Dulu dan sekarang, aku masih benci musim hujan. Mungkin kalau aku tinggal di tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota, aku akan suka musim hujan. Atau mungkin, apabila aku tinggal di kota yang mempunyai trotoar ramah pejalan kaki dan transportasi umum yang rapih, aku juga akan suka musim hujan.
Aku sekarang sudah tidak tinggal di Jakarta, namun aku masih bekerja di kota ini. Hari-hari aku lalui dengan kemacetan jalanan, trotoar yang berantakan, dan transportasi umum yang tidak jelas waktunya. Jakarta bukan untuk semua orang. Berlari kejar-kejaran dengan kereta atau bus, antrean yang tidak teratur, bisa menunggu 2 jam sendiri untuk bus tujuan kita sampai di halte, polusi yang menghiasi langit, tas kerja yang berat, berdesakan di dalam transportasi publik, duh, pokoknya adrenalin cukup terpacu setiap harinya. Di Jakarta, kami dilatih untuk bertahan hidup.
Apalagi ketika sudah memasuki musim hujan seperti sekarang. Entah sudah berapa kali aku batuk, pilek, radang selama musim hujan yang baru beberapa hari ini. Kondisiku yang merupakan seorang ibu menyusui, karyawan swasta dengan jam kerja tidak menentu, dan mempunyai mobilitas tinggi tentu saja membuat imunitas tubuhku rentan.
Aku baru saja menaiku bus yang sudah kutunggu selama hampir 2 jam. Hujan, macet, sore, Jakarta. Sebuah kombo uji mental.
Comments
Post a Comment