menjelaskan kalkulus sebagai hal sederhana yang mudah diselesaikan dan aku jadi menyukai kalkulus, hingga pada tahap aku mampu mengajarkannya ke teman-temanku juga. Aku jago gambar karena aku selalu termotivasi aku harus bisa menggambar sebagus mama dan papaku. Peralatan gambarku dulu juga bagus, bukan tipikal yang dipakai anak sekolahan. Tapi, peralatan gambarku adalah hasil pemberian mama dan papa, yang sebenarnya untuk pekerjaan mereka. Aku ingat, di saat anak lainnya hanya pakai pensil mekanik senilai belasan ribu, pensil mekanikku adalah yang terbagus dan termahal, karena aku hanya perlu mengambil 1 buah dari puluhan pensil mekanik orang tuaku. Pulpen, penggaris, penghapus, pensil warna, bahkan jangka pun selalu diberikan yang terbaik dari inventaris mereka. Awalnya, aku memang nggak ngerti kualitas dan harga ATK yang mereka berikan padaku, hingga saat dewasa akhirnya aku pergi ke toko buku untuk beli ATK seperti yang aku pakai saat kecil. Itulah masa aku baru paham, "gilaaa, aku waktu SD punyanya emang merk dan tipe yang dipakai untuk arsitek. Mahal banget, ya Allah." (Dan ironisnya, emang ada harga ada kualitas ðŸ˜)
Ponsel pertamaku juga dibelikan oleh papa, dan beberapa ponsel lainnya juga dibelikan papa. Ada suatu waktu, beberapa kali, ketika secara random beliau menghadiahkan aku ponsel baru. Tidak perlu selalu saat aku ulang tahun, tapi tiba-tiba papa akan menyerahkan tas kertas yang isinya seperangkat ponsel baru.
Oh, iya. Di masa pensiunnya... papa hampir selalu ada untukku. Aku yang masih SD saat itu, ingat sesekali aku diantar jemput oleh beliau.
Didikan mamaku, aku harus selalu setrika baju seragamku sendiri dan mempersiapkan bekal sendiri. Makanya, aku sudah terbiasa setrika seragamku sendiri di malam hari sebelum sekolah sejak aku SMP. Kalau aku capek, aku akan setrika di keesokan paginya walaupun terburu-buru. Untuk mempersiapkan bekal pun, aku akan memanaskan sisa makan malam atau buat menu sederhana di pagi harinya.
Namun, papaku... sering sekali menjadi penyelamatku.
Di kala aku merasa capek dan belum setrika seragam di malam hari, papaku yang menyetrika seragamku. Rok lipitnya disetrika satu per satu menjadi licin dan kaku, kerah seragam yang terlihat rapih, lalu kemudian seragamnya akan digantung di kamarku. Terkadang, papa juga masak di pagi hari supaya aku hanya tinggal masukin masakannya ke dalam kotak bekalku.
Seumur hidupku...
Papa nggak pernah membentak, memukul, memakiku.
Suaranya selalu lembut.
Bahkan dibalik berbagai kesalahanku, papa nggak akan mengubah intonasinya menjadi tinggi. Justru, beliau akan bertanya dengan lembut, "ada apa? Papa kecewa sama kamu karena kamu bla bla bla, tapi it was already a past. Apa yang sudah terjadi nggak bisa diubah. Sekarang fokusnya ke depan aja."
Rumah tangga mama-papaku memang hancur, kisah asal-usulku juga seperti sinetron, tetapi aku nggak pernah merasakan kekurangan kasih sayang. Bahkan, aku sangat disayang. Selama ini, aku hanya melihat diriku sebagai korban, namun seiring dewasanya aku... aku sadar, aku bukan korban. Aku yang cantik, disiplin, ceroboh, cerdas, pemberani adalah hasil kasih sayang mama-papaku.
Setelah aku bekerja aku berusaha membuat papaku bangga, berbuat sebisaku untuk membantunya. Di depanku, dari kantor pertamaku dulu hingga sekarang, papa akan selalu bilang, "ngapain kamu kerja di sana? Emang ada jenjang kariernya? Kerjaan kamu kan cuma gitu aja, ilmu kamu ga ada yang kepake dong."
Tapi dibalik itu semua.... papa membanggakanku ke semua orang. Beliau seperti anak kecil yang memamerkan aku membelikan beliau ponsel, televisi, mengajak aktivitas a-z, pokoknya apapun yang bisa dipamerkan tentang aku. Papa bangga sama aku.
Aku adalah anak bungsu yang tidak merasakan masa jaya mama dan papaku secara optimal, tapi mereka selalu berusaha memberikanku segalanya, apapun, yang terbaik.
Kini, kondisi kesehatan beliau sekarang sudah berubah drastis karena faktor usianya. Di saat aku fase persalinan beberapa bulan lalu, papaku yang tinggal sendiri tiba-tiba drop dan terdapat penyumbatan di kepalanya. Papa terkena demensia dan kini harus selalu ditemani oleh perawat profesional. Suara papa semakin tidak terdengar jelas, caranya beliau komunikasi sudah tidak dapat dipahami jika tidak fokus mendengarkannya.
Harapanku kini cuma satu...
Ketika aku sudah bersama seorang pria lagi, aku mau bisa mengenalkan calon pasangan hidupku ke papaku.
Aku mau papaku tau bahwa anaknya kali ini akan diperlakukan dengan penuh kasih seperti beliau selama ini mengasihiku.
Ketika aku merasa aku adalah korban, aku membuat keputusan-keputusan bodoh.
Kini, aku menyadari kebodohanku dan nggak akan mau mengulanginya. Aku akan memilih pria yang nggak akan tega membenakk, memukul, dan memakiku, sama seperti papaku. Aku akan memilih pria yang tiba-tiba menjadi penyelamatku tanpa aku minta, sama seperti papaku.
Pesan papaku di suatu waktu, "papa mau bilang kalau mama itu sangat sayang sama kamu. Mama rela berantem sama siapapun untuk kamu. Kamu bisa secantik ini karena dirawat. Jangan buat mama sedih. Kamu harus bisa jaga mama."
Comments
Post a Comment