a convo that ended thing:
Kalau gue bisa mencintai sedalam itu, maka ada cowo yang bisa mencintai gue sedalam itu juga.
Kalau gue gak terbiasa memaki ataupun berteriak saat sebal, maka akan ada cowo yang kaya gitu juga ke gue.
Kalau gue gak bisa membentak, maka gue juga pantas untuk nggak dibentak.
Kalau gue terbiasa berbicara lembut, maka ada cowo yang berbicara lembut ke gue.
Gue gatau siapa, kapan, dan di mana... tapi yang jelas, cowo itu ada. Cowo dengan sifat-sifat itu ada. Karena gue pun ada. Jadi harusnya ada gue dalam versi cowo. Gue pantas mendapatkan cinta seperti itu.
Tentu, pasti nanti gue akan berantem sama cowo itu. Saling mengecewakan, buat sebel. Tapi gue rasa, permasalahan gue dan cowo itu nggak akan toksik seperti kita.
Bahkan dulu awal kita kenal, gue pernah bilang ke lo: "kita ga akan bisa ngomong aku-kamu. Bagi gue, itu adalah tutur bahasa sopan, menghargai, halus, dan penuh makna. Gue gak mau, ketika kita lagi berantem, dari yang awalnya aku-kamu, jadi gue-lo. Gue sama mantan gue pun, sampai sekarang masih ngomong aku-kamu, karena basicnya sudah jadi menghargai satu sama lain. Sementara sama lo, gue tau lo ga akan bisa nahan emosi lo." Inget, kan? Harusnya kalo memang lo cinta sama gue, lo akan mikir, 'oh, Nita gasuka emosian, ya. Oh, Nita itu lembut. Oke, gue akan berusaha ga sakitin dia.' Tapi, apa pernah lo terpikir kaya gitu?
Mungkin... emang bukan gue orangnya untuk lo. Karena, lo nggak bisa berubah untuk gue. Kalau cowo cinta sama cewe, cowo itu akan berubah sendiri untuk cewe itu. Pasti ada cewe yang akan membuat lo mikir, untuk nggak akan kasar lagi, menjaga tutur kata dan tingkah lo, supaya nggak sakitin cewe itu. Sederhananya, lo akan memantaskan diri demi cewe itu.
Gue capek banget, setiap tahunnya selalu memaafkan lo, tapi juga was-was, "gue harus dihadapkan apa lagi? Kejutan apa lagi yang akan lo buat?"
Okelah, kita sama-sama tau, kalau cinta yang ada di hati kita bukan untuk satu sama lain. Tapi, gue rasa gue bisa hidup berdampingan jika ada rasa percaya dan saling menghargai. Nah, cuma, yang gue dapat selama ini sejak 2019 kan nggak seperti itu. Jadi... gue rasa, udah cukup. Gue gak bisa seumur hidup seperti ini.
Gue mau kita pisah, mumpung kita masih muda. Gue mau bisa punya anak lagi dari cowo yang cintanya memang untuk gue, yang sayang dan bisa menghargai gue, seumur sehidup semati dengan cowo itu. Lo, cowo, mau sampai umur berapa pun bisa membuahi cewe untuk hamil. Sementara gue adalah cewe, waktu gue terbatas, walaupun gue masih punya 12-13 tahun usia produktif untuk punya anak. Makanya, semakin kita cepat pisah, akan semakin besar peluang gue bisa bertemu cowo itu.
Banyak orang yang bilang untuk mikirin anak-anak di saat gue bilang mau pisah. Tapi... kenapa harus gue yang mikirin? Kenapa cuma gue? Kenapa lo nggak? Kalo lo mikirin... lo nggak akan berbuat semena-mena yang bisa mengancam hubungan kita. Anak-anak akan tau alasan kita berpisah suatu hari nanti, mereka berhak tau.
****
Lega banget waktu itu, di suatu malam bisa berbicara serius tatap mata dan ternyata bisa menyampaikan gini :')
Comments
Post a Comment