Aku benci banget kalau harus marah-marah.
Aku benci banget kalau harus membentak, memaki, dan mencaci orang lain ketika bertengkar.
Aku benci pertengkaran.
Aku benci ketika aku berbicara dengan intonasi biasa aja, malah dibalas dengan ledakan emosi.
Aku benci ketika aku mati-matian berusaha kontrol diriku supaya nggak termakan oleh ego dan emosi.
Aku benci ketika harus berusaha tetap waras menghadapi orang yang tidak waras.
Aku benci ketika lawan bicaraku malah merendahkanku ketika aku berusaha menjaga emosiku tetap stabil.
Aku benci ketika energiku terkuras habis untuk menghadapi orang seperti itu.
Aku benci ketika suaraku berubah menjadi serak karena aku harus membalas orang itu, demi harga diriku dan anak-anakku.
Aku benci merasakan pacuan jantung yang berdegup kencang karena emosi.
Aku benci ketika aku mulai merasakan pusing setelah tidak berhasil kontrol diri sendiri.
Aku benci ketika aku harus melakukan kekerasan fisik, walaupun sebagai pembelaan.
Aku benci ketika orang itu berani menjadikan aku dan anak-anakku sebagai samsak hidup.
Aku benci ketika aku harus melatih tonjokanku dan tamparanku untuk orang itu.
Aku benci merasakan penyesalan karena aku tidak berhasil kontrol diri.
Aku benci ketika aku mulai berpikir, "kalau aku mati, orang itu juga harus mati."
Aku benci memikirkan untuk menjadi pembunuh, asal bukan aku atau anakku yang terbunuh.
Comments
Post a Comment