Apa kamu selalu percaya jika kita selalu diberikan kesempatan oleh Tuhan?
Apakah aku layak diberikan kesempatan?
Apakah kamu layak diberikan kesempatan?
Apakah kita berani ambil resiko daripada tidak sama sekali?
Apa kamu berani maju untukku? Untuk kita?
Apa kamu pernah terpikirkan satu kali saja, apakah semua ini layak dicoba?
Apa kamu merasakan jika kita masih berputar satu sama lain?
Apa kamu pernah merasa, jika memang kamulah yang terbaik untukku dan bisa membuatku bahagia?
Apa kamu tau, Tuhan selalu mengabulkan doa-doaku setiap aku menyebut namamu di ibadahku?
Apa aku adalah "bagaimana jika"-mu?
Sekali lagi, apa kamu tidak mau mencoba maju?
Apakah kamu merindukanku seperti aku merindukanmu?
Apakah yang aku rasakan adalah sosok dirimu dulu?
Apakah yang aku rasakan adalah sosok dirimu sekarang?
Apakah aku sangat menginginkan kita di masa ini?
Apakah kamu membayangkanku dalam jangkauan tanganmu?
Apakah kamu mengharapkan, walau hanya sebersit, aku terbangun di sisimu setiap harinya?
Apakah aku mau menatapmu setiap harinya?
Apakah aku mampu menghadapimu dengan seluruh perasaanmu?
Apakah kita bisa menyelesaikan konflik dengan tenang tanpa perlu saling menyakiti?
Apakah kamu akan tega terhadapku?
Apakah aku akan tega terhadapmu?
Apakah kamu membayangkan kita di masa depan, dengan wajahku yang mengeriput dan rambutku yang berubah putih?
Apakah aku masih bisa melihat lesung pipimu walaupun wajahmu sudah mengeriput?
Apakah aku mau kita seumur hidup bersama?
Apakah kamu mau kita seumur hidup bersama?
Atau memang...
Apa aku hanyalah orang yang tidak berarti bagimu?
Apa aku hanyalah satu dari sekian wanita yang berlalu lalang pada hidupmu?
Apa peranku dalam hidupmu?
Apa artiku dalam hidupmu?
Aku sangat ingin mendengar seluruh jawaban ini dari mulutmu, sama seperti kamu ingin mendengar jawabanku.
Tapi, aku nggak ingin menuntutmu atau memaksamu.
Aku hanya akan berdiam, seperti biasanya selama ini. Mungkin, dalam diamku, aku akan pergi meninggalkanmu lagi atau kali ini aku akan menunggumu. Entahlah.
Bahkan dalam diamku, kamu selalu tau aku. Karena dengan diamku dan lirikan mataku, kamu langsung mengatakan permintaan maaf.
Dalam diamku, kamu memahamiku. Dengan diamku, aku memahami ruang dirimu yang terbebas dari tuntutan dan paksaan.
Namun, aku rasa... akupun berhak bahagia.
Walaupun aku bahagia bersamamu. Amat sangat bahagia, hingga aku mampu menjadi versi terbaik diriku bersamamu.
Namun, bahagiaku juga pasti ada di tempat lain, pada sosok lain. Entah kapan dan siapa.
Selama ini, aku mungkin hanya terlalu mencinta sendiri, entahlah. Tapi, akupun juga paham bagaimana dicinta walaupun tanpa seucap kata keluar dari mulut. Mungkin, inilah alasanku masih di sini: karena aku dicintai, dan aku menunggu kalimat itu terucap langsung entah dalam lirih ataupun lantang. Eyes and actions don't lie -I see actions, not words.
Hehe. Aku mungkin memang terlalu mencinta sendiri.
I love you then, I love you now.
It aches when you love someone but you can't fully express your affection deeply directly to that person.
It aches.
It aches.
It aches.



Comments
Post a Comment