Skip to main content

How a Thing Ended

a convo that ended thing:
Kalau gue bisa mencintai sedalam itu, maka ada cowo yang bisa mencintai gue sedalam itu juga.

Kalau gue gak terbiasa memaki ataupun berteriak saat sebal, maka akan ada cowo yang kaya gitu juga ke gue.

Kalau gue gak bisa membentak, maka gue juga pantas untuk nggak dibentak.

Kalau gue terbiasa berbicara lembut, maka ada cowo yang berbicara lembut ke gue.

Gue gatau siapa, kapan, dan di mana... tapi yang jelas, cowo itu ada. Cowo dengan sifat-sifat itu ada. Karena gue pun ada. Jadi harusnya ada gue dalam versi cowo. Gue pantas mendapatkan cinta seperti itu.

Tentu, pasti nanti gue akan berantem sama cowo itu. Saling mengecewakan, buat sebel. Tapi gue rasa, permasalahan gue dan cowo itu nggak akan toksik seperti kita.

Bahkan dulu awal kita kenal, gue pernah bilang ke lo: "kita ga akan bisa ngomong aku-kamu. Bagi gue, itu adalah tutur bahasa sopan, menghargai, halus, dan penuh makna. Gue gak mau, ketika kita lagi berantem, dari yang awalnya aku-kamu, jadi gue-lo. Gue sama mantan gue pun, sampai sekarang masih ngomong aku-kamu, karena basicnya sudah jadi menghargai satu sama lain. Sementara sama lo, gue tau lo ga akan bisa nahan emosi lo." Inget, kan? Harusnya kalo memang lo cinta sama gue, lo akan mikir, 'oh, Nita gasuka emosian, ya. Oh, Nita itu lembut. Oke, gue akan berusaha ga sakitin dia.' Tapi, apa pernah lo terpikir kaya gitu?

Mungkin... emang bukan gue orangnya untuk lo. Karena, lo nggak bisa berubah untuk gue. Kalau cowo cinta sama cewe, cowo itu akan berubah sendiri untuk cewe itu. Pasti ada cewe yang akan membuat lo mikir, untuk nggak akan kasar lagi, menjaga tutur kata dan tingkah lo, supaya nggak sakitin cewe itu. Sederhananya, lo akan memantaskan diri demi cewe itu.

Gue capek banget, setiap tahunnya selalu memaafkan lo, tapi juga was-was, "gue harus dihadapkan apa lagi? Kejutan apa lagi yang akan lo buat?"

Okelah, kita sama-sama tau, kalau cinta yang ada di hati kita bukan untuk satu sama lain. Tapi, gue rasa gue bisa hidup berdampingan jika ada rasa percaya dan saling menghargai. Nah, cuma, yang gue dapat selama ini sejak 2019 kan nggak seperti itu. Jadi... gue rasa, udah cukup. Gue gak bisa seumur hidup seperti ini.

Gue mau kita pisah, mumpung kita masih muda. Gue mau bisa punya anak lagi dari cowo yang cintanya memang untuk gue, yang sayang dan bisa menghargai gue, seumur sehidup semati dengan cowo itu. Lo, cowo, mau sampai umur berapa pun bisa membuahi cewe untuk hamil. Sementara gue adalah cewe, waktu gue terbatas, walaupun gue masih punya 12-13 tahun usia produktif untuk punya anak. Makanya, semakin kita cepat pisah, akan semakin besar peluang gue bisa bertemu cowo itu.

Banyak orang yang bilang untuk mikirin anak-anak di saat gue bilang mau pisah. Tapi... kenapa harus gue yang mikirin? Kenapa cuma gue? Kenapa lo nggak? Kalo lo mikirin... lo nggak akan berbuat semena-mena yang bisa mengancam hubungan kita. Anak-anak akan tau alasan kita berpisah suatu hari nanti, mereka berhak tau.

****

Lega banget waktu itu, di suatu malam bisa berbicara serius tatap mata dan ternyata bisa menyampaikan gini :')

Comments

Popular posts from this blog

Pancasila, Nasionalisme, dan Eyangkung

Mungkin Eyangkung (Eyang Kakung, Kakek dalam bahasa Jawa) benci disebut-sebut sebagai pahlawan. Tapi, memang kenyataannya begitu. Tidak akan ada Indonesia tanpa Eyangkung dan para pahlawan yang lain. Eyangkung saya bernama Eyang TK, beliau lahir di Solo pada 17 Agustus 1919. Eyangkung bersekolah di Neutrale H. I. S Solo dan beliau berprestasi di sekolahnya. Karena prestasi itulah beliau dibebaskan dari les persiapab masuk M. U. L. O. dan pada akhirnya beliau berhasil masuk tanpa melalui tes ujian masuk. Sebagai cucu kesekian, saya sangat bangga mempunyai sosok Eyangkung. Karena beliau, saya selalu bersumpah akan membawa nama baik keluarga. Saya nggak mau menjelekkan nama baik keluarga besar, saya nggak mau dibilang, "cucu pahlawan kok seperti itu?" (Walaupun saya ini memang tergolong bandel sih, cuma bandelnya masih sebatas wajar). Walaupun beliau wafat setahun sebelum saya lahir, banyak cerita yang sudah saya dengar maupun foto-foto beliau yang saya lihat.  Dari yan...

What I Like

Di suatu malam minggu yang membosankan, gue galau karena hujan yang turun dengan perasaan php yang membabi buana. Hujan turun, berenti, turun, berenti. Ngga jelas maunya apa. Malam itu gue pun dengan isengnya membuka Youtube dan menonton Malam Minggu Miko buatan Raditya Dika. Gue pun ngakak sendirian nontonnya. Ehh, selesai nonton kedua episode, gue iseng juga nonton video Raditya Dika lagi Guitar Drifting. Anjaaaay, itu keren bangeeetttt !!! Persis kaya di August Rush, bedanya Freddie Highmore lebih ganteng tentunya. Tapiii, itu gue baru tau kalo itu namanya Guitar Drifting!! :O Gue pun browsing tentang guitar drfiting. Dan gue tertarik sama aksinya Andy McKee yang aseli kerennya kebangetan. Ohhh, gue aja main gitar masih belepotan. Gimana mau nyoba guitar drifting coba.... Check these video and you'll be amazed... Art of Motion - Andy McKee Rylnn - Andy McKee Selain Andy McKee, ada Depapepe, duo Jepang yang OHMIGOT. Mainnya keren banget. Gue ngga tau mer...

A Woman Called Nadia

Andaikan Nadia adalah seorang pria, aku sepertinya akan memilih untuk menikah dengannya. Sayangnya, Nadia adalah seorang wanita, sahabatku sejak masa kuliah. Aku pernah beberapa kali menulis tentang dia dan sahabat-sahabatku yang lainnya, namun, seiring bertumbuh dewasa aku, hanya Nadia yang lebih konsisten hadir di hidupku dalam berbagai fase. Aku nggak pernah menyangka, aku bisa terus bersahabat dengan Nadia hingga selama ini, bahkan sampai pergi berlibur bersama dan menginap. Nadia adalah sahabatku, malah mungkin sudah seperti saudaraku sendiri. Senang. Sedih. Marah. Bingung. Kecewa. Takut. Khawatir. Semangat. Tertarik. Kami sama-sama selalu hadir dengan berbagai perasaan yang ada di diri kami, dengan itu kami tumbuh dan berkembang bersama. Mulai dari suka dan duka, kami terus saling mendampingi satu sama lain. Nadia tau seluruh ceritaku dan perilakuku, dan begitupun sebaliknya. Kami adalah yin-yang, jungkat-jungkit, ontang-anting yang selalu melengkapi satu sama lain. Aku nggak per...

Bookaholic

My name is Nita. I'm a bookaholic. I can read thousands of books in a day. My eyes would be so green if I see lots of books. My imagination is in high level. And I live with an optimistic because I hope... I'll find my Happy Ending one day. I love reading novels. Horror, Sleuth-ish, Romantic, everything as long as the book is good. Beside that, I wanna be a writer. A bright future novelist. A famous author. Suatu hari di Gramedia Grand Indonesia, dengan berbagai macam buku yang pengen dibeli... Tapi cuma dibolehin ambil 2 sama Mama. T-T Dari sekian banyak novel yang dibaca, gue itu suka dengan karya-karyanya Trenton Lee Stewart di seri Mr. Benedict Society yang tebal bukunya bisa 500-an. Ceritanya TOP banget, seru, buat gregetan, dan sktech nya juga bagus..... -_- Terus ada juga Meg Cabot, an author who made Princess Diaries. Cerita buatan beliau memang 'terlalu' Barat, tapi karyanya tetap jadi andalan untuk gue. Sedangkan dari negara kita sendiri juga ada ...

Worthy Soul

I like deep hugs. I like holding hands. I like unexpected kisses. I like to be clingy. I want it everyday. I want to be loved, seen, heard, wanted, and needed. I want intimacy, connection, feeling warm and safe. I want a bond, soul to soul. A real love. Not a lust. I was kissed and hugged by love, several times, years ago in juvenile times. I was kissed and hugged by lust, several times in adult times. They longed for more hugs and kisses, they craved me. Some came from the intimacy and connection built in trust and affection, the rest... came from lust. As a lover woman, I know the difference, I could feel it... and I hate how lust could tainted the intimacy, connection, and the bond of souls. I hate how lust could made it as if an assault where I was only an object, not a subject. I hate how intimacy and connection eventually could became a lust. I miss to feel the sacred of love, where it overflows with intimacy and connection. Where eyes could speak to another eyes, without needing...